[Sirah] Energi Kemenangan Puasa Ubaidah bin Harits (Pahlawan Badar)

[Sirah] Energi Kemenangan Puasa Ubaidah bin Harits (Pahlawan Badar)

Marhaban yaa Ramadhan…

Bulan mulia, bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan yang senantiasa dinantikan umat Islam… Seperti yang kita ketahui, bulan suci Ramadhan memiliki banyak kisah menyejarah penuh hikmah di dalamnya. Salah satunya adalah peristiwa Perang Badar.

Pada hari Jum’at, tanggal 2 Ramadhan tahun ke-2 H terjadi perang pertama dalam Islam yang dikenal dengan Perang Badar. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara Madinah dan Mekkah. Lembah ini diapit oleh dua bukit, yaitu di timur bukitnya bernama ‘Udwah al Qushwa’ dan di barat bukitnya bernama ‘Udwah ad Dunya’. Di sisi selatan, Lembah Badar dibatasi oleh bukit bernama bukit ‘al-Asfal’. Sejak masa sebelum Islam, lembah tersebut sudah menjadi jalur yang banyak dilintasi kafilah-kafilah dagang asal Mekkah atau Yaman yang hendak berniaga ke Syam (Suriah dan Lebanon).

Tanahnya yang subur karena memiliki campuran pasir dan tanah dengan beberapa mata air di lembah tersebut membuat para kafilah bisa singgah beristirahat di lembah ini dengan nyaman. Saat ini, lembah Badar menjadi salah satu kota yang berada di wilayah Provinsi Madinah dengan nama lengkap Kota Badar Hunain. Jarak kota ini dari Kota  Madinah mencapai sekitar 130 km.

Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 orang berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Mekkah yang lengkap bersenjata. Dalam perang ini, tentara Islam memenangkan pertempuran dengan 70 tentara musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan. Sisanya melarikan diri.

Perang ini adalah peristiwa yang luar biasa ketika tentara Islam yang kurang jumlah, lemah dari sudut kelengkapan dan berpuasa dalam bulan Ramadan memenangkan pertempuran Perang Badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat Islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keridhaan Allah. Orang yang berjuang demi mencapai keridhaan Allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan.

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS Al-Imran:123)

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas salah seorang syuhada yang gugur di medan Badar. Namanya tidak terkenal sebagaimana sahabat-sahabat lainnya, namun perjuangannya memberikan semangat dan kekuatan bagi kaum muslimin lainnya. Kiprahnya dalam membela Rasulullah Saw sangat dikagumi karena ia juga merupakan kerabat dekat Rasul. Beliau adalah Ubaidah bin Harits bin Abdul Muthalib atau dikenal sebagai Abu Ubaidah.

Dikisahkan pada perang Badar al-Kubra, orang yang pertama kali mengobarkan peperangan adalah Al-Aswad bin Abdul Asad Al-Makhzumi, seorang laki – laki yang bengis, kejam serta sangat buruk akhlaknya. Dengan sombongnya ia keluar dari barisan kaum musyrikin maju menyeruak ke tengah-tengah kaum muslimin seraya berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, aku pasti benar – benar akan mengambil air minum dari kolam kalian, atau aku akan menghancurkannya atau aku lebih baik mati karena nya.”

Ketika Al-Aswad bin Abdullah Asad keluar, maka ia disambut oleh Singa Allah (Hamzah bin Abdul Muthalib radhiyallahu’anhu). Lalu mereka berduel, satu lawan satu. Hamzah –Singa Allah- berhasil menebas kaki Al-Aswad hingga putus dan darahnya memuncrat mengenai kawan-kawan nya yang lain. Al-Aswad pun terjengkang jatuh dengan kaki penuh lumuran darah, saat dia berusaha menuju sahabat dan rekannya. Maka dia berjalan sambil merayap ke kolam, itu hanya demi untuk memenuhi sumpahnya. Namun Singa Allah Hamzah bin Abdul Muthalib dengan sigap membuntutinya lalu memukulnya hingga ia tewas di kolam tersebut.

Melihat kejadian ini pasukan kafir musyrik Quraisy terbakar emosi, maka keluar dari mereka tiga orang pembesar dari Quraisy yang masih satu keluarga. Yakni Utbah bin Rabi’ah, dan anaknya yakni Al-Walid bin Utbah dan saudara Utbah yakni Syaibah bin Rabi’ah. Mereka ingin duel (satu lawan satu).

Dengan gagah berani, tiga orang ksatria Islam maju menghadapi musuh-musuhnya. Mereka adalah pemuda dari kalangan Anshar. Dua bersaudara yakni Auf bin Al-Harits dan Muawwidz bin Al-Harits, satu lagi adalah Abdullah bin Rawahah. Mereka ingin menyambut tiga orang kafir Quraisy dan meladani perang tanding.

Ketiga orang kafir Quraisy bertanya : “Siapa kalian?”

Ketiga ksatria Islam menjawab, “Kami adalah orang – orang Anshar.”

Orang kafir itu berkata, “Kalian ini orang – orang mulia yang selevel dengan kami, hanya saja kami ingin duel dengan kaum kami sendiri. Kami hanya menginginkan kerabat paman kami.”

Salah seorang di antara orang – orang kafir musyrik itu ada yang berteriak dengan, “Wahai Muhammad, keluarkanlah orang – orang terpandang yang berasal dari kaum kami (yakni orang Quraisy).”

Menanggapi hal itu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Majulah engkau wahai Ubaidah bin Al-Harits, majulah engkau wahai Hamzah, majulah engkau wahai Ali.”

Ketiga ksatria Islam maju dengan gagah berani mendekati tiga orang kafir Quraisy terebut, lalu orang kafir itu bertanya, “Siapakah kalian ini?”

Ubaidah menjawab, “Aku Ubaidah.” Hamzah menjawab, “Aku Hamzah.”

Ali menjawab, “Aku Ali.” Orang kafir itu berkata, “Benar, kalian memang orang – orang mulia yang selevel dengan kami.”

Ubaidah radhiyallahu’anhu adalah sahabat yang paling tua diantara Hamzah dan Ali. Maka Ubaidah menghadapi Utbah bin Rabi’ah. Hamzah radhiyallahu’anhu menghadapi Syaibah bin Rabi’ah. Dan Ali radhiyallahu’anhu menghadapi Al-Walid bin Utbah.

Putra Utbah bin Rabiah, Walid bin Utbah maju menghadapi Ali bin Abi Thalib dan Ali berhasil membunuhnya. Kemudian majulah saudaranya Syaibah bin Rabiah dan paman Nabi SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib melayani tantangannya dan dengan mudah membunuhnya pula.

Melihat anak dan saudaranya tewas di hadapannya, Utbah sendiri yang maju menuntut balas. Kali ini ia dihadapi oleh Ubaidah bin Harits. Mereka laksana dua tiang yang kokoh, saling beradu pukulan dan tampaknya kekuatan mereka seimbang. Ubaidah berhasil memukul pundak Utbah hingga patah, tetapi Utbah berhasil memotong betis kaki Ubaidah, keduanya tampak sekarat. Ali dan Hamzah maju membunuh Utbah, dan mereka membawa Ubaidah ke tempat Nabi SAW sedang berteduh.

Nabi SAW meletakkan kepala Ubaidah di paha beliau, beliau mengusap wajahnya yang penuh debu. Ubaidah memandang beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, jika Abu Thalib melihat keadaanku ini, ia pasti akan mengetahui bahwa aku lebih berhak atas kata-kata yang pernah diucapkannya tersebut.

Ubaidah memang masih paman Nabi SAW dan sepupu dari Abu Thalib. Ketika kaum kafir Quraisy berniat untuk membunuh Nabi SAW, bahkan mereka menawarkan seorang anak muda sebagai pengganti. Abu Thalib dengan tegas berkata, “(kalian berdusta jika mengatakan) bahwa kami akan menyerahkannya (yakni Muhammad, tanpa kami melindunginya) sampai kami terkapar di sekelilingnya dan bahkan (untuk itu akan) menelantarkan anak-anak dan istri-istri kami sendiri.”

Nabi SAW tersenyum mendengar perkataannya, dan Ubaidah bertanya, “Apakah aku syahid, ya Rasulullah?”

“Ya.”Kata beliau, “Dan aku akan menjadi saksi untukmu!”

Sesaat kemudian Ubaidah meninggal, Nabi SAW menguburkannya di Shafra’, sebuah wadi antara Badar dan Madinah. Beliau sendiri yang turun ke kuburnya, dan beliau tidak pernah turun ke kuburan siapapun sebelumnya kecuali pada pemakaman Ubaidah bin Harits ini.

 Berkaitan dengan  perang tanding ini, Allah Subhanahu wa ta’ala sebutkan di dalam Alquran surat Al-Hajj ayat 19-24. “Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar,mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur-luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (Kepada mereka dikatakan): ‘Rasakanlah adzab yang membakar ini.’ Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang shalih ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik dan ditunjuki (pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji.” (QS. Al-Hajj: 19-24)

Berpuasa bukan halangan bagi kita untuk beraktivitas seperti biasanya, bahkan dapat memberi kita energi yang luar biasa dan kesempatan bagi kita untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar sebanyak-banyaknya. Karena telah terbukti pertolongan Allah itu senantiasa datang kepada hambaNya yang berjuang bersungguh-sungguh di jalanNya seperti pertolonganNya pada para ksatria Islam di peristiwa Badar. Semoga ridha Allah bagi seluruh syuhada Perang Badar. Wallahu’alam bishowab

 

255 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini