Sering Dikira Dongeng, Ternyata Abu Nawas Ada di Kehidupan Nyata!

Sering Dikira Dongeng, Ternyata Abu Nawas Ada di Kehidupan Nyata!

Sobat Rihaal – Selama ini kita mendengar nama Abu Nawas sebagai dongeng pengantar tidur. Abu Nawas digambarkan sebagai sosok yang lucu dengan syair-syairnya. Dikenal pula sebagai sosok yang pemberani dan cerdik. Terutama melawan pemimpin yang tidak adil dalam berkuasa di masanya.

Abu-Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami, biasanya dikenal sebagai Abu-awas atau Abu-Nuwas lahir sekitar tahun 747 M dan wafat sekitar tahun 806 M di Baghdad. Selama ini kita kenal hanya sebagai dongeng pengantar tidur.  Tapi siapa sangka ternyata Abu-Nuwas bukan hanya ada di dongeng saja. Namun Abu-Nuwas benar-benar pernah ada di kehidupan nyata. Abu-Nuwas dikenal sebagai pujangga termahsyur yang dekat dengan Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia dikenal lincah, cerdik, lucu, namun juga tegas. Terutama syair-syairnya yang banyak orang anggap rendahan namun sebenarnya memiliki makna yang mendalam akan kesedihan. Syair tentang cinta dan wanita pun tak kalah mengharukan. Meskipun Abu-Nuwas tidak banyak menulis tentang agama, namun syair karyanya mampu memberi kontribusi terhadap perkembangan sastra Islam yang cukup besar.

Baca juga : 

Marwan bin Muhammad, Khalifah Terakhir Dinasti Umayyah

Al Biruni : Ilmuan Muslim Uzbekistan yang Terlupakan

Khawarizmi : Sang Matematikawan Penemu Al Jabar dan Algoritma

Abu-Nuwas lahir dari seorang wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci wol. Setelah ayahnya meninggal, Abu-Nuwas dibawa ke Basrah. Saat di Basrah Abu-Nuwas belajar dari dua orang ahli bahasa dan sastra Arab yaitu Abu Zaid dan Abu ‘Ubaidah. Tidak hanya itu, ia juga belajar Al-Qur’an dan Hadist. Sejak kecil bakat sastra Abu-Nuwas sudah terlihat. Terlebih ia pernah satu tahun tinggal bersama suku Arab Badui untuk memperhalus pengetahuan bahasa Arabnya. Disanalah ia mulai menulis syair cinta roman yang semakin membuatnya terkenal. Abu-Nuwas juga bergabung bersama penyanyi pengembara hingga ke Baghdad. Tidak lama bagi Abu-Nuwas menjadi penyair hebat di Baghdad.

Salah satu karya Abu-Nuwas tentang pengakuan dosa. (Source : iniceritainspiratif.blogspot.com)

Abu-Nuwas pernah melantunkan puisi yang memiliki arti menghina kabilah Arab Mudar sehingga ia dimasukkan ke penjara oleh Khalifah Harun ar-Rasyid yang marah kepadanya. Banyak tema syair yang ditulis oleh Abu-Nuwas diantaranya tema pujian, satire, kehidupan zuhud, perburuan binatang buas, penggambaran khamar, wanita dan cinta, hingga sekedar lelucon senda gurau. Tidak jarang syairnya melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama. Masa muda Abu-Nuwas memang terkenal sering mabuk-mabukan. Ia sempat menulis syair bertema khamar dan memuji kelezatannya. Hingga pada masa tuanya ia bertaubat hingga di masa tuanya banyak tulisan syair yang ia buat bertema religius. Menjelang wafatnya ia menulis syair tentang taubat dan rasa penyesalan atas dosa serta kesalahan yang pernah ia buat di masa lalu.

Karya-karya Abu-Nuwas dihimpun dalam buku Diwan Abi Nuwas yang diterbitkan di Wina tahun 1855 M. Buku itu juga diterbitkan di Greifswald (1861), cetakan litografi di Kairo (1860), Beirut (1884), Bombay (1894), dan Kairo (1898 dan 1932). Tidak hanya itu, kumpulan puisi karya Abu-Nuwas tersipan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul dalam bentuk manuskrip. Abu-Nuwas meninggal di Baghdad dan makamnya hingga kini sering diziarahi orang yang kagum akan karya-karyanya. Ia dikenal sebagai penyair besar dimana karya-karyanya hampir tersebar di seluruh penjuru perpustakaan di dunia dan dipelajari oleh banyak orang.

Artikel ini ditulis berdasarkan sumber buku Ensiklopedia Peradaban Islam Baghdad oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Tim TAZKIA.

Info Paket Umroh & Wisata

133 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini