Bagian 2

  1. Tidak Wajib Menunaikan Shalat Jum’at.

Tidak ada kewajiban shalat Jum’at bagi musafir, yang dilakukan adalah shalat  zhuhur. Sebagaimana dilakukan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dalam hajinya. Karena ketika itu bertepatan dengan hari Jum’at, dan beliau tidak shalat Jum’at dan shalat zhuhur dijamak dengan shalat ashar.

Jika seorang musafir shalat Jum’at, tidak boleh menjamaknya dengan shalat ashar. Karena hal itu tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. (Majmu’ Fatawa 17/480 dan Syarhul Mum’thi’ 17/480).

  1. Tidak berpuasa Ramadhan.

Jika seseorang melakukan safar pda bulan Ramadhan, maka ia memperoleh keringanan untuk   tidak berpuasa. Sebagai gantinya, ia mengqadha puasa yang ditinggalkan tersebut pada hari lain di luar Ramadhan sejumlah hari yang ditinggalkannya. (QS. Al Baqarah 184).

  1. Membasuh Khuf (Sepatu Bot) Sampai Tiga Hari.

Orang safar juga mendapat keringanan mengusap khuf saat wudhu. Yakni saat berwudhu, tidak perlu melepas sepatu saat akn cuci kaki. Tapi cukup mengusap sepatu bot (khuf) yang dikenakan. Dengan syarat sepatu tersebut dikenakan dalam keadaan suci setelah berwudhu. Keringanan mengusap khuf bagi musaafir berlaku sampai tiga hari. Setelah lewat tiga hari, maka sepatu dilepas lalu berwudhu lagi dengan mencuci kaki. Setelah itu dapat dibasuh kembali saat wudhu. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan mengusap khuf selama tiga hari tiga malam bagi musafir dan sehari semalam bagi orang muqim” (Terj. HR. Muslim).

  1. Boleh Melakukan Shalat Sunnah Di Atas Kendaraan.

Musafir boleh melakukan shalat sunnah semisal qiyamul lail, witir, dhuha, dan sunnah- sunnah lainnya dalam kendaraan kemanapun kendaraan tersebut mengarah dan menghadap. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat sunnah di atas kendaraannya dengan menghadap searah kendaraannya. Namun jika ingin melaksanakan shalat fardhu, beliau turun dari kendaraan dan menghadap kiblat”. (HR. Bukhari).

  1. Meninggalkan Shalat Sunnah Rawatib Kecuali Qabliyah Subuh.

Seorang Musafir juga memperoleh keringananan boleh meninggalkan shalat sunnat rawatib (qabliyah dan ba’diyah). Kecuali shalat sunnah qabliyah subuh, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah sama sekali meninggalkannya, baik saat safar apalagi muqim. Berkenaan dengan hal ini Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersafar adalah mengqashar shalat fardhu dan tidak mengerjakan shalat sunnah rawatib qabliyah dan ba’diyah. Yang biasa beliau tetap lakukan adalah shalat witir dan shalat sunnah qabliyah shubuh. Beliau tidak pernah meninggalkan kedua shalat ini baik ketika bermuqim dan ketika bersafar.” (Zaadul Ma’ad, 1/456).

Catatan Penting: Pertama, Seorang Musafir memperoleh keringanan-keringanan dia atas jika safar yang dilakukakannya memenuhi kriteria sebagai perjalanan yang disebut safar sebagaimana dijelaskan dalam definisi safar. Kedua, Keringanan tersebut juga hanya berlaku bagi musafir yang melakukan safar taat dan safar mubah. Musafir safar maksiat tidak berhak atas rukhsah di atas. Ketiga, Meskipun orang yang bersafar mendapatkan keringanan seperti di atas, namun ia akan dicatat mendapatkan pahala seperti ia muqim. Dengan syarat ia terbiasa melakukan ibadah-ibadah tersebut saat muqim.

 

 


627 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tutup Menu