PERPINDAHAN KIBLAT SEBAGAI UJIAN BAGI KAUM MUSLIMIN

Kiblat Pertama Umat Islam

Palestina, merupakan daerah yang telah ada sejak ribuan tahun silam sebelum Masehi. Daerah ini adalah tempat yang sangat penting dan suci bagi tiga agama samawi, Islam, Nasrani dan Yahudi. Di kota lama di daerah ini ada satu wilayah yang dikenal dengan nama Temple Mount atau dalam bahasa lokal Haram Al Sharif yang kemudian menjadi area tempat berdirinya Al Aqsha dan Kubah Shakhrah. Melihat pentingnya wilayah ini, tak heran wilayah ini diperebutkan. Bahkan hingga saat ini. Dan mungkin juga nanti.

Tidak diketahui secara pasti, kapan sih Masjid Al-Aqsa didirikan di wilayah Bukit Suci ini. Mulanya, Masjid Al-Aqsa merupakan sebuah masjid kecil yang dibangun oleh Umar bin Khattab (yang kini dikenal dengan nama Masjid  Umar bin Khattab). Kemudian, masjid kecil ini dirombak dan dibesarkan bangunannya pada masa pemerintahan Bani Umayyah yang kala itu dipimpin oleh Abd al-Malik. Proses rekonstruksi ini baru selesai di masa pemerintahan al-Walid yang merupakan anak dari Abd al-Malik.

Masjid berkubah biru ini, bukanlah masjid al- Aqsha, yang disangkakan oleh sebagian umat muslim. Al –Aqsha bukan pula bangunan masjid berkubah emas yang dikenal dengan nama Dome of Rock. Yang di maksud al – Aqsha adalah kompleks dimana berdirinya dua bangunan tersebut.

Dalam sejarah ajaran Islam, al Aqsha merupakan tempat di mana dimulainya perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Dari peristiwa penting inilah dihasilkannya perintah Shalat lima waktu bagi Umat Muslim. Selain itu, masjid al Aqsha juga merupakan kiblat pertama dalam menunaikan shalat lima waktu.

Kenapa si di Baitul Maqdis al Aqsha? Bukan di Baitullah Al Haram Makkah? Bukannya Ka’bah merupakan rumah ibadah pertama yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua umat manusia (al – Imron : 96)?

Alasannya:

  1. Dulu, saat pertama kali adanya perintah sholat bagi umat muslim, Ka’bah masih dipenuhi oleh patung patung berhala kafir Quraisy. Sedangkan Baitul Maqdis masih menjadi tempat suci.
  2. Saat adanya perintah sholatpun, Ka’bah belum berupa Masjid seperti Masjidil Haram yang digunakan saat ini. Dan masih digunakan sebagai tempat peribadahan kaum kafir di sana.
  3. Orang kafir akan bangga jika Rasulullah Saw berkiblat ke Ka’bah, karena mereka akan menggap bahwa Rasulullah Saw mengakui berhala mereka sebagai Tuhan.
  4. Wa Allah wa Rasuluhu A’lam.

Perpindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah Al Haram

Dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 142 -143, Allah SWT menjelaskan mengapa perpindahan kiblat itu dilakukan. Ayat tersebut berbunyi:

“Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “ Apakah yang memalingkan mereka (muslim) dari kiblat yang memalingkan mereka (berkiblat) kepadanya? “katakanlah (Muhammad), “milik Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.”

“ Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (Umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kami. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu ) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat ) itu sangat berat , kecuali bagi orang yang telah diberi prtunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (Q.S. Al-Baqarah : 142 -143 )

Sewaktu Nabi Muhammad Saw hijrah ke Madinah, sekitar 16-17 bulan setelah hijrah, Allah memerintahkan Rasulullah Saw untuk menghadapkan wajahnya ke masjidil Haram (Ka’bah).

Maksud dari perpindahan kiblat adalah bahwa ibadah shalat lima waktu  semata-mata dilakukan bukan hanya menghadap ke masjid al-Haram atau Al-Aqsha sebagai tujuan, melainkan menghadapkan diri pada Allah Swt. Adapun Ka’bah adalah sebagai simbol pemersatu umat Islam dalam menentukan arah kiblat kita.

Perpindahan kiblat ini juga merupakan salah satu keinginan Rasulullah Saw, karena Beliau sangat menginginkan umat Islam sama seperti Kiblat Nabi dan Rasul sebelumnya, Adam as. dan Ibrahim as.

Dan Rasulullah Saw sangat mengharapkan keinginannya dikabulkan oleh Allah SWT, oleh karena itu Rasulullah Saw senantiasa selalu menengadahkan wajahnya ke langit dengan harapan turunnya wahyu tersebut. Keinginan Rasulullah Saw, juga dikisahkan dalam surat al- Baqarah : 144, sebagai berikut:

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadahkan ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu……. (Q.S. Al-Baqarah: 144)

Perubahan Kiblat sebagai ujian bagi kaum muslimin

Saat Turunnya ayat yang memerintahkan pengalihan kiblat, ketika itu Rasul dan Para sahabat sedang melakukan sholat dhuhur (riwayat lain mengatakan Ashar) berjamaah. Dan pada Rakaat kedua, perintah pengalihan kiblat tersebut turun. Maka Rasulullah Saw menghentikan sholatnya sejenak. Kemudian berputar 180 derajat menghadap Masjidil Haram.

Dari perpindahan kiblat tersebut, kaum Yahudi dan Nasrani memperolok umat Islam, Namun mereka Juga Khawatir bahwa perubahan kiblat ini akan menunjukkan adanya perbedaan di antara Islam dan Yahudi.

Dari olokan ini, Allah jawab dalam Surat al Baqarah: 144, berikut bunyi nya:

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadahkan ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil haram. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya oragn-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) ituadalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al-Baqarah: 144)

Demikianlah sedikit pembahasan mengenai perpindahan kiblat.  Perpindahan ini bukan dimaksudkan untuk berpindah hadapan dari Masjidil Aqsha ke Masjidil Haram. Melainkan sebagai ujian Umat muslim, akankah mereka mengikuti ajakan Allah dan Rasulnya, atau menolaknya. Karena sesungguhnya, kita beribadah bukan untuk menghampa kepada tempat, melainkan kepada pemiliknya, yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

178 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini