Ketika Kerja Kerasku Disertai Ridho-Mu

Ketika Kerja Kerasku Disertai Ridho-Mu

Sebagaimana diriwayatkan, yaitu setelah terjadinya Perang Tabuk. Perang Tabuk adalah peperangan terakhir yang diikuti oleh Rasulullah Saw. Perang Tabuk terjadi pada tahun 630 H atau 9 H antara tentara Muslim dan pasukan Bizantium (Romawi Timur). Pada Perang Tabuk ini, peperangan dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw. Meski pada peperangan ini tidak ada pertempuran. Sebenarnya, pada peperangan inilah umat Islam diuji, apakah mereka mau bersatu untuk peperang membela agama Allah, atau malah menikmati kekayaan yang saat itu sedang mereka nikmati. Namun ternyata banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur. Bahkan, jumlah ini menjadi jumlah pasukan terbanyak sepanjang perang yang dilalui Rasulullah Saw. Subhanallah.

Sekembalinya dari Tabuk, Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah  Saw berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah Saw. melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.

Dengan rasa empati dan simpati yang tinggi, Rasulullah Saw pun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”

tukang batu tersebut menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah Saw adalah Manusia Yang paling Mulia, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mendengarkan jawaban dari tukang kayu itu, dan melihat tangan tukang batu yang melepuh dan memerah karena mencari nafkah yang halal untuk menafkahkan keluarganya, Rasulullah Saw pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda:

“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.

Padahal, disepanjang sejarah, Rasulullah Saw tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Kabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium tangannya oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah Saw justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.

Seketika, selepas kejadian tersebut. Terdapat seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah Saw. Orang tersebut merupakan orang yang dikenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah Saw, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.” Mendengar pertanyaan para sahabat, Rasulullah Saw pun menjawab,

“Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)

Dari kisah ini kita dapat belajar, bahwa kesungguhan kita dalam mencari nafkah yang halal untuk menafkahi keluarga tidaklah sia-sia. Bahkan jika diniatkan untuk sesuatu yang baik. Itu ternilai sebuah ibadah dan fi sabilillah. Tentunya kita harus mengimbangi antara urusan duniawi dan ukhrawi kita. Sekiranya nafkah yang kita dapatkan sudah cukup. Maka kembalilah kepada urusan ukhrawi kita. Insyallah keberkahan dan keridhoan dari-Nya akan selalu menyertai kita. Amiiin

Untuk memantapkan kita agar tetap semangat bekerja. berikut adalah beberapa ayat al-Quran dan hadits yang berbicara tentang bekerja.

“Maka apabila telah dilaksanakan salat, bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumuah: 10)

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh: 19-20)

“Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

“Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)

“Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan salat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)

“Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

Demikianlah, kisah teladan islami agar kita semakin tahu, semakinmau dan semakin giat dalam mencari rizki Allah SWT yang halal dan berkah. Amin.

 

504 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini