Kisah Gubernur yang Fakir: Sa’id bin ‘Amir Al Jumahi

Kisah Gubernur yang Fakir: Sa’id bin ‘Amir Al Jumahi

Sahabat rihaal yang dimuliakan Allah

Meniti jejak-jejak kisah orang-orang sholeh yang dekat dengan Allah membuat kita tak berhenti merasa heran bercampur takjub, kehidupan yang berbanding terbalik dengan keadaan yang kita jalani saat ini. Pertanyaan “kok bisa sih ada orang yang hidup seperti itu?” selalu terlempar saat kita membaca dan menyimak sirah kehidupan mereka yang ditulis oleh para sejarawan.

AWAL KISAH

Adalah Sa’id Bin ‘Amir Al Jumahi, seseorang yang akan kita jadikan lakon dalam tulisan ini. Seorang Sahabat Nabi terkenal dan harum namanya. Menjual dunia untuk kepentingan akhiratnya. Dan mengambil untuk dirinya batas yang dia butuhkan untuk hidupnya tanpa berlebih sedikitpun. Kisahnya terkenal saat dia diangkat Sahabat Umar Bin Khaththab menjadi pemimpin daerah Homs di suriah disebabkan kejujuran dan kebaikannya.

Suatu saat datanglah rombongan dari Homs ke Madinah menyampaikan hajat mereka kepada Sang Khalifah.

“Tuliskan untukku nama-nama orang fakir dan miskin dinegeri kalian untuk dipenuhi kebutuhannya.” Ujar Khalifah Umar.

Mereka pun menyerahkannya. Lalu Sang Khalifah tersentak melihat satu nama yang tertulis. Dengan penuh rasa ingin tahu beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir ?

Mereka menjawab,” Pemimpin kami wahai Khalifah”.

“Pemimpin kalian seorang yang fakir dan miskin?” Tanya Khalifah menegaskan.

“Benar. Demi Allah sudah beberapa hari ini tidak nampak asap mengepul dirumahnya”.

 

 

Mengetahui itu air mata Sang Khalifah mengalir. Ia pun mengambil seribu dinar dan berkata: “Sampaikan salamku kepadanya (Sa’id) dan berikan harta ini untuk memenuhi kebutuhannya”.

Mendapat hadiah yang banyak dari Khalifah Sa’id bin ‘Amir berseru kencang, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Seakan dia tertimpa oleh sebuah bencana besar.

Istrinya yang khawatir bertanya, “Apa yang terjadi wahai suamiku? Apakah Amiirul Mukminiin wafat?”.

“Bahkan bencana ini melebihi itu semua wahai istriku”. Jawab Sa’id.

“Apa yang terjadi?”. Selidik sang istri.

“Dunia datang menggodaku berusaha menghancurkan akhiratku”.

tanpa tahu tentang seribu dinar itu Istrinya menimpali, “Menjauhlah darinya!”

Sa’id meminta kepada istrinya, “maukah kau membantuku?”

“Ya”. Jawab istrinya dengan penuh taat.

Maka dibagilah seribu dinar itu dalam pundi-pundi kecil dan dibagikanlah kepada para fakir miskin.

Hari berlalu. Khalifah mengunjungi negeri syam untuk inspeksi, Saat sampai di daerah Homs banyak keluhan dari penduduknya.

MASALAH BARU

Sang Khalifah bertanya, “Bagaimana kabar pemimpin kalian?”

“Itulah yang ingin kami keluhkan wahai Khalifah”. Jawab mereka

Tidak mau berburuk sangka Khalifah pun mengumpulkan mereka dengan pemimpinya.

“Apa yang kalian keluhkan?”. Tanya Khalifah.

Mereka menjawab, “Pemimpin kami tidak menemui kami kecuali saat matahari sudah tinggi. Yang kedua, dia tidak pernah mau ditemui saat malam hari, Ketiga, dalam satu bulan ada satu hari dia sama sekali tidak menemui kami. Dan yang keempat, kami selalu menemui beliau dalam keadaan murung dan sedih, sehingga orang-orang keluar dari majelisnya

Khalifah berpaling dan bertanya, “Benarkan itu wahai Sa’id?”

Sa’id berkata, “Demi Allah ini amat berat untuk aku katakan. Kami adalah keluarga miskin sehingga aku sendiri yang harus memenuhi kebutuhan keluargaku dipagi hari. Lalu aku berwudhu dan menemui wargaku”.

Yang kedua, sebenarnya aku juga enggan menyebutkannya. Akan tetapi aku telah menjadikan siangku untuk manusia. Maka kujadikan malamku untuk Allah (beribadah)

Baca juga:

Merangkul Musibah dengan Istirjaa’

Meningkatkan Keimanan di Masa Social Distancing

Corona Virus Online Test | Ikhtiar Mengenal Perbedaan Infeksi Virus Corona dan Flu Biasa

Empat Golongan Manusia Ketika Menghadapi Musibah

 

Yang ketiga,Wahai Amiirul Mukminiin, aku tidak mempunyai pakaian kecuali yang aku kenakan ini. Sehingga aku harus mencucinya sekali setiap bulan dan menjemurnya untuk dipakai dikemudian hari.

“Untuk yang keempat”. Sa’id melanjutkan, “Saat aku berkubang dalam kemusyrikan, aku melihat kematian Sahabat Nabi Khubaib bin ‘Adi. Saat ia (Khubaib) disiksa, orang-orang Quraisy menanyakan kepadanya apakah ia mau jika Rasulullah menggantikannya. Maka Khubaib mengatakan bahwa ia tidak rela jika ia, keluarga dan anak-anaknya selamat sementara Rasulullah terluka walaupun hanya karena sebuah duri. Hingga saat ini aku khawatir Allah tidak mengampuniku karena tidak tergerak menolongnya (Khubaib).

Umar pun berseru, “Maha Suci Allah yang telah menyelamatkan aku dari berburuk Sangka kepada Sa’id”

KEZUHUDAN SA’ID BIN ‘AMIR

Khalifah memberikan seribu dinar lagi kepada Sa’id. Karena senang mengetahui itu istrinya berkata, “Maha Suci Allah yang mencukupi kami dengan melayanimu. Penuhilah kebutuhan kami dan carikanlah kami pembantu”

Sa’id pun bertanya, “Maukah engkau mendapatkan yang lebih dari itu?”

“Apa itu?”.

“Kita kembalikan kepada Yang memberikannya kepada kita, karena kebutuhan kita akan Dia lebih besar dibanding harta itu”

“Bagaimana caranya?”

“Kita pinjamkan kepada Allah”

“Engkau benar, semoga engkau mendapat balasan kebaikan dariNya”.

Sa’id pun membagi harta itu ke dalam kantong-kantong kecil dan memberikannya kepada yang lebih membutuhkannya.

Begitulah Sa’id bin amir, kecintaannya kepada Allah dan akhirat membuatnya tidak silau akan dunia yang datang kepadanya.

Semoga kita bisa meneladani sifat Sahabat Nabi yang mulia ini, aamiin.

Info Paket Umroh & Wisata

579 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini