Setidaknya Aku Bermanfaat Bagi Sesama

Setidaknya Aku Bermanfaat Bagi Sesama

Assalamualaikum sahabat? Bagaimana nih kabarnya? Semoga keadaan kita seperti yang kita harapkan bersama…. yakni selalu diberikan kesehatan jasmani dan Rohani serta selalu dalam lindungan ilahi Rabbi.

Perasaan baru aja kemarin kita menikmati akhir pekan dengan berbagai kegiatan santai bersama keluarga. Tapi nggak terasa, hari ini sudah hari senin aja…. sudah harus siap bergulat  kembali dengan rutinitas kesibukan harian kita. :D. semoga itu hanya perasaan kita…..karena mau  apapun harinya minumnya “tetap teh botol sosro”. Loh kok. Hehhe.. (becanda)… apapun harinya,  harusnya…. kita “tetep ojo loyo”…:))

Sebagai penggugah selera (makanan kaliii…), sebagai penggugah semangat hari ini, mungkin ada baiknya kalau saya memulainya dengan kisah hikmah… ya setidaknya dari hikmah yang terkandung nanti, bisa menjadikan rohani kita segar kembali.. amiin

Siapa nih dari sahabat yang sudah pernah umroh atau haji dan siapa dari sahabat yang belum???

Bagi yang sudah, ucapkanlah “Alhamdulillah”, dan bagi yang belum “Bersabarlah”. :D. atau bisa juga “mendaftarlah”, di RIHAAL UMROH ya!!! Tetep… #colonganpromosi. Hehehe.

Oke…next

Pernah nggak sih sahabat mengalami atau mendengar kisah sahabat lain, tentang momen- momen yang terjadi di tanah suci? Saya yakin, banyak dari kita mengalaminya.

Kok yakin banget si… iya dong… Karena perjalanan ke tanah suci bukanlah hanya perjalanan jasmani, melainkan juga melibatkan perjalanan rohani. Oleh karena itu, dalam setiap perjalanannya akan ada banyak sekali makna yang tersaji.

Kisah-kisah dan makna yang tersaji akan banyak sekali bentuknya, bisa berupa hal yang baik, bisa pula berupa hal yang kurang baik. Namun, apapun itu, akan ada hikmah yang terkandung disetiap momennya. Salah satunya di antaranya adalah kisah berikut ini.

Ini kisah seorang pemuda, bukan balita, tidak tua apalagi renta. Perawakannya standard layaknya pria Indonesia, tubuhnya pun Standard Nasional Indonesia (helm dong! :D). Dia adalah seorang Pelajar di Sekolah Alam Semesta. Mau tau umur dan statusnya? (di PM aja ya… (japri lah kalo bahasa anak muda sekarang). Sebut saja nama dia “Ahmad”, dia layaknya pemuda pada umumnya… tiada yang istimewa yang nampak dari dirinya. Jika tidak ada yang istimewa yang ada pada dirinya, lantas hikmah apa yang dapat kita ambil dari kisahnya?.

Simak kisahnya .

Berkunjung ke Baitullah Adalah impian bagi setiap Muslim di dunia, tak terkecuali pemuda bernama Ahmad ini. Namun apakah mimpi tersebut menjadi nyata?. Ya, mimpi itu menjadi nyata. Meskipun pada awalnya impian itu tertunda.

Musim telah berganti, demikian pula dengan tahun, bulan dan hari. Penantian Ahmad akan kunjungan pertama kalinya ke Baitullah sudah tidak dapat lagi berarti. Senang, riang, gundah, bingung, sedih, duka, bahkan rindu sudah bergejolak di dalam hati. Ya… karena tak lama lagi, Ahmad akan pergi… pergi ke bumi yang suci, yang Allah Cintai.

Di dalam hati dan sanubari, Ahmad bergumam, “Pokoknya selama di sana harus total ibadah sama Allah. Harus mencium hajar aswad, berdoa di multazam, sholat di hijir ismail, shalat dan berdoa di Raudhah, perbanyak thawaf sunnah, dan wajib jamaah sholat fardu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.” Ya demikianlah yang ia tanamkan di dalam hatinya sebelum ia berangkat ke tanah suci. Sebenernya ini juga yang diinginkan oleh kebanyakan orang saat berada di Bumi Haram. kemudian, yang menjadi pertanyaan, apakah semua itu dapat terlaksana?….yuk dilanjut nyimaknya…

Seiring berjalannya waktu, penantian tinggallah nama. Dan  tibalah Ahmad di Bandara Soeta (sebutan beken buat bandara international Soekarno Hatta). Loh ngapain dia? Ya mau berangkat umroh lah… masa ngamen. Oke lanjut. Ahmad datang ke bandara tidak sendirian, melainkan bersama keluarganya, bukan untuk mengantarnya, melainkan membersamainya pergi ke Baitullah. Dan wajah ceria, sumringah nampak sekali di wajahnya.

Tak lama berselang, Ahmad dan keluarganya bergabung dengan rombongan lain untuk mengantri proses check in di sana. Saat di antrian, ada seorang ibu yang sudah cukup tua mendekatinya. Sebut saja ibu itu dengan sebutan “bu siti”

Ibu siti menyapa: “ misi mas…”

Dengan senyum ramah dan sigap, Ahmad pun menjawab: “oh iya ibu…..“,

Tak lama, ibu Sitipun membalas, “ Mas ikut ABC Travel?.

Ahmad menjawab: “Iya Bu, Bener. Ibu Juga kan ikut ABC Travel?” Tanya Ahmad.

Ibu: “iya Mas” Jawab ibu. Dan ibu Siti melanjutkan pembicaraannya dengan cukup panjang.

“jadi gini mas, sebenernya yang berangkat bersama ibu itu suami ibu, tapi beliau meninggal sebulan yang lalu, dan akhirnya, anak ibu yang menggantikannya. Akan tetapi Allah berkehendak lain, Anak ibu mengalami kecelakaan seminggu sebelum keberangkatan, dan itulah hasilnya (sambil menunjuk ke arah anaknya yang sedang duduk di kursi roda). Tadinya anak ibu nggak mau mas untuk umroh, karena takut merepotkan ibu dan orang banyak, kata nya, biarlah tiket umroh hangus. Tapi ibu paksakan, dan supaya anak ibu juga bisa berdoa langsung untuk kesembuhannya di sana. Kalau boleh minta tolong, bisa nggak mas, ibu minta tolong untuk menemani anak ibu selama disana?”

Tanpa berfikir panjang dan dengan senyum simpulnya Ahmad menjawab: “ iya ibu, dengan senang hati.”

Dengan dibarengi langkah ibu Siti, Ahmad langsung mendatangi  anak ibu Siti tersebut. Setibanya di hadapan anak ibu Siti,  Ahmad menjulurkan tangannya kepada Anak nya ibu Siti,

“Assalamualaikum mas, Saya Ahmad, “ Ahmad memperkenalkan dirinya.

“Wa’alaikum salam mas, saya Indra (anggap saja itulah nama anak ibu Siti). Balas Indra Sopan dan sedikit kebingungan.

Seketika itu, ibu Siti menjelaskan kepada Indra tentang kedatangan Ahmad….

Waktu berlalu cukup singkat, mulailah Ahmad mendorong kursi Roda yang ditunggangi Indra. Sambil berjalan Indra tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih dan maaf kepada Ahmad. Namun Ahmad hanya tersenyum, seakan mengisyaratkan dalam hatinya, bahwa di setiap langkah pada perjalanan panjang ini, ia tak mengharap puji ataupun imbalan duniawi, melainkan Ridha Ilahi.

Keesokan harinya, tibalah Ahmad di Tanah Suci Makkah, tetesan air mata tak lagi sanggup ia bendung. Alirannya begitu deras membasahi pipi. Tak ada kata yang sanggup ia ucap selain syukur, dzikir dan kalimat talbiyah. Begitu pula lah, saat ia menginjakkan kakinya di Masjidil Haram dan Melihat Ka’bah.

Ia memisahkan diri dari rombongan lainnya saat melakukan umroh pertama, bukan karena ia merasa tahu, muda dan tanpa perlu pendampingan, melainkan karena ia bersama Indra. Karena memang cukup susah bagi pengguna kursi roda untuk dapat melakukan thawaf dilantai satu, di pusaran ka’bah. Pada akhirnya,  Ia lakukan thawaf di lantai dua Masjidil Haram bersama Indra. Ia tetap menjaga amanah yang diberikan ibu Siti kepadanya. Mungkin di dalam hatinya terbesit rasa keberatan. Namun karena Ridha Allah yang ia harapkan, hal itu seolah terlewatkan.

Hal ini ia lakukan hampir di setiap waktunya, tak hanya mendorong  kursi roda Indra ke  Masjidil Haram, melainkan juga membawakan makanan ke kamar hotelnya. Sampai pada akhirnya, ada seseorang yang membantunya, ialah Arul, yang rela pula bergantian dengan Ahmad, untuk mendorong Indra. Hal inilah yang dimanfaatkan Ahmad untuk memaksimalkan waktunya. Setiap kali Indra dibantu mendorong kursi roda oleh Arul, Ahmad selalu berusaha untuk menuju Masjidil Haram lebih awal, agar dapat melakukan thawaf sunnah dan mendapatkan shaf terdekat dengan ka’bah dan Imam. Dan siapa sangka, ia selalu mendapatkannya. Tanpa bersusah payah seperti yang kebanyakan orang ceritakan. Mungkin inilah bentuk Bantuan Allah kepadanya. Jika Ikhlas menyertai amal baik kita. Kini, mencium hajar Aswad, berdoa di Multazam, sholat di Hijir Ismail, mendapatkan Shaf awal ketika sholat fardhu bukan lagi impian bagi Ahmad. Melainkan sudah menjadi pencapaiannya.

Kemudahan itu tak hanya ia dapat saat di Makkah melainkan ia dapatkan pula saat ia berada di Madinah.

Saat itu, dijadwalkan bahwa pukul 7 pagi waktu Madinah rombongan ABC Travel melakukan tour Masjid Nabawi, di Antara yang dikunjungi adalah Raudhah. Tepat pukul 7 waktu setempat semua rombongan sudah kumpul di lobby, dan pukul 7. 15 rombongan mulai berangkat. Namun Ahmad dan Indra belum juga keluar kamar hotelnya. Dan setibanya Ahmad dan Indra di lobby ternyata lobby sudah sepi, hanya tersisa beberapa orang dan juga satu tour leader. itulah orang yang tersisa dari rombongan mereka. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 8.30. Dan Akhirnya, Rombongan terakhir yang hanya berisi kurang lbih 20 orang berangkat menyusul menuju Raudhah. Dalam perjalanan Indra membuka perbincangan.” Kayaknya yang lain udah selesai mas. Maaf ya mas, gara gara aku ibadah kamu terganggu”. Ahmad menjawab.” Nggak apa apa mas. Mumpung saya masih bisa membantu sesama. Setidaknya saya bermanfaat”. Jawaban yang sungguh tak disangka dari Ahmad ini membuat Indra kagum. “makasih ya mas, bingung mau balesnya gimana”. “Semoga Allah Ridha Mas “, Jawab Ahmad.

Ahmad dan Indra memasuki Masjid Nabawi, dan setibanya di Raudhah, anggapan mereka tadi ternyata salah, Rombongan yang sudah berangkat dari pukul 7.15 tadi, ternyata masih dalam kerumunan antrian. Dan yang paling mengherankan posisi mereka masih di belakang. Hal ini karena terlihat dari tas, id card dan slayer yang  mereka kenakan. Dengan langkah yang lebih cepat Ahmad bergegas mendekati Rombongan. Namun siapa sangka, sebelum dia bergabung bersama rombongan lainnya, ada askar (polisi penjaga raudhah) memanggil Ahmad sambil melambaikan tangan, “ta’al (sini!)” masuklah Ahmad dan Indra ke Raudhah tanpa antri. Subhanallah, sungguh Allah akan memudahkan bagi hambanya yang memudahkan sesamanya.

Inilah singkat kisah hikmah dari Ahmad, semoga kisah ini dapat memberikan pelajaran bagi kita semua. Untuk tidak lagi sungkan berbuat baik,  menolong serta berbagi terhadap sesama bahkan makhluk Allah lainnya, dan apapun yang kita lakukan berharaplah hanya untuk Ridha Allah semata.

 

162 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini