Tradisi Mudik dan Membumikan Silaturrahmi

Tradisi Mudik dan Membumikan Silaturrahmi

Alhamdulillaah… udah mulai libur sekolah dan kerja nih… saatnya mudik…

Liburan, lebaran, mudik dan silaturrahmi seakan menjadi satu kesatuan aktivitas rutin tahunan kaum muslimin di Indonesia (mungkin di belahan bumi Allah lainnya juga). Maha Besar Allah, yang menuntun manusia sedemikian arupa agar hidup mereka senantiasa berharga. Betapa indah ukhuwah islamiyah, silaturrahmi telah menjadi budaya di negara kita…

Silaturrahmi selain menguatkan ikatan persaudaraan, juga menjanjikan balasan kebaikan  bagi setiap insannya. Ingin panjang umur dan luas rezeki? Salah satunya dengan silaturrahmi. Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah melakukan silaturahmi.”

Ramadhan memang bulan yang penuh keberkahan. Selain kebahagiaan untuk melakukan ibadah puasa, terdapat kebahagiaan lain menjelang Ramadhan berakhir, dimana kita menyucikan diri menyambut hari yang fitri. Dalam momen Idul Fitri ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat indonesia melakukan tradisi mudik.

Di tengah kemajuan teknologi dan canggihnya alat komunikasi saat ini, tradisi mudik lebaran untuk  berkumpul sanak keluarga, mudik tetap tidak tergantikan. Hal ini bisa kita lihat di tempat-tempat seperti stasiun, terminal, dermaga, bandara serta tempat-tempat umum lain. Orang-orang rela berjubel berdesak-desakan demi melaksanakan tradisi pulang halaman saat lebaran.

Mudik, dalam KBBI berdasar dari kata “udik”, yaitu daerah hulu sungai (daerah sumber air), selanjutnya lebih luas, “udik” diartikan menjadi desa, dusun, kampung. Dari kata “udik” inilah KBBI mendifinisaikan mudik menjadi (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai), dan dimaknai pulang ke kampung halaman. Dalam bahasa Jawa Ngoko, mudik merupakan akronim dari ‘Mulih dilik’ yang berarti pulang sebentar saja.

Mudik merupakan tradisi petani Jawa sejak zaman dahulu kala, bahkan ada yg mengatakan sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Para petani yang merantau atau mencari lahan untuk membuka ladang pertanian, akan pulang ke desa untuk membersihkan kuburan nenek moyang.

Istilah mudik lebaran berkembang sekitar tahun 1970-an. Saat itu Jakarta sebagai ibukota Indonesia menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang mengalami perkembangan pesat. Saat itu sistem pemerintahan Indonesia tersentral di sana dan ibukota negara melesat dengan berbagai kemajuannya dibandingkan kota-kota lain di Tanah Air.

Jakarta tampil bak negeri makmur, menarik dan menjadi kota tujuan untuk para masyarakat desa mengubah nasib. Secara berbondong-bondong mereka datang ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.  Setelah mendapatkan perkerjaan, mereka hanya mendapatkan libur panjang pada perayaan lebaran saja. Momentum inilah yang dimanfaatkan untuk kembali ke kampung halaman.

Karena terjadi setiap tahun pada perayaan lebaran, semakin lama mudik dianggap ada kaitannya dengan ajaran Islam dan dianggap merupakan rangkaian ibadah bulan Ramdahan. Hal inilah yang membuat banyak orang lebih antusias menyambut mudik lebaran daripada mengejar pahal puasa di sepertiga malam terakhir bulan Ramdahan, malam lailatul qadr.

Mudik memang tidak disebut dalam Al-Quran maupun As Sunnah. Namun lebaran merupakan momentum dan kesempatan untuk bersilaturahmi kepada sanak keluarga dan saudara-saudara lain. Dengan bersilaturahmi kepada sanak kerabat merupakan salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. Keberkahan umur dan rizki akan diraih, hanya dengan bersilaturohmi.

Dari Jubair bin Muth’im, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kerabat.”

Memang, waktu untuk saling memaafkan dan bersilaturahmi tidak terbatas pada lebaran saja. Namun momentum ini bisa dimanfaatkan untuk melakukan introspeksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain. Jangan menunggu orang lain untuk meminta maaf, apalagi sampai memutus tali silaturahmi kita terhadap sesama.

Allah SWT berfirman, “Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan peliharalah hubungan silaturahmi.” (QS An Nisa: 1)

Bersilaturahmi dan berbuat baik merupakan hal yang sangat penting, apalagi jika bersilaturahmi kepada orang tua, merupakan kewajiban dan amal salih. Merupakan aktifitas ibadah yang mulia dan berpahala, sehingga banyak sekali anjuran didalam Al-Quran dan Hadist yang memerintahkan serta mengajak untuk bersilaturohmi.

Dengan mudik ke kampung halaman, menuju rumah kerabat, terutama orang tua, adalah bentuk bakti seorang anak. Kebaikan dan pengorbanan orang tua tidak akan terhitung jumlahnya. Maka sebagai anak, sudah seharusnya untuk senantiasa mengingat jasa orang tua yang telah membesarkannya.

Mudik adalah momen yang mengingatkan pentingnya menghormati orang tua, serta senantiasa mengingatkan bahwa sejauh apapun jarak memisahkan, hubungan keluarga, silaturahmi antar saudara akan terus dibawa.

Selamat mudik sahabat, selamat bersilaturrahmi bersama keluarga dan sanak saudara. Selalu waspada dan semoga selamat sampai tujuan. Aamiin…

144 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini