Ukazd, Sentral Perdagangan Zaman Jahiliyah

Ukazd, Sentral Perdagangan Zaman Jahiliyah

Pada tulisan kali ini, kita akan membahas hal yang cukup ringan, yaitu mengenal sedikit sejarah singkat pasar yang terdapat di kota Makkah, serta mengenal pasar-pasar yang ada saat ini. Tidak bermaksud untuk mengajak pembaca agar bersifat konsumtif, dan banyak melakukan aktivitas di pasar, melainkan lebih kepada sebuah informasi.

Perniagaan merupakan kebiasan orang –orang Quraisy saat itu, yang bahkan kebiasaan ini tak mengenal jarak dan waktu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Quran.

لِإِيلَٰفِ قُرَيۡشٍ ١  إِۦلَٰفِهِمۡ رِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِ ٢

Artinya: “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.” (QS. Quraisy [106]: 1-2)

Untuk melakukan sebuah perniagaan, orang Quraisy biasa mengadakan perjalanan terutama untuk berdagang ke negeri Syam pada musim panas dan ke negeri Yaman pada musim dingin. Dalam perjalanannya mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa-penguasa dari negeri-negeri yang dilaluinya. Ini adalah suatu nikmat yang amat besar dari Tuhan mereka. Oleh karena itu, sudah sewajarnyalah mereka menyembah Allah yang telah memberikan nikmat itu kepada mereka.

Ialah pasar Ukazd, Mijnah dan Dzul Majaz, yang menjadi pusat perdagangan kota Makkah di Zaman Jahiliyah. Pada masa awal-awal masuknya Islam, lokasi dan penamaan daerah itu tidak ada perubahan dan masih digunakan. Dijelaskan dalam Shohih Bukhari, bahwa lokasi pasar Ukazd, terletak di antara kota Makkah dan Thaif, yakni sebelah seletan kota Makkah mengarah ke arah timur. Dan di pasar inilah sentral perniagaan mereka, yakni tempat perjanjian jual beli berlangsung, dan aktivitas jual beli lainnya.

Sedangkan untuk pasar Mijnah terletak di bawah kota Makkah, berdekatan dengan Gunung al-Ashfar. Pasar yang terbentang 12 mil ini merupakan tempat bertransaksinya suku kinanah. Adapun untuk pasar Dzul Majaz, letaknya berdekatan dengan Arafah. Tepatnya berada di balik hamparan Arafah. Dan pasar ini merupakan pasar Kabilah Hudzail.

Dengan nama dan lokasi yang sama dengan zaman jahiliyah, Kaum muslim pun tetap melakukan aktivitas perniagaannya. Semangat berniaga kaum Quraisy dan bangsa Arab saat itu memang sudah mendarah daging, tak terkecuali bagi para sahabat Nabi.

Namun, para sahabat sempat merasa ragu, dan menghentikan aktivitas perniagaan mereka, saat di mana mereka sedang berada di Mina, dan sedang melakukan serangkaian ibadah haji. Karena biasanya, kaum Quraisy zaman jahiliyah melakuakan perniagaan besar saat momen haji berlangsung.Akan tetapi setelah datangnya Islam sahabat merasa ragu, apakah perniagaan diperbolehkan, dan dibenarkan oleh Islam saat melakukan serangkaian ibadah haji?. Menjawab keraguan Sahabat Nabi Saw. turunlah QS. Al-Baqarah: 198

لَيۡسَ عَلَيۡكُمۡ جُنَاحٌ أَن تَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡۚ فَإِذَآ أَفَضۡتُم مِّنۡ عَرَفَٰتٖ فَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ عِندَ ٱلۡمَشۡعَرِ ٱلۡحَرَامِۖ وَٱذۡكُرُوهُ كَمَا هَدَىٰكُمۡ وَإِن كُنتُم مِّن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلضَّآلِّينَ ١٩٨

Artinya: “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam (bukit Quzah di Muzdalifah). Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar Termasuk orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 198)

Seiring berjalannya waktu, konsep, aktivitas, serta lokasipun mengalami perkembangan. yang mana pasar saat itu hanya berada pada beberapa titik dan hanya menjual beberapa macam produk yang terbatas. Kini semakin bertumbuh. Tercatat,pada tahun ke 3 Hijriyah saja,jumlah pasar sudah mencapai 30 lokasi, dengan menjual berbagai macam produk yang lebih beragam. Sebut saja di antara ketigapuluh pasar itu adalah: Suq al-Lail, al-Hadadiyin, Khidzaiyin, al-Faqihah, Aruthab, Asa’ah, al-Hathab dan lain-lain.

Di era Modern saat ini, Pasar di Makkah telah banyak mengalami perkembangan dan perubahan. Biasanya pasar-pasar di kota makkah terletak dibawah bangunan hotel atau apartemen setempat. Hal ini dapat kita saksikan, ketika kita hendak pergi ke Masjidil Haram, kita akan melintasi sederetan pertokoan modern di tepi jalan. Produk yang ditawarkanpun beragam, dari yang menjual makanan sampai yang menjual perlengkapan ibadah. Dari yang menjual barang-barang tradisional hingga yang menjual peralatan elektronik. Bahkan di sana juga tersedia restoran-restoran dengan cita rasa internasional.

mmm. membacanya saja, sudah mampu menghipnotis kita untuk berjalan-jalan melihat keramaiannya, melihat produk-produknya, bahkan mencicipi makanan-makanan yang disajikannya.

Sebagai pengingat buat pembaca sekalian, yang hendak berkunjung ke kota Mekkah, jangan niatkan kunjungan ke Makkahnya untuk mengunjungi pasar-pasarnya ya? Hehhe.

Tetap niatkan untuk beribadah…. ke pasar boleh boleh saja. Tapi harus tetap ingat waktu. Dan jangan dijadikan rutinitas selama berada di sana.

 

1,540 total views, 19 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini