Kisah Sukses Bisnis Mangrove Printing di Jalan Dakwah

Kisah Sukses Bisnis Mangrove Printing di Jalan Dakwah

Sobat Rihaal – Siapa yang tidak kenal Mangrove Printing? Setiap event sekolah atau kampus pasti sering cetak poster atau brosur di Mangrove Printing. Ternyata perjalanan Mangrove Printing banyak yang bisa kita pelajari untuk motivasi dalam bisnis dan dakwah. Seperti apa kisahnya? Yuk simak bersama!

Mangrove Printing diambil dari nama komunitas Mangrove Community dari SMA Negeri 1 Yogyakarta. Tahun 2002 inisiatif bersama 15 orang siswa SMA Negeri 1 Yogyakarta untuk memulai bisnis bersama. Pak Ferry Irwan sebagai pemilik Mangrove Printing bercerita, buku tahunan menjadi orderan pertama menghasilkan keuntungan Rp. 600.000,- pada masa itu. Keuntungan tersebut sebagai tabungan abadi bersama untuk memulai bisnis sablon stiker. Hingga ketika lulus SMA, seiring berjalannya waktu ada yang fokus ke bidang dan impiannya masing-masing. “Akhirnya tahun 2004 kita meeting di ITB dan memutuskan siapa yang akan fokus bisnis dari 15 orang itu, tinggal saya dan Pak Kiki. Akhirnya tahun 2004 diambil alih saya dan Pak Kiki sebagai pemegang saham dan dipegang sampai sekarang”, kisah Pak Ferry.

Semangat Dakwah Mengembangkan Digital Printing Muslim

Pada 2010-2012 mulai serius untuk menjalankan bisnis digital printing. Mangrove Printing Gejayan resmi dibuka dan diresmikan oleh Ust. Yusuf Masur. Semangat mengembangkan digital printing muslim bermula dari 40 orang mewakili pengusaha digital printing se-Indonesia diundang ke Jepang. Selama di Jepang saat makan bersama disediakan meja halal, dari 7 orang yang duduk di meja halal hanya 4 orang yang muslim. “Jadi yang muslim hanya 4 orang alias 10% dari seluruh pemilik digital printing di Indonesia yang diundang ke Jepang. Disitu kemudian timbul semangat dari kita, masa muslim hanya 10% saja. Padahal orderan banyak dari kita (muslim). Untuk brosur umroh, pengajian, spanduk idul adha, dll. Kena pemain yang muslim sedikit. Maka Mangrove ingin jadi digital printing muslim yang besar”, cerita alumni Umroh Plus Turki 2017 Rihaal asal Bantul ini.

Baca juga :

Impian Unlogic, Pencapaian Logic Ala Pak Anom Adi Nugraha

Konsistensi Bang Zainuddin, Partner “Bonek” Rihaal Umroh

Program Dakwah Mangrove Printing

Salah satu motivasi pemilik Mangrove printing kelahiran 31 Juli 1984 ini dalam mengembangkan bisnis ini adalah karena dakwah. Dakwah memerlukan bahan bakar atau modal yang cukup banyak. Sehingga harus banyak pengusaha muslim yang bisnisnya harus besar untuk bisa sama-sama mendanai dakwah. Alhamdulillahnya saat ini Mangrove Printing memiliki mobil alphard yang digunakan untuk mefasilitasi ustad-ustad nasional maupun internasional yang datang ke Yogyakarta. Hal ini untuk memuliakan tamu.

Mangrove Printing juga mengembangkan pondok IT yang didalamnya ada pondok programmer, pondok mutimedia, dan sebagainya. Pondok tersebut gratis bagi lulusan SMA/SMK yang dididik menjadi programmer muslim handal tentunya.

Mangrove Inspiration adalah salah satu anak bisnis yang fokus pada penerbitan buku-buku. Jika ada ilmu bisa disebarkan dan dibuatkan bukunya melalui Mangrove Inspiration. Ada pula Jagoan Coding dimana anak-anak belajar coding dari awal. Mangrove Printing juga pernah bekerjasama dengan Rihaal untuk memberangkatkan guru SMA Negeri 1 Yogakarta umroh. “Teman alumni SMA Negeri 1 Yogyakarta yang bercerita, salah satu sedekah yang paling keren dan cerdas adalah kita umrohkan bapak ibu guru. Pertama kita dapat pahala umrohnya juga, kedua bapak ibu guru insyaAllah masuk surga karena mereka amal jariyahnya banyak,” cerita Pak Ferry kepada tim Rihaal. MasyaAllah… Inspiratif sekali ya…

Mangrove Printing

Aktivitas Mangrove Printing setiap harinya melayani order customer (Sumber : Rihaal Media)

Kendala Bisnis

Kendala bisnis digital printing yang pertama adalah investasi. Ada mesin yang berharga 2,4 miliar. Belum mesin-mesin yang lain. Kedua, perkembangan teknologi digital printing cepat sekali. “Kami pernah datang ke sebuah event digital printing terbesar di dunia di Jerman. Itu seperti 2-3 tahun lagi teknologi digital printing semua dipamerkan di sana. Jadi kami bela-belain kesana biar tahu nextnya (project plan) seperti apa”, jelas Pak Ferry kepada tim Rihaal Media.

Alumni Teknik Mesin UGM ini bercerita jatuh bangun bisnis yang dirasakan. “Saat 2007 kita produksi banyak pin kaleng. Omsetnya banyak, dan kita umurnya masih cukup muda. Jadi uang yang kita dapat tidak untuk investasi tapi untuk konsumsi pribadi seperti mobil impian”, kisah Pak Ferry. Ternyata produk pin kaleng ada life cyclenya. Ketika life cyclenya turun, jika tidak berinvestasi dan berinovasi untuk next produk lain, maka akan kelabakan memutar bisnis jika hanya di satu produk saja. Jatuh yang kedua dirasakan sekitar tahun 2015-2016 dimana saat itu Mangrove Printing investasi mesin hingga puluhan miliar. Namun karena bisnis berjalan tidak sesuai yang diharapkan, maka harus membayar hutang.

Strategi Manajemen dan Bisnis Model

Mempertahankan bisnis tentu ada tipsnya. Menurut Pak Ferry, yang pertama adalah manajemen otomatis harus ada. Setiap cabang sudah ada manajer berserta perangkatnya masing-masing untuk mengontrol perusahaan dan berjalan tanpa harus ditunggui. Kedua, belajar bisnis model. “Kita berinvestasi dengan gojek, traveloka, dan lain-lain. Sekarang akhirnya banyak bisnis kita, divisi yang lain, model pre order, model iklan di sosial media, sehingga kita bisa tidak mengulangi kesalahan yang lalu yang bisnisnya terlalu banyak pakai modal,” jelas pak Ferry.

Kisah Umroh

Perjalanan 16 hari Umroh Plus Turki pada tahun 2017 memberi kesan tersendiri bagi Pak Ferry dan keluarga karena memberi banyak pengalaman yang berkesan.

“Umroh sama Rihaal kebetulan saya bareng sama Pakdir dan Budir (Pak Agus dan Bu Rita – Direktur Rihaal). Kita sama Dik Yusuf juga. Jadi kita berkesan sekali karena kita di sepanjang perjalanan mendiskusikan bagaimana anak-anak kita menjadi hafiz, perjalanan Pakdir Budir mendidik anak-anak, jadi eksklusif sekali lah karena bisa bercerita langsung,” kenang Pak Ferry.

Menurut Pak Ferry, apa yang bisa kita impikan bisa kita wujudkan. “Kalau kita sudah umroh, rasanya pertama senang sekali. Kedua, selalu ingin membuat orang lain merasakan hal yang sama. Sehingga kita seperti ada program untuk saudara kita, karyawan kita, untuk merasakan juga. Jadi semangatnya untuk ngumrohin orang lain juga,” terang Pak Ferry. Sahabat Rihaal, begitulah kisah perjalanan bisnis dan niat dakwah Pak Ferry beserta team yang sangat menginspirasi. Kapan Sahabat Rihaal bisnis juga? Yuk mulai bareng Rihaal!

Info Paket Umroh & Wisata

952 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini