[Tokoh Islam] Mengenal Sosok Ulama Besar Indonesia yang Menetap di Tanah Suci: Syekh Nawawi al-Bantani

[Tokoh Islam] Mengenal Sosok Ulama Besar Indonesia yang Menetap di Tanah Suci: Syekh Nawawi al-Bantani
Sumber: www.kabarmakkah.com

Saat membaca atau mendengar nama Syekh Nawawi Al-Bantani, adakah yang tak mengenal sosok beliau? Jika iya, maka sungguh disayangkan karena betapa beliau adalah seorang yang sangat patut diteladani melalui karya dan ilmunya. Salah satu ulama kebesaran Indonesia yang mendunia. Namanya bahkan masih hidup dan terus menyertai umat dalam memberikan petuah ajaran Islam yang menyejukkan.

Mari kita menggali sedikit profil beliau. Nama lengkap Syekh Nawawi yakni Abu Abd Al Mu’ti Muhammad Nawawi ibn Umar al Tanara al Jawi al Bantani. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Muhammad Nawawi al Jawi al Bantani. Dilahirkan di Kampung Tanara, Serang, Banten pada tahun 1815 M atau 1230 H. Wafat pada 25 syawal 1314 H atau 1897 M, dimakamkan di Ma’la, dekat makam Siti Khadijah ra, Ummul Mukminin istri Nabi Muhammad SAW.

Ayah beliau bernama Syekh Umar, seorang pejabat penghulu yang memimpin masjid. Dari silsilahnya, Syekh Nawawi merupakan keturunan kesultanan ke 12 dari Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati, Cirebon), yaitu keturunan dari putra Maulana Hasanuddin (Sultan Banten I) yang bernama Sunyararas (Tajul ‘Arsy). Nasabnya bersambung dengan Nabi Muhammad SAW melalui Imam Ja’far ash Shadiq, Imam Muhammad al Baqir, Imam Ali Zainal Abidin, Husain dan Fatimah Az Zahra.

Di usia 15 tahun, Syekh Nawawi mendapat kesempatan menunaikan ibadah haji, lalu di sana beliau belajar ilmu kalam, bahasa dan sastra Arab, ilmu hadist, tafsir, dan ilmu fiqh. Tiga tahun kemudian (tahun 1833) Syekh Nawawi kembali ke tanah air dan dengan bekal ilmu yang didapat beliau membantu ayahnya mengajar para santri.

Kecerdasan Syekh Nawawi telah terlihat sejak kecil dan mendapat simpati dari masyarakat. Kedatangan beliau dari Mekkah membuat pondok pesantren yang dibina ayahnya membludak didatangi para santri dari berbagai pelosok. Namun, beberapa tahun kemudian beliau memutuskan untuk kembali ke Mekkah dan mewujudkan impiannya untuk menetap di tanah suci.

Di Mekkah, syekh Nawawi belajar kepada guru-guru yang terkenal, sebut saja Syekh Ahmad Khatib Sambas (penyatu Tarekat Qadiriyah-Naqsyabandiyah di Indonesia) dan Syekh Abdul Gani Duma, ulama asal Indonesia yang juga bermukim di sana. Lalu beliau juga berguru kepada Sayyid Ahmad Dimyati dan Ahmad Zaini Dahlan, yang keduanya tinggal di Mekkah. Kemudian di Madinah, ia belajar kepada Syekh Muhammad Khatib al Hanbali lalu belajar kepada ulama-ulama besar di Mesir dan Syam (Suriah/Syria). Guru beliau di Mesir yakni Syekh Yusuf Sumbulawini dan Syekh Ahmad Nahrawi.

Syekh Nawawi menimba ilmu di Mekkah selama 30 tahun. Pada tahun 1860, beliau mulai mengajar di lingkungan Masjidil Haram. Prestasi mengajarnya sangat memuaskan dan beliau tercatat sebagai ulama di sana. Pada tahun 1870 kesibukannya bertambah karena harus menulis kitab. Hal ini beliau lakukan demi permintaan sahabatnya dari tanah air yang membutuhkan untuk dibacakan kembali ke daerah asalnya. Sebagian besar karya beliau berisi komentar-komentar (syarh) dari karya ulama populer sebelumnya dan dianggap sulit dipahami.

Sebelum naik cetak, naskah kitab beliau akan ditinjau dan dibaca terlebih dahulu oleh ulama-ulama besar lainnya, sehingga karyanya cepat tersiar ke berbagai penjuru dunia sampai daerah Mesir dan Syria. Karyanya tersebar luas dengan bahasa yang mudah dipahami dan padat berisi. Syekh Nawawi lalu mendapat kehormatan sebagai salah satu ulama besar pada abad ke 14 H atau 19 M dan mendapat gelar A’yan ‘Ulama al Qarn, Al Imam al Muhaqqiq wa al Fahamah al Mudaqqid, dan Sayyid ‘Ulama al Hijaz.

Kesibukan dalam menulis membuat Syekh Nawawi kesulitan dalam mengatur waktu sehingga ia seringkali mendelegasikan siswa senior untuk mengajar para pemula. Cara ini kelak ditiru sebagai metode pembelajaran di beberapa pesantren di pulau Jawa dimana para santri dianjurkan menguasai ilmu dasar terlebih dahulu sebelum belajar langsung kepada Syekh Nawawi agar proses pembelajaran lebih mudah dipahami.

Sebenarnya karya-karya Syekh Nawawi tidak hanya banyak dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia, tetapi juga di seluruh wilayah Asia Tenggara. Tulisan-tulisannya dikaji di lembaga-lembaga pondok tradisional di Malaysia, Filipina, dan Thailand. Karyanya diajarkan di sekolah-sekolah agama di Mindanao (Filipina Selatan) dan Thailand.

Menurut Ray Salam T. Mangondanan, peneliti di Institut Studi Islam, University of Philippines, di sekitar 40 sekolah agama di Filipina Selatan masih menggunakan kurikulum tradisional. Selain itu, Sulaiman Yasin, seorang dosen di Fakultas Studi Islam, Universitas Kebangsaan Malaysia, mengajar karya-karya Syekh Nawawi sejak periode 1950-1958 di Johor dan beberapa sekolah agama di Malaysia.

Di kawasan Indonesia, menurut Martin Van Bruinessen, yang sudah meneliti kurikulum kitab-kitab rujukan di 46 pondok pesantren klasik yg tersebar di Indonesia, karya-karya Syekh Nawawi memang mendominasi kurikulum pesantren. Hingga ia melakukan penelitian pada tahun 1990, diperkirakan bahwa 22 judul tulisan Syekh Nawawi masih dipelajari di sana.

Dari 100 karya populer yang dijadikan contoh penelitian yang banyak dikaji di pesantren-pesantren terdapat 11 judul populer dari karya Syekh Nawawi. Penyebaran karyanya tidak terlepas dari peran para muridnya, termasuk tokoh nasional Islam di Indonesia yang cukup berperan dalam pendidikan Islam dan perjuangan nasional.

Diantaranya adalah KH Hasyim Asy’ari dari Tebuireng, Jombang (pendiri Nahdhatul Ulama); KH Kholil dari Bangkalan, Madura; KH Asy’ari dari Bawean (yang menikah dengan putri Syekh Nawawi, Nyi Maryam); KH Najihun dari Kampung Gunung, Mauk, Tangerang (yang menikahi cucu perempuan Syekh Nawawi, Nyi Salmah binti Rukayah binti Nawawi); KH Tubagus Muhammad Asnawi dari Caringin Labuan, Pandeglang, Banten; KH Ilyas dari Kampung Teras, Tanjung Kragilan, Serang Banten; KH Abd Gaffar dari Kampung Lampung, Kec. Tirtayasa, Serang Banten; KH Tubagus Bakri dari Sempur, Purwakarta; serta KH Jauhari, Ceger, Cibitung, Bekasi Jawa Barat.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa digali dari sosok Syekh Nawawi al Bantani. Semoga dengan mengenal sedikit profil beliau dapat menambah semangat kita untuk terus memperbaiki diri dengan terus belajar terutama ilmu Agama serta mencontoh teladan baik beliau.

Sumber: Buku “Orang-orang Muslim Berjasa Besar Pada Dunia” karya Imam Ahmad Ibnu Nizar

280 total views, 5 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini