Belajar Sejarah Indonesia – Uzbekistan bersama Ust. Salman (Guru Ust. Felix Siauw)

Belajar Sejarah Indonesia – Uzbekistan bersama Ust. Salman (Guru Ust. Felix Siauw)

Sobat Rihaal – Samarkand adalah tempat mukimnya 4 orang ulama Polymath yang dalam sejarah Jawa dikenal sebagai Walisepuh atau Walisongo. Bagaimana kisahnya? Dan bagaimana pula sejarah hubungan antara Indonesia dengan Uzbekistan? Mari kita simak bersama sejarah yang disampaikan oleh Ust. Salman.

Mereka adalah Maulana Ahmad Jamaludyn Husayn Al-Akbar (Syekh Jumadil Kubro), Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subakir), Maulana Ishaq As-Samarqand (Syekh Ishak Asmarkondi) dan Maulana Malik Ibrahim (Susuhunan Gresik).

Sejarah hubungan erat Uzbekistan dengan Indonesia

Sobat Rihaal, Uzbekistan dengan Indonesia memiliki hubungan erat sejak lama. Ada beberapa hal yang menjadi catatan sejarah hubungan erat antara Uzbekistan dengan Indonesia, di antaranya adalah:

1. Generasi awal walisongo, juga duta dakwah pelopor (walisepuh) yang mengislamkan Jawadwipa berasal dari Samarkand.

2. Para Walisongo yang tiba pada 1408 itu dipimpin oleh Sayidul Auliya, Maulana Malik Ibrahim yang berdakwah di Leran, Gresik.

3. Dakwah Walisongo generasi pertama itu terus dilanjutkan oleh putra dan murid-murid mereka, di antaranya adalah Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) yang berdakwah di Ampel Denta (Surabaya).

4. Sunan Ampel ini adalah putra dari Sunan Gresik dan Puteri Dewi Chandrawulan binti Prabu Kiyan (Raja Campa).

5. Sunan Ampel ini pula yang jadi tuan Kadi (Al-Qadhi, hakim syari’at) di kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yakni Demak Bintoro pada 1478. Beliau juga adalah guru ngaji dari Sultan Demak, yakni Rd. Fatah alias Sultan Muhammad Al-Fattah.

Info Paket Umroh & Wisata

Strategi memilih duta dakwah

Perlu kita pahami juga bahwa keberhasilan dakwah Walisongo ditopang dengan strategi memilih duta dakwah terbaik. Duta dakwah terbaik tersebut diantaranya adalah :

1. Maulana Malik Ibrahim dari Samarkand tersebut adalah seorang ulama Polymath yang ahli dalam ilmu pemerintahan dan tata negara.

2. Beliau juga pernah diangkat sebagai penasihat Prabu Kiyan di Campa. Bahkan, menikahi puteri kedua sang prabu.

3. Sedangkan puteri pertama Prabu Kiyan, yakni Dewi Chandrawati jadi Praneswari Prabu Bhre Kertabhumi Brawijaya V di Keraton Trowulan Mojopahit.

4. Maka dakwah Maulana Malik Ibrahim mendapatkan apresiasi positif dari Raja Majapahit karena mereka sama-sama menantu dari penguasa Campa. Bahkan Maulana Malik Ibrahim difasilitasi untuk membangun madrasah di Leran, Gresik.

5. Oleh karena itu, amal dakwah Sunan Gresik pun bermakna politis-strategis tidak semata mengislamkan rakyat jelata tetapi juga mengislamkan elit politik dan penguasa, agar Islam dapat dijalankan oleh kekuasaan.

Story of Uzbekistan, 2017 by Rihlah Dunia

Amal dakwah para Walisongo

Berikutnya, berdirinya kerajaan Islam di pulau Jawa juga, tidak lepas dari amal dakwah para Walisongo tersebut.

1. Sebelum menikahi Dewi Chandrawati dari Campa, Prabu Brawijaya V sempat menikahi puteri Dinasti Ming dari Tiongkok, namanya puteri Siu Banchi.

2. Saat hamil puteri Tiongkok tersebut terpaksa diceraikan oleh Prabu Brawijaya V karena sang Prabu jatuh cinta lagi kepada putri Campa, yakni Dewi Chandrawati. Syarat pernikahannya sangat berat, sang Prabu harus menceraikan isteri-isterinya.

3. Akhirnya puteri Siu Banchi itu diceraikan dan dipulangkan ke Tiongkok dalam keadaan hamil besar. Sebelum kembali puteri Dinasti Ming tersebut transit di Palembang dam melahirkan putranya, yg dinamai Jin Bun.

4. Jin Bun inilah yg memiliki nama Islam, Muhammad al-Fattah alias Rd. Patah bin Brawijaya V. Belio inilah yg berguru kepada Sunan Ampel yang menggantikan Sunan Gresik sebagai Sayyidul Auliya (pemimpin para wali)

5. Puteri Siu Banchi ini ternyata tidak jadi pulang ke Tiongkok karena Prabu Arya Damar, raja Sriwijaya Palembang jatuh cinta kepadanya. Mereka pun menikah dan dikaruniai putra, Muhammad Husayn alias Rd. Kusen.

Baca juga : 

Jelajah Museum Makkah al-Mukaramah lil Atsar wa Turats dan Museum-Museum di Makkah

Akan Aku Timpakan kepada Mereka Dua Gunung Akhsyab

Dakwah dihentikan paksa

Dakwah majelis Walisongo tersebut, dari generasi ke generasi dalam Islamisasi Jawadwipa, dihentikan secara paksa oleh pemerintah kolonial saat generasi ke-10 pada 1837. Pihak kolonial menganggap bahwa majelis Walisongo itulah yang jadi aktor intelektual dibalik pemberontakan Jawa yang dipimpin Raden Mas Ontowiryo Pangeran Dwiponegoro, putra mahkota Sultan Ngajogjakarta Hadiningrat. Pangkal sebabnya adalah guru ngaji dari Diponegoro adalah Kyai Mojo yang merupakan anggota majelis Walisongo saat itu.

Story of Uzbekistan, 2017 by Rihlah Dunia

Inspirator RA. Kartini

Beberapa catatan sejarah mengungkapkan pula, di antara generasi akhir Walisongo itu juga adalah KH. Sholeh Darat yang menginspirasi RA. Kartini. Bahkan, Kartini juga terinspirasi dengan terjemahan Al-Qur’an dalam bahasa Jawa yang dihadiahkan KH. Sholeh Darat dlm frasa “minazh zhulumati ilannuur door duisternis tot licht” yang artinya “dari kegelapan menuju cahaya atau habis gelap terbitlah terang“.

Jasa Bung Karno dan Suharto

Bangsa Indonesia dihormati oleh bangsa Uzbek berkat jasa Bung Karno dan Pak Harto juga. Bung Karno berkenan menerima undangan Nikita Kruschev ke Moskwa dengan dua syarat:

1. Hentikan penindasan komunis Sovyet pada rakyat Muslim di Samarkand.

2.Temukan segera makam Imam Bukhari dan muliakanlah para ulama penerusnya.

Sedangkan jasa Pak Harto adalah penguasa dunia Islam yang termasuk paling awal mengakui kemerdekaan Uzbekistan, lepas dari USSR dan CIS pada tahun 1992.

Info Paket Umroh & Wisata

Sobat Rihaal, demikianlah sejarah hubungan baik dan erat antara negara kita Indonesia dengan Uzbekistan. Semoga kita juga bisa selalu menjaga hubungan baik antar dua negara ini sebagai sesama umat muslim dengan tujuan dakwah Islam tentunya.

Penulis : Ust. Salman

Editor : Rihaal Media

175 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini