Story of Andalusia, Zaman Kejayaan Hingga Zaman Kehancuran – Part I

Story of Andalusia, Zaman Kejayaan Hingga Zaman Kehancuran – Part I

Sobat Rihaal – Allah selalu menghadirkan zaman yang berbeda di setiap periodenya. Ada zaman kejayaan dan di sisi yang lain ada zaman kehancuran. Bagaimana kejayaan dan kehancuran yang ada di negeri Andalusia? Bagaimana Islam pernah jaya di negeri Andalusia? Mari kita simak bersama…

Zaman kejayaan ditandai dengan diagungkannya syari’at Allah, pemimpin yang adil dan mesejahterakan. Juga ghirah kaum muslimin yang cukup tinggi untuk menjaga syari’at-Nya. Zaman kehancuran, tentu sebaliknya. Syari’at Allah hanya “pajangan” belaka bahkan dilecehkan. Hadirnya pemimpin yang dzalim dan serakah plus kurang adanya ghirah kaum muslimin meninggikan syari’at-Nya. Zaman itu, tentu Allah hadirkan sebagai sarana berjuang atau berjihad bagi kaum muslimin. Disinilah kita akan melihat mana yang tetap istiqamah dijalan-Nya dan mana yang tidak kuat menerima godaan dunia yang menggiurkan.

Allah berfirman : “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran : 140)

Andalusia, cukup sebagai pelajaran bagaimana Allah hadirkan kejayaan di tanah Eropa melalui tangan-tangan yang mungkin tidak terkirakan. Tujuh abad bukanlah masa yang singkat untuk membangun peradaban dan merubah “mindset” Eropa secara keseluruhan saat itu. Tahun 92 H atau 711 M di masa kekhilafahan Muawiyah dimana yang menjadi Khalifah saat itu, al Walid bin Abdul Malik, mulailah ekspedisi panjang penaklukan dan menggaungkan syari’at Allah di bumi yang paling jauh. Ke utara, menyeberang Selat Gibraltar dan masuk Spanyol dan Portugis bahkan Perancis. Ke selatan, masuk pedalaman Afrika yang luas tapi sedikit penduduknya.

Andalusia yang pernah menjadi saksi kejayaan Islam di wilayah Eropa. Source : letsgotospain-event.com

Awal Penaklukan

Sobat Rihaal, mari kita buka lagi lembaran yang mencatat dialog antara Rib’i bin Amir dengan Rustum, Raja Persia sebelum terjadinya Perang Qadisiyah.

“Apa yg menyebabkan kalian datang?”, tanya Rustum.

Rib’i bin Amir menjawab, “Sesungguhnya Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang ia kehendaki dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah”.

“Apa janji Allah?”, tanya Rustum lagi.

Rib’i bin Amir menutup dialognya dengan kalimat, “Surga bagi yang gugur saat memerangi orang yang ingkar dan kemenangan bagi yang masih hidup”.

Jadi, tidak perlu diragukan lagi bahwa tujuan utama penaklukan adalah dakwah di jalan Allah. Menyampaikan syari’at Allah sejauh mungkin bumi yang bisa kita jangkau. Sebenarnya Islam masuk ke bagian utara Afrika atau tepatnya Maroko, sudah 70 tahun sebelum penaklukan, yaitu sekitar tahun 22 H (644 M). Penghuni terbesar dari bagjan utara Afrika ini adalah Suku Amaziq & Suku Barbar.

Adalah Musa bin an Nushair, seorang tabi’in, Ayahnya adalah seorang sahabat yang bernama Nushair bin Abdurrahman bin Yazid, yang saat itu ditunjuk Kekhilafahan Umawiyah untuk menjadi Gubernur di Wilayah ini. Obsesi pertama Musa bin an Nushair di bagian utara Afrika saat itu adalah ingin menegakkan pilar-pilar Islam di kawasan ini. Karena penduduknya pernah mengalami murtad dua kali.

Baca juga :

Sang Pembebas Damaskus

Ibnu Batuta : Sang Legenda Muslim Penjelajah Dunia

Ukazd, Sentral Perdagangan Zaman Jahiliyah

Diantara penyebab pergantian agama ini karena penaklukan Maroko di masa Uqbah bin Nafi’, kurang memperhatikan pendidikan keagamaan. Islam belum mapan di suatu daerah, Uqbah dan pasukannya sudah berangkat ke daerah lainnya. Selain itu keadaan bangsa Barbar di Afrika Utara yang memang mewaspadai pergerakan Uqbah bin Nafi’. Keadaan demikian menyebabkan masyarakat Maroko sering murtad setelah masuk ke dalam Islam.

Nah, belajar dari itu semua, Musa bin an Nushair berusaha menguatkan aqidah dan ‘ulumul syar’i bagi penduduk ini secara bertahap. Akhirnya didatangkanlah para masyayikh atau guru-guru dari wilayah Syam dan Madinah. Kemudian baru memetakan secara geografis wilayah mana yang bisa dilalukan ekspedisi berikutnya. Beliau sangat tertarik untuk menyeberangi selat yang kemudian disebut Selat Gibraltar. Jika memungkinkan ekapedisi akan dimulai dari wilayah ini.

Ide Penaklukan

Pasukan di masa Ustman bin Affan pernah mengepung Konstatinopel dan belum berhasil.

Ustman bin Affan berkata : “Konstatinopel hanya akan dapat ditaklukkan dari arah laut. Dan jika kalian dapat menaklukkan Andalusia, niscaya kalian akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka yang menaklukkan Konstatinopel di akhir zaman”.

Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Ekspedisi pertama ini dipimpin oleh Tharif bin Malik. Di saat yang sama, Musa bin an Nushair mengkondisikan wilayah sekitar agar tidak mengganggu misinya ini. Juga menyiapkan armada kapal yang cukup untuk menyeberangi selat yang sebenarnya terlihat jelas daratannya dari tempatnya dia berdiri.

Setelah segala persiapan cukup dan restu dari Khilafah Umawiyah didapatkan, dikirimlah Thariq bin Ziyad yang memimpin tujuh ribu pasukan. Thariq bin Ziyad inilah kader asli dari suku Barbar yang dibina khusus oleh Musa bin an Nushair sejak dia datang pertama kali di bagian utara Afrika ini.

Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin. Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.

Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin an Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya lima ribu orang.

Info Paket Umroh & Wisata

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.

Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin an Nushair bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

Andalusia, sepenggal firdaus yang pernah ada. Mengunjunginya akan membangkitkan memori kejayaan Islam dan kontribusinya bagi peradaban dunia. Rihlah Dunia, “Story of Andalusia”, akan mengajak Anda menyusuri jejak sejarah sekaligus keindahan alam dan budaya yang tidak pernah mati. Daftar langsung dan mari jelajahi bersama negeri Andalusia dengan Rihlah Dunia.

Bersambung…

Penulis : Arif Prasetyo Aji

239 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini