Catat! Hukum Ziarah Kubur. Dari Haram, Makruh, Hingga Mubah

Catat! Hukum Ziarah Kubur. Dari Haram, Makruh, Hingga Mubah

Sahabat Rihaal, sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian masyarakat Indonesia untuk melakukan ziarah kubur atau nyekar sebelum hari raya tiba. Biasanya kegiatan ini digunakan sebagai momentum bagi mereka untuk berkumpul bersama sanak famili. Sebelum keesokan harinya melaksanakan shalat ‘ied bersama-sama.

Tata cara berziarah orang Indonesia pun bermacam-macam. Umumnya sih kita beli dulu kembang yang kita biasa pakai untuk nyekar. Atau membawa air untuk membasahi tanah kuburan yang kering. Bahkan ada yang sampai shalat atau membaca Al-Qur’an di makam-makam. Karena bagi sebagian dari orang, amalan-amalan tersebut dianggap memiliki fadilah tersendiri dan mendatangkan bagi si mayyit.

Hhmmm, sudah benarkah tata cara dan anggapan tersebut? Adakah dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah yang melandasinya? Lalu bagaimanakah Rasulullah SAW dahulu mencontohkan ziarah kubur yang benar? Yuks, kita kupas satu persatu!

Hukum Ziarah Kubur Dalam Islam

Pertama-tama perlu untuk diingat bahwa hukum asal segala bentuk ibadah adalah haram, sampai ada dalil perintahnya. Dan sebaliknya, hukum asal segala bentuk muamalat (atau hal-hal yang berkaitan tentang hubungan antar manusia) adalah mubah, sampai datang dalil larangannya.

Dalam konteks ziarah kubur, pada awal-awal islam Rasulullah SAW sempat melarang praktek nyekar tersebut. Karena banyaknya kesyikrikan yang dilakukan oleh kaum Quraisy saat berziarah. Sehingga ditakutkan akan mempengaruhi aqidah umat islam yang kala itu dakwahnya masih belum tersebar secara luas.

biro umroh jogja, ziarah kubur, biro umroh resmi, biro umroh solo, biro umroh terbaik, harga paket umroh, harga umroh jogja, harga umroh murah, merancang umroh, nur Ramadhan, paket umroh 2018, paket umroh 2019, paket umroh jogja, paket umroh murah, paket umroh murah dari jogja, paket umroh syawal, tour and travel turki, travel agent turki, travel umroh jogja, travel umroh surabaya, travel umroh terbaik, travel umroh terpercaya, umroh jogja murah, umroh jogja terbaik, umroh plus capadocia, umroh promo jogja, umroh ramadhan 2019, umroh start jogja, umroh arbain, rekam biometrik, umroh 2019, paket umroh murah, umroh plus dubai, umroh plus aqsha, trip malaysia singapura, trip halal jepang, trip halal korea, trip halal eropa, trip thailand, trip liburan sekolah, umroh keluarga, umroh couple, umroh bulan desember, haji furoda, haji reguler, haji onh plus, daftar haji, cara daftar haji, cara daftar umroh, antrian rekam biometrik, biometrik surabaya, biometrik jogja, kantor vfs, biometrik indonesia

Info Paket Umroh & Wisata

Namun setelah dakwah serta pemeluk islam semakin meluas, Rasulullah SAW kemudian memperbolehkan umat islam untuk berziarah kubur. Sebagaimana disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Buraidah ibn Al-Hushaib dalam sahih Muslim:

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا

“Aku telah melarang kalian untuk berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah”. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya kitab Hukum Jenazah.

Dan dalam lafadz Abu Daud terdapat kalimat (فَإِنَّ فِى زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً). Atau yang artinya “Sesungguhnya di dalam ziarah itu mengingatkanmu (akan maut)”.

Maka pada dasarnya, hukum ziarah kubur menjadi diperbolehkan atas landasan dalil tersebut. Agar umat islam selallu mengingat dan mempersiapkan kematiannya.

Namun yang menjadi khilaf di kalangan para ulama adalah, apakah hukum ini bersifat umum yang mencakup laki-laki dan perempuan?

Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama terkait hukum ziarah bagi perempuan. Ada yang membolehkan, ada yang memakruhkan, dan ada juga yang mengharamkan. Hhmm, jadi gimana nih penjelasannya? Baca terus dongs, jangan di­-skip yaa!

Hukum Berziarah Bagi Perempuan

Haram

Sebagaimana yang sudah dijelaskan diatas, bahwa ada 3 hukum berziarah bagi wanita. Yaitu haram, makruh, dan juga mubah. Menurut ulama yang mengharamkan secara mutlak adalah karena adanya larangan bagi perempuan untuk berziarah. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

“Sesungguhnya Rasulullah SAW melaknat para wanita yang berziarah kubur”. Hadist Hasan Shahih.

Selain itu, para ulama melarang perempuan untuk berziarah karena takut terjadi fitnah atas mereka. Fitnah tersebut dapat berupa tangisan yang tidak terkontrol dan teriakan-teriakan yang histeris. Karena menangisi mayyit secara berlebihan merupakan hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Makruh

Sedangkan para ulama yang memandang makruhnya ziarah kubur bagi perempuan berpendapat, bahwa dalil diatas datang sebelum Rasulullah memperbolehkan kembali ziarah kubur bagi umat muslim. Dan juga dalil lain bahwasanya Rasulullah tidak terlalu bersungguh-sungguh dalam melarang para wanita untuk mengiringi mayyit. Sebagaimana hadist muttafaq yang diriwayatkan dari Ummu ‘Atiyah:

كُنَّا نُنْهَى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا

“Kami dilarang untuk mengiringi jenazah (ke pemakaman), namun beliau tidak bersungguh-sungguh (dalam melarangnya)”.

Mubah

Kemudian yang ketiga –dan merupakan opini yang terkuat– yaitu pendapat ulama yang memubahkan ziarah kubur bagi para perempuan. Namun meski para ulama memperbolehkan, kaum perempuan tentu harus memelihara adab-adab tertentu agar terhindar fitnah.

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim dalam shahih-nya kitab Hukum Jenazah, bahwa Rasulullah mengajarkan kepada Aisyah do’a ziarah kubur.

السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلاَحِقُونَ

“Salam (kesejahteraan) bagi kalian wahai para ahli kubur dari golongan muslim dan mukmin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang terdahulu ataupun yang datang (ajalnya) pada akhir. Dan sesungguhnya kami akan bertemu dengan kalian (suatu saat nanti).”

Dan juga dalil lainnya bahwa Rasulullah tidak melarang seorang wanita yang saat itu sedang berada di sebuah makam. Rasulullah meminta kepada wanita tersebut untuk bertakwa dan bersabar. Sebagaimana hadist muttafaq yang diriwayatkan dari Anas ibn Malik.

مَرَّ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِامْرَأَةٍ تَبْكِى عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِى وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَأَتَتْ بَابَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى

“Rasulullah berjalan melewati seorang perempuan yang menangis di samping sebuah kuburan. Lalu beliau berkata “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Lalu perempuan itu berkata “Pergilah dariku, se sungguhnya engkau tidak tau musibah apa yang aku sedang hadapi”. Perempuan itu tidak tahu bahwa itu adalah Nabi hingga seseorang memberitahunya. Kemudian dia datang ke rumah Nabi dan tidak mendapati penjaga di rumah beliau. Lalu berkata “Aku tidak mengetahui bahwa itu engkau”. Maka Nabi berkata “Sesungguhnya kesabaran itu (seharusnya) ada pada awal musibah”. Hadist ini merupakan lafadz dari Bukhari.

Kesimpulan

Maka jika Rasulullah melarang perempuan untuk berziarah, tentu Rasul tidak akan mengajarkan do’a berziarah kepada Aisyah. Dan tentu pula Rasulullah akan meminta wanita yang menangis di kuburan tersebut untuk pergi dan melarangnya secara spesifik. Maka dengan beberapa dalil diatas, para ulama menyimpulkan bahwa para shahabiyah pada saat itu juga melakukan ziarah kubur.

Nah sahabat Rihaal, setelah panjang lebar, paling tidak kita jadi tahu kan beberapa pendapat ulama terkait hukum ziarah kubur? Semoga artikelnya bermanfaat, ya! Dan jangan lupa untuk terus mencari tahu hukum-hukum agama dimanapun kalian berada!

86 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini