Tempat Mustajab Untuk Berdoa di Baitullah

Tempat Mustajab Untuk Berdoa di Baitullah

BismillahDear sahabat Rihaal, tidak terasa kita telah memasuki bulan Dzulkaidah dan sebentar lagi musim haji akan tiba, ketika umat muslim sedunia akan menunaikan rukun Islam kelima. Bagi sahabat yang akan berangkat haji di kesempatan tahun ini semoga Allah SWT berikan kesehatan, kemudahan segala urusan dan menjadikan haji yang mabrur. Adapun sahabat yang belum berangkat, semoga diberikan kesempatan oleh Allah SWT di waktu yang telah direncanakan. Aamiin

Bicara tentang ibadah di Baitullah, baik haji maupun umrah, rugi sekali jika kita tidak mengetahui seluk beluk atau wawasan tentang tempat yang kita tuju ini. Salah satunya adalah tempat-tempat yang mustajab untuk berdoa. Mari mulai dari sebuah tempat dari bagian Ka’bah yang bernama Multazam. Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda, “Ini adalah Multazam terletak antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu Ka’bah.” (HR At Tabrani).

Multazam berasal dari kata iltazama yang artinya berpegang teguh, komitmen, kontinyu dan ditetapkan. Dinamakan Multazam karena di lokasi tersebut seluruh manusia berkomitmen untuk berdoa sambil mendekat, menempelkan kedua tangan, pipi, dan dada padanya. Multazam merupakan bagian dari bangunan Ka’bah dengan lebar sekitar dua meter, terletak di antara Rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah.

Dari Amr bin Syu’aib ra, ia menceritakan, “Aku melihat Rasulullah SAW menempelkan wajah dan dadanya di Multazam.” (HR Al Baihaqi). Adapun dari sahabat Hisyam bin Urwah ra ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW menempelkan tangan, dada, pipinya di Ka’bah.” (Mushanaf Abdurrazak No. 9048). Amr bin Syu’aib juga meriwayatkan, “Saya thawaf bersama Abdullah, ketika sampai di belakang Ka’bah, saya berkata: ‘Apakah kita tidak ta’awudz (berlindung diri) kepada Allah SWT dari adzab neraka?’ Beliau berkata: ‘Kita berlindung dengan (nama) Allah SWT dari neraka.’ Kemudian ia meneruskan thawafnya sehingga sampai ke Rukun Yamani dan mengusapnya, kemudian sampai di Hajar Aswad lalu mengusapnya, kemudian beliau berdiri di antara rukun (Hajar Aswad) dan pintu (Ka’bah). Maka beliau merapatkan dada, kedua tangan dan wajahnya. Kemudian beliau berkata: ‘Beginilah saya melihat Rasulullah SAW melakukannya.’” (HR Abu Daud)

Imam Syafi’i rahimahullah menganjurkan jama’ah ketika thawaf wada’ (tawaf perpisahan) diputaran terakhir untuk berhenti sejenak di Multazam dan dianjurkan berdoa. Adapun Ibnu Taimiyah berkata hal yang disukai (istihbab) untuk mendekat ke Multazam serta menempelkan kedua telapak tangan, dada, dan wajahnya ke Ka’bah. Berdoalah sesuai keinginan, karena hal ini dilakukan para sahabat pada saat mereka memasuki kota Makkah.

Perhatikan adab atau etika saat berdoa di Multazam. Pertama, tidak menyakiti orang lain. Berdoa di Multazam hukumnya sunah sedangkan menyakiti atau menzhalimi orang lain hukumnya haram. Kita berkewajiban untuk tidak menyakiti orang lain dengan bersandar pada kaidah fiqh, mendahulukan yang wajib daripada yang sunah. Jangan sampai keinginan kita untuk berdoa di Multazam membuat kita memaksakan diri berdesakan hingga tidak sadar ada orang lain yang terzhalimi.

Kedua, berikan kesempatan bagi orang lain. Tidak menguasai lokasi Multazam untuk berdoa merupakan salah satu bentuk kepedulian kita terhadap saudara muslim kita lainnya. Semua muslim memiliki hak yang sama untuk berdoa di lokasi tersebut, maka disarankan untuk tidak berlama-lama dan tidak di setiap putaran.

Ketiga, jaga kekhusyukan saat berdoa. Khusyuk dalam berdoa merupakan kunci dikabulkannya suatu permintaan. Rasulullah SAW bersabda, “Berdoalah kepada Allah SWT dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah SWT tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR At Tirmidzi)

Selanjutnya mari ke tempat mustajab lainnya, yakni Hijir Ismail (Al Hajar atau Hatim). Dalam sebuah hadits disebutkan, “Aku ingin sekali masuk ke Ka’bah dan sholat di dalamnya, lalu Rasulullah SAW menarik tanganku dan membawanya ke dalam Hijir (Ismail), sambil berkata: ‘Shalatlah di dalamnya jika engkau ingin masuk Ka’bah, karena ia merupakan bagian dari Ka’bah.’” (HR Abu Daud)

Hijir Ismail disebut pula dengan Al Hatim yang artinya terpotong, karena orang jahiliyah memotong pakaian mereka ketika berthawaf, sedangkan mereka berthawaf dalam keadaan telanjang. Hijir Ismail berbentuk setengah lingkaran, membentang dari luar sepanjang 21,57 meter. Hukum Hijir ini adalah bagian dari Ka’bah. Tidak sah bagi orang yang menerobos masuk tanpa mengelilinginya, karena Rasulullah SAW menjelaskan Hijir bagian dari Baitullah.

Tempat mustajab selanjutnya yakni Hajar Aswad. Dari Umar bin Khattab ra ia berkata, “Aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi mudharat maupun manfaat. Kalaulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, aku pun tidak akan melakukannya.” (HR Bukhari). Hajar Aswad terdiri dari dua kata yaitu Hajar yang berarti batu dan Aswad yang berarti hitam. Hajar Aswad berarti batu yang berwarna hitam kemerah-merahan. Batu ini tertanam di sudut selatan Ka’bah yang tingginya mencapai 1,10 meter dari dasar lantai, dengan panjang 25 cm dan lebar 17 cm. Terdapat 8 keping batu mirip dengan telur berada dalam bingkai setebal 10 cm. Aroma wangi yang khas merebak di sekitarnya. “Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih daripada salju, lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam.” (HR Bukhari)

Hajar Aswad adalah titik permulaan dan akhir dari pelaksanaan thawaf di Ka’bah. “Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika masuk Makkah ber-istilam (menyentuh) Rukun Hajar Aswad pada setiap beliau thawaf.” (HR Nasa’i). Jika tidak memungkinkan untuk mencium Hajar Aswad karena penuh dengan jamaah, maka disunahkan untuk tidak berdesakan, cukup dengan melambaikan tangan. “Sesungguhnya Rasulullah SAW berthawaf di Baitullah di atas untanya. Setiap melewati Hajar Aswad, beliau berisyarat ke arahnya (Hajar Aswad) dengan sesuatu yang ada pada beliau (tangan atau apa saja yang dipegang) dan bertakbir.” (HR Bukhari)

Tempat mustajab untuk berdoa yang terakhir yakni Rukun Yamani. Rukun artinya sudut, sedangkan Yamani adalah bangsa Yaman. Dinamakan demikian karena Rukun Yamani merupakan sudut atau sisi Ka’bah yang menghadap ke arah Negeri Yaman. “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW mengusap yang lainnya di Ka’bah selain dua rukun (Rukun Yamani dan Hajar Aswad).” (HR Bukhari). Hadits lainnya menyebutkan, “Sesungguhnya mengusap keduanya yakni Hajar Aswad dan Rukun Yamani dapat menghapus dosa-dosa.” (HR Ahmad). Adapun doa yang dianjurkan di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad yakni seperti disebutkan hadits berikut, “Aku mendengar Rasulullah SAW ketika berada di antara dua rukun ini yaitu Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad, membaca doa: ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api nerakah.’” (HR Al Hakim)

Nah, demikian sahabat beberapa tempat mustajab untuk berdoa di Baitullah yang wajib kita ketahui. Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah SWT untuk berdoa di tempat-tempat tersebut. Aamiin yaa Rabbal’alamiin….

Wallahu’alam bishowab.

(Sumber: Ensiklopedia Peradaban Islam Makkah karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec)

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp