Al Aqsha dan Kota Para Nabi

Al Aqsha dan Kota Para Nabi

Masjid Suci Ketiga di Dunia, Al Aqsha di Palestina

Bismillah…

Sobat Rihaal yang dimuliakan Allah, jika sobat adalah seorang pecinta perjalanan dan hobi bepergian, akan sangat rugi jika sobat tidak merencanakan perjalanan ke tiga lokasi ini. Kenapa? Karena mengunjunginya termasuk mengikuti perintah Allah dan RasulNya, tentu berlimpah pahala dan barokah. Dimanakah itu? Ya, lokasi yang dimaksud adalah tiga masjid yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.

“Tidak dipandang sebagai perjalanan yang utama kecuali kepada tiga masjidku ini, al-Masjidil Haram dan al-Masjidil Asha’. Shalat di dalam masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di Masjid lainnya, kecuali di al-Masjidil Haram” (HR Bukhari, Muslim dan Ahmad, Abu Daud, an Nasai dari Ibnu Majah yang bersumber dari Abu Hurairah).

“Janganlah memaksakan (berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul saw, dan Masjid Al Aqsha.” (HR Bukhari)

Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsi, “Barangsiapa yang berziarah kepadaKu dengan berkunjung ke Ka’bah (Masjid Haram) atau masjid Rasulullah SAW (Masjid Nabawi) dan pada Baitul Maqdis, lalu meninggal dunia (pada saat-saat itu) matinya termasuk mati syahid.” (HQR Dailami yang bersumber dari Anas r.a).

Dalam Shahih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu, ia mengatakan,

Wahai Rasulullah, masjid manakah yang pertama kali dibangun di muka bumi?” Beliau menjawab, “Masjid al-Haram.” Aku kembali bertanya, “Kemudian?” Beliau menjawab, “Masjid al-Aqsha.” Kutanya lagi, “Berapa tahunkah jarak pembangunan keduanya?” Beliau kembali menjawab, “40 tahun. Dimanapun engkau menjumpai waktu shalat, maka shalatlah, karena tempat (yang engkau jumpai itu) adalah masjid.”

Kali ini mari menapaki jejak peradaban Islam di bumi para nabi dan syuhada, Al Quds (Yerusalem) Palestina dimana Masjid Al Aqsha berdiri. Di antara sobat sekalian mungkin ada yang sudah sering mendengar bahkan sudah hapal dengan ayat ini.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra: 1)

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anbiya: 81)

Kedua ayat ini merupakan firman Allah SWT yang dengan jelas menyatakan kesucian Masjid Al Aqsha di Palestina atau yang disebut pula dengan Baitul Maqdis (tempat yang suci).

Rasulullah SAW bersabda, “Ketika orang-orang Quraisy mendustakan aku, aku berdiri di Hijr (Hijr Ismail) kemudian Allah memperjalankan aku ke Baitul Maqdis…” (Muttafaqun‘alaih)

Yerusalem (al-Quds) merupakan kota para nabi. Nabi-nabi yang pernah diutus di tanah suci ini antara lain Nabi Daud as, Nabi Sulaiman as, dan Nabi Isa as. Kaum muslimin mengimani kenabian dan kerasulan mereka.

Bagi umat Islam, Yerusalem adalah Batul Maqdis yang berarti kota yang suci. Tepatnya kota suci ketiga setelah Mekkah dan Madinah. Di kota ini pula berdiri masjid yang sangat bersejarah sekaligus tertua di dunia setelah Masjidil Haram, yakni Masjid Al Aqsha, kiblat pertama kaum muslimin.

Yerusalem juga menjadi saksi pengingkaran kaum Bani Israil akan kebenaran ajaran Islam, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dari sekian banyak pengingkaran Bani Israil yang paling mencolok adalah ketika mereka hendak memasuki Yerusalem dan diperintahkan bersujud seraya memohon ampun kepada Allah SWT, namun mereka malah mengganti perintah tersebut.

“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya dengan bersujud, dan katakanlah:”Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik. Lalu orang-orang yang berbuat zhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksaan dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (QS Al Baqarah: 58-59)

Selain itu, Masjid Al Aqsha juga menjadi ikon kesucian Baitul Maqdis itu sendiri. Bangunan utama Masjid Al Aqsha memiliki 26 pintu. Pintu yang berhadapan dengan mihrab disebut Green Brazen Gate yang dilapisi kuningan keemasan. Pintu ini sangat berat sehingga hanya orang kuat yang dapat menggeser engselnya.

Di sisi kanan dari halaman dinding (sepanjang tembok Barat di area al Haram asy Syarif) ditunjang oleh pilar-pilar marmer dan diplester. Di bagian belakang (atau sebelah utara dinding di area al Haram as Syarif) adalah pilar-pilar berkubah. Bagian tengah bangunan utama ditutupi atap yang sangat kuat, melengkung hingga menopang kubah megah. Masjid Al Aqsha saat ini adalah masjid yang dibangun secara permanen oleh Khalifah ‘Abd al Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah pada tahun 66-73 H. Di masa Rasulullah SAW saat melakukan Isra’ Mi’raj, yang dimaksud Masjid Al Aqsha adalah keseluruhan wilayah yang meliputi al Haram asy Syarif. Adapun di masa sang khalifah, Masjid Al Aqsha yaitu yang berada di sisi tenggara al Haram asy Syarif menghadap ke kiblat (kota Mekkah).

Al Aqsha berlokasi di sebuah area yang berbentuk persegi empat (di al Haram asy Syarif) dengan luas sekitar 133.950 meter persegi yang dirancang. Masjid ini berbentuk serambi kiblat dan mampu menampung ribuan jamaah.

Sejarah Masjid Al Aqsha telah melewati berbagai masa dan bermacam penguasa. Selama masa-masa itu telah terjadi berbagai penodaan dan penyucian terhadapnya. Selama Perang Salib, Augustinian mengubah Masjid Al Aqsha menjadi Istana Baldwin I (tahun 1104). Lalu pada masa Ayyubiyah dan Mamluk, Yerusalem berhasil direbut oleh Shalahudin  pada 2 Oktober 1187 dan Masjid Al Aqsha kembali menjadi tempat ibadah kaum muslimin. Keponakan Shalahudin Al Ayyubi yakni Al Malik Al Mu’azzam ‘Isa (1218-1227) merestorasi bagian lain Al Aqsha dan menambah serambi muka masjid.

Terakhir, hingga saat ini kesucian Masjid Al Aqsha kembali dinodai oleh penjajah Israel, berkali-kali dan terus-menerus mengalami penodaan, pelecehan bahkan ancaman dari kaum Zionis demi mewujudkan ambisi mereka mendirikan kuil Yahudi di area tersebut.

Nah, demikian sobat sedikit pemaparan tentang Baitul Maqdis, kota suci para nabi dan Masjid Al Aqsha di Yerusalem, Palestina. Semoga kelak kita bisa shalat berjamaah di sana dan Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin atas penjajahan yang terjadi di sana. Aamiin yaa Rabbal’alamiin…

4,894 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini