Merangkul Musibah dengan Istirjaa’

Merangkul Musibah dengan Istirjaa’

Sahabat rihaal yang dimuliakan Allah

Hidup manusia didunia tidak pernah bisa lepas dari musibah dan cobaan. Sebagai orang yang beriman kita meyakini bahwa musibah bukanlah sebuah keburukan, melainkan sebuah ujian dan tes dari Allah ta’aala. Memang seperti itulah karakteristik kehidupan dunia yang Allah jadikan penuh berhiaskan ujian bahkan sejak zaman azali pun sudah Allah tetapkan bahwa hidup itu sendiri adalah ujian.

Allah berfirman,

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Q.S. Al-Mulk : 2)

Ayat ini mengajarkan kita selaku orang yang beriman kepada Allah dan kitabNya, bahwa setiap musibah yang kita alami bukanlah murni sebuah keburukan yang tiba-tiba jatuh dari langit tepat diatas kepala kita. Akan tetapi itu adalah sebuah ujian yang sudah disiapkan oleh sang pencipta jauh-jauh hari dari munculnya musibah itu. Bahkan jauh-jauh hari dari diciptakannya langit dan bumi. Dan kita diajarkan bahwa apabila kita ingin lolos dari ujian tersebut hendaknya kita menyambutnya dengan sikap dan amal yang terbaik.

Sabar dalam menghadapi ujian dengan istirjaa’ 

Di ayat lain Allah memberitahukan lagi sikap terbaik dalam menghadapi ujian dalam bentuk musibah yang menjadi teman setia kita didunia ini adalah dengan bersabar. Dan cara kita bersabar adalah dengan istirjaa’ (ucapan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِين َ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ َ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNyalah kami kembali”. (Q.S. Al-Baqarah : 155-156)

Tentu kalimat istirjaa’ ini tidak serta merta mampu menyuburkan kesabaran dalam diri kita hanya dengan mengucapkannya. Akan tetapi butuh pemahaman dan perenungan agar makna kalimat ini dapat merasuk terserap ke dalam sendi-sendi bahkan setiap urat dalam tubuh kita.

Kalimat ini memiliki dua ujung yang saling berkaitan dimana di awal kata kita mengakui dengan sepenuh keyakinan kita bahwa Allah adalah pemilik diri kita. Di akhir kita mengikrarkan bahwa tidaklah kita kembali melainkan hanya kepada pemilik diri kita.

Sebagai sebuah contoh -dan Allah maha suci dari segala perbandingan- apakah kita pernah melihat seseorang menimpakan mudharat kepada barang miliknya yang dia sukai?.

Tentu tidak. Pemilik barang itu akan senantiasa menjaga barang miliknya serta merawatnya dengan penuh kebaikan dan hikmah yang mungkin secara zhahir tindakan itu seperi merusak barang tersebut.

Baca Juga:

Panjatkan Doa Terbaikmu di Taman Surga Dunia

Adakah Hikmah di Balik Fenomena Menyebarnya Virus Corona?

Empat Golongan Manusia Ketika Menghadapi Musibah

Ujian merupakan ungkapan cinta Allah pada kita

Sama seperti istirjaa’. Kita mengakui bahwa diri kita adalah milik Allah sehingga ujian yang Allah timpakan kepada kita tidak semata-mata keburukan untuk kita walaupun sebagian orang memandangnya seperti itu. Akan tetapi ujian sejatinya adalah ungkapan cinta Allah kepada kita selaku hambanya dan kita dituntut untuk ridho agar kebaikan dari musibah itu kembali kepada kita.

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ الله عَنْهُ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ”عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ“

Dari anas bin malik semoga Allah meridhoinya, dari Rasululllah shollallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “besarnya pahala kebaikan setara dengan besarnya musibah yang dihadapi. Dan Allah jika mencintai sebuah kaum maka Dia akan menguji mereka. Maka barang siapa yang menjalaninya dengan keridhoan, Allah akan meridhoi mereka. Dan barang siapa yang marah, murka Allah akan ditimpakan kepada mereka. (H.R. Tirmidzi).

Itulah yang dinamakan istirjaa’ sebuah kacamata untuk memandang hakikat musibah dengan menyadarkan diri bahwa kita milik Allah dan Allah akan selalu menjaga kita maka kita akan merasa tenang sekalipun dalam musibah. Dan meyakini bahwa kita akan kembali kepada Allah maka setiap luka dan sakit karena musibah itu akan membuahkan pahala kebaikan bagi kita.

Wallahu a’lam bish shawaab.

Info Paket Umroh & Wisata

135 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini