Reaksi Kaum Muda Arab Terhadap Krisis COVID-19 Melalui Seni

Reaksi Kaum Muda Arab Terhadap Krisis COVID-19 Melalui Seni

Sobat Rihaal – Semuanya seakan berubah saat pandemi coronavirus (COVID-19) mewabah ke seluruh penjuru dunia. Kemanusiaan menghadapi krisis global terbesar sepanjang sejarah. Kini, kita menghadapi berbagai keadaan yang dulunya terasa mustahil dan kita pun terpaksa terkaget-kaget akan berbagai hal yang mendadak menjadi terbalik.

Krisis yang terjadi saat ini telah membuat perubahan pada cara masyarakat dunia menjalankan kehidupan sehari-hari. Bahkan, saat ini orang-orang tidak dapat lagi menunjukkan cinta, belas kasih, dan solidaritas karena adanya kewajiban untuk melakukan physical distancing yang membuat satu sama lain terasa saling menjauh.

Reaksi Seniman Arab Akan Fenomena Ditutupnya Masjid

Adanya perubahan yang terjadi akibat dampak dari COVID-19 ini membuat para Seniman Arab menggunakan bakat mereka dengan berbagai cara untuk meningkatkan koneksi komunitas, menyebarkan kesadaran, menyatakan penghargaan dan mendokumentasikan sejarah.

Gambar: Artis Saudi Lina Amer menggunakan kemampuan seninya untuk mengekspresikan rasa sedih umat Muslim di seluruh dunia yang tidak dapat mengunjungi masjid karena COVID-19. Dia menunjukkan gambar karpet masjid yang dicetak di dalam hati manusia untuk menggambarkan kerinduan umat Muslim terhadap masjid dan kegiatan berjamaah bersama.

Seniman asal Saudi, Lina Amer, menghasilkan karya seni untuk mendokumentasikan efek COVID-19 yang mengakibatkan umat muslim di seluruh dunia tidak bisa melakukan shalat berjamaah di masjid. Hal ini merujuk pada kondisi di negaranya, Arab Saudi, yang kini menutup masjid untuk kegiatan sholat berjamaah lima waktu dan juga Sholat Jumat. Oleh karena itu Lina Amer menggambarkan karpet doa masjid yang dicetak di hati manusia dengan tulisan “Berdoa di rumah, Maret 2020.”

Di seluruh negara Muslim, seruan untuk berdoa pun telah banyak yang berubah, muazin kini harus mengganti bagian kedua dari adzan – “Hayya Alasalah” (datang ke mushola/masjid), menjadi “shalat di mana anda berada,” atau “shalat di rumah.

Menyemangati Para Mempelai yang Harus Menunda Pernikahan

Sementara itu, Asma Khamis (@a0sma.k), seorang pelukis dan desainer grafis Oman, memilih untuk mengirim lebih dari satu pesan dalam karyanya di mana ia mengganti pembersih (sanitizer) dengan cincin pertunangan.

“Pertama, saya ingin mengungkapkan bagaimana perasaan para mempelai wanita, yang pernikahannya harus ditunda atau dibatalkan karena krisis yang sedang terjadi ini” – kata Khamis kepada Arab News

Ia pun menambahkan:

“Hal ini dimaksudkan untuk menghibur para pempelai wanita tersebut dengan mengingatkan mereka bahwa dengan mengorbankan hari istimewa pernikahan berarti mereka peduli terhadap kesehatan masyarakat.”

Khamis juga ingin mengatakan bahwa sanitizer menjadi lebih penting daripada perhiasan karena dapat berfungsi membantu menjaga kesehatan. Menurut Khamis tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada sanitizer karena barang tersebut kini menjadi langka di pasaran.

Terlepas dari kerugian yang dihasilkan dari krisis ini, Khamis melihat bahwa COVID-19 telah memberi pelajaran terhadap mereka para seniman akan dua hal yang penting:

“Ini telah memberi kita waktu dan masalah baru, yang merupakan ruang baru untuk bekerja dan inspirasi.” – ungkap Khamis

Penghargaan Terhadap Petugas Medis

Selanjutnya, seniman lain menggunakan karyanya untuk menyatakan penghargaan mereka kepada petugas medis. Seperti yang ditunjukkan oleh artis dan direktur seni, Bahrain Sayed Al-Majed (@almajed.art), yang membuat karya dengan menggunakan teknik menggambar garis. Karyanya menceritakan tentang seorang anggota medis yang mengangkat tangan sebagai tanda kemenangan.

Al-Majed mengatakan karyanya menunjukkan saling ketergantungan, perpaduan dan kesatuan antara umat manusia, dan garis berakhir dengan simbol jantung yang menunjukkan kehidupan, cinta, pemberian, juga terima kasih kepada petugas medis.

“Lingkaran itu mewakili Bumi dengan populasinya di bawah satu atap.”

Al-Majed pun mengatakan:

“Saya percaya bahwa seniman memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk mengabdikan seni mereka dalam menghadapi krisis ini untuk menyebarkan kesadaran, menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada para pahlawan seluruh umat manusia sekarang: yaitu petugas medis.”

Karya Kontroversial: Niqab Sebagai Perlindungan Terhadap Virus

Amal Al-Ajmi (@al.up2sky) dari Kuwait setuju dengan pernyataan Al-Majed bahwa seniman harus menggunakan seni mereka untuk menyebarkan kesadaran. Dia menambahkan bahwa seni seharusnya menjadi penangkal rasa keterasingan dan kecemasan.

“Saya berharap bahwa seniman memainkan peran positif dalam periode yang sulit ini karena kondisi yang terjadi bisa sangat menegangkan dan tidak pasti,” kata Al-Ajmi kepada Arab News.

Beberapa waktu yang lalu Al-Ajmi memutuskan untuk menggunakan seni untuk merespon sebuah pernyataan yang sempat kontroversial di media sosial Twitter. Al-Ajmi menggambar seorang wanita yang mengenakan niqab dan di sampingnya terdapat seorang pria menutupi wajahnya dengan masker. Ia lalu menambahkan tulisan “Ini adalah era pria niqabi.

Gambar: Lukisan Amal Al-Ajmi yang menunjukkan seorang wanita mengenakan niqab dan seorang pria menutupi wajahnya dengan topeng. Ia menambahkan keterangan “ini adalah era pria niqabi.”

Karya Al-Ajmi tersebut muncul setelah adanya tweet kontroversial dari influencer Saudi yang mengungkapkan bawah niqab merupakan sebagai kewajiban bagi wanita Muslim, sebagai berikut:

Orang-orang berlomba untuk membeli masker untuk melindungi mereka dari korona, sementara Islam telah menemukan hal tersebut 1400 tahun yang lalu sebagai perlindungan terhadap virus.

Tweet yang telah menyebar tersebut akhirnya dihapus beberapa hari kemudian setelah menerima banyak kritik.

Perubahan Kebiasaan Sosial Masyarakat

Terakhir, dengan adanya dampak sosial yang dihasilkan dari pandemi ini, seniman Maroko, Ichraq Bouzidi, menggambarkan bagaimana physical distancing telah merubah berbagai kegiatan masyarakat di negaranya. Perubahan tersebut terlihat pada tradisi minum teh atau Maroko Mint, yang merupakan budaya di Maroko.

Melalui karya yang dibuat, Bouzidi menggambarkan dua orang tetangga di Maroko yang tetap melakukan tradisi minum teh mereka namun dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dalam karya tersebut terlihat seorang wanita yang menuangkan teh dari jendelanya ke cangkir tetangganya yang terletak di lantai bawah.

Sumber: https://www.arabnews.com/node/1657736/saudi-arabia

Info Paket Umroh & Wisata

686 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini