SHALAHUDDIN AL AYYUBI: WAZIR MESIR PENAKLUK YERUSSALEM

SHALAHUDDIN AL AYYUBI: WAZIR MESIR PENAKLUK YERUSSALEM

Panglima Muslim Penakluk Yerussalem

Dikisahkan, suatu ketika ada lelaki tua beragama Kristen bertanya kepada seorang panglima muslim. ia bukanlah sebaik-baiknya panglima penakluk konstantinopel, melainkan ia adalah panglima penakluk Yerussalem. Shalahuddin al Ayyubi. (Baca Juga: Sang Penakluk Damaskus & Sang Penakluk Cordoba)

Apa yang lelaki tua itu tanyakan? “Mengapa tuan tidak membalas musuh-musuh tuan?” . Tanyanya dengan penuh rasa keingintahuan.

Panglima pun menjawab: “ Islam bukanlah agama yang mengajarkan dendam, bahkan sangat mencegah umatnya melakukan hal atau perkara yang tidak berkeprimanusiaan. Islam mengajarkan kami untuk saling memaafkan, dan melupakan segala kekejaman musuh yang sebelumnya pernah mereka lakukan. “

Mendengar jawaban sang panglima, bergetarlah hati orang tua tersebut, dan berkata: “Betapa indahnya agama Tuan panglima. Pada akhir hayatku ini, dapatkah aku memeluk agamamu? “

Dengan sangat bahagia, panglima menjawab, “ucapkanlah dua kalimat syahdat”. MasyAllah

Lantas, siapakah panglima perang itu?

Ia adalah Yusuf bin Najmuddin al Ayyubi bin Syadi atau yang lebih kita kenal dengan Shalahuddin al Ayyubi (Saladin dalam sebutan Barat). Ia adalah seorang jendral dan pejuang muslim, berkebangsaan suku Kurdi. Shalahuddin lahir pada tahun 534 H/ 1137 M di kota Tikrit, Irak. Ayahnya bernama Najmuddin Ayyub yang merupakan penguasa Seljuk di Tirkit saat itu. Ketika Imaduddin Zanky (gubernur Seljuk untuk kota Mosul) berhasil merebut wilayah Balbek, Lebanon pada tahun 534 H/ 1139 M, ayh Shalahuddin Al Ayyubi, Najmuddin Ayyub diangkat menjadi gubernur Balbek dan menjadi pembantu dekat dari kerajaan Suriah Nuruddin Mahmud (paman Shalahuddin l- Ayyubi).

Selama di Belbek inilah, Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan menekuni teknik, strategi maupun politik dalam berperang. Beranjak tahun, Shalahuddin pergi ke Damaskus dalam kurun waktu yang cukup lama, yakni sepuluh tahun untuk melanjutkan pendidikannya terkhusus dalam mempelajari ilmu Teologi Sunni. Sampai akhirnya di tahun 1169 M, Shalahuddin diangkat sebagai Wazir (konselor) untuk mempertahankan keutuhan Mesir dalam serangan Kerajaan latin Yerussalem di Bawah pimpinan Amalrik

Shalahuddin Di Mesir

Sebelum kedatangan Shalahuddin, Mesir merupakan wilayah kekuasaan kerajaan syiah, dari Daulah Bani Fathimiyah. Pada awalnya, Dinasti Fathimiyah ini berjalan stabil. Namun, pada suatu ketika kestabilan tersebut mulai bergejolak. Orang-orang Turki, Sudan, dan Maroko menginginkan adanya revolusi. Melihat keadaan ini, Nuruddin Mahmud menganggap situasi tersebut sebagai peluang baginya untuk menaklukkan kerajaan Syiah di Mesir. Karena menurutnya, penaklukan Daulah Fathimiyah merupakan jalan terang dalam membebaskan Yerussalem dari kekuasaan pasukan salib.

Tidak banyak menunggu, Nuruddin merealisasikan cita-citanya dengan mengirim pasukan dari Damaskus yang dipimpin oleh Asaduddin Syirkuh untuk membantu keponakannya, Shalahuddin al-Ayyubi, di Mesir. Mengetahui kedatangan pasukan besar ini, sebagian Pasukan Salib yang berada di Mesir pun kocar-kacir kethutan sehingga yang dihadapi oleh Asaduddin dan Shalahuddin hanyalah orang-orang Fathimyah saja.

Kemudian, Daulah Fathimiyah berhasil dihancurkan dan Shalahuddin diangkat menjadi menteri di wilayah Mesir. Namun tidak lama menjabat sebagai menteri di Mesir, dua bulan kemudian Shalahuddin diangkat sebagai wakil dari Khalifah Dinasti Ayyubiyah.

Dalam dua bulan Shalahuddin memerintah Mesir, Shalahuddin membuat kebijakan-kebijakan progresif yang visioner. Itulah kenapa Shalahuddin disebut sebagai bapak pembangunan modern Mesir. Hal ini juga ia dibuktikn dengan membangun dua sekolah besar berdasarkan madzhab Ahlussunnah wal Jamaah dengan tujuan untuk memberantas pemikiran Syiah yang telah lama mengakar  di tanah Mesir. Dan kini, hasilnya dapat kita rasakan. Ya, kini  Mesir menjadi salah satu negeri pilar dakwah Ahlussunnah wal Jamaah atau Sunni. (Baca Juga: Situs Warisan Dunia di Mesir)

Wafatnya Shalahuddin

Ia wafat pada tanggal 16 Shafar 589 H bertepatan dengan 21 Febuari 1193 di Kota Damaskus. Ia meninggal di pada usia 55 tahun karena mengalami sakit demam selama 12 hari. Orang-orang ramai menyalati jenazahnya, anak-anaknya Ali, Utsman, dan Ghazi turut hadir menghantarkan sang ayah ke peristirahatannya. Semoga Allah meridhai, merahmati, dan  membalas jasa-jasa engkau wahai pahlawan Islam, sang pembebas Jerusalem.
 

 

347 total views, 7 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini