Serunya Ramadhan di Negeri ‘Harimau Malaya’

Serunya Ramadhan di Negeri ‘Harimau Malaya’

(Foto: tourism.gov.my)

Muslim di berbagai negara punya kemeriahan berbeda-beda dalam menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan. Setiap tempat memiliki kekhasannya sendiri-sendiri dalam menyambut Ramadhan. Tak terkecuali di negeri jiran Malaysia, Kuala Lumpur.

Malaysia adalah sebuah negara yang terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan di Asia Tenggara dengan luas 329.847 km persegi. Ibukotanya adalah Kuala Lumpur, sedangkan Putrajaya menjadi pusat pemerintahan persekutuan. Jumlah penduduk negara ini melebihi 27 juta jiwa. Negara ini dipisahkan ke dalam dua kawasan yakni Malaysia Barat dan Malaysia Timur oleh Kepulauan Natuna, wilayah Indonesia di Laut Tiongkok Selatan.

Pada saat Ramadhan, jus buah segar menjadi salah satu bisnis yang banyak dijumpai di pasar-pasar Ramadhan di Malaysia. Jus buah mulai dari yang kalengan hingga jus buah segar, termasuk cendol dan air kelapa menjadi penawar dahaga yang paling diminati Muslim Malaysia setelah seharian berpuasa. Yang paling banyak diminati, kata seorang penjual, adalah sari air kelapa segar.

Beraneka ragam panganan untuk berbuka bisa mereka dapatkan di pasar mulai dari makanan ringan yang siap dimasak, nasi ayam, mie dan makanan lainnya. Tapi di antara makanan-makanan itu, yang paling banyak diminati pembeli adalah nasi dan ikan.

Pasar Chow Kit, pasar tradisional tertua dan juga letaknya di tengah kota Kuala Lumpur, dalam waktu dua puluh empat jam akan menjadi lautan manusia. Para penjual dan pembeli menyatu dalam hiruk pikuk terutama menghadapi Hari H ebaran esoknya. Yang menariknya adalah semakin malam dagangan akan dijual sampai harga terendah. Kesempatan langka inilah yang ditunggu-tunggu warga Malaysia.

Tradisi pasar Ramadhan di Malaysia ternyata juga menarik sebagian warga yang tinggal di negara-negara tetangga, misalnya dari Singapura. Seorang ibu warga Singapura mengaku datang ke Johor Baru untuk mencari suasana baru, karena di negaranya juga sebenarnya banyak sekali pasar. Yang jelas, pasar Ramadhan mendatangkan rezeki bagi banyak warga Malaysia, karena pasar Ramadhan membuka kesempatan kerja bagi mereka.

Belum lagi kondisi Pahang yang bukan merupakan kota besar di Malaysia. Jauh dari hingar bingar Kuala Lumpur. Menyebabkan minimnya variasi menu berbuka maupun sahur yang diperdagangkan para penjual makanan. Jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia. Ramadhan benar-benar menjadi bulan penuh berkah bagi pedagang makanan dan minuman. berbagai menu tradisional hingga modern tersedia dengan berbagai variasi. Bahkan sudah menjadi rahasia umum bagi para pemburu kuliner Ramadhan, keberadaan pasar Ramadhan pada jam-jam tertentu ternyata memberikan harga yang sangat murah.

Bicara soal menu berbuka atau Ta’jil, jika Rasulullah SAW memulai berbuka puasa dengan beberapa butir kurma, di Malaysia Ta’jil khas Ramadhan adalah dengan makan bubur yang khusus adanya hanya di bulan puasa. Namanya Bubur Lambuk atau Bubur Lambok. Semacam Bubur Ayam dengan-katanya- delapan belas macam bumbu plus potongan daging kecil-kecil.

Di Kampung Baru yang terletak di jantung kota Kuala Lumpur, Bubur Lambuk yang tersohor adalah Bubur Lambuk Pak Hassan. Lepas waktu sholat Asar, jamaah sudah antri panjang hingga menjelang waktu berbuka untuk mendapatkan Bubur Lambuk dari Masjid Jamek Kampung Baru yang dibagikan secara gratis selama sebulan. Tradisi Bubur Lambuk ini juga ada di masjid-masjid lainnya. Bubur Lambuk juga ada yang dijual unuk umum.

Masyarakat Muslim Malaysia di Johor  Baru misalnya, sangat senang melakukan buka puasa dengan menikmati makanan yang dijual di pinggir-pinggir jalan di pasar-pasar di kota itu. Menjelang adzan Maghrib tiba, yang menandai saat berbuka, warga Muslim Johor Baru berbondong-bondong ke pasar untuk membeli keperluan berbuka mereka.

Selain mendapat menu Ta’jil, rupanya di masjid-masjid besar di bawah naungan kerajaan, pengurus masjid juga menyediakan menu makan nasi bagi jamaah. Sambil menunggu waktu berbuka puasa, seorang ustadz memberikan ceramah sampai suara azan Maghrib berkumandang. Para jamaah telah duduk saling berhadap-hadapan di lantai masjid yang sudah digelar dengan tikar plastik panjang, layaknya seperti suasana di Majidil Haram, Mekah dan Madinah. Air mineral, teh manis, kurma, kue-kue tradisional dan semangkuk Bubur Lambuk sudah tersedia di atas gelaran tikar.

Suasana berbuka di masjid-masjid sangatlah ramai. Namun tidak akan dijumpai lagi pedagang makanan di sekitarnya. Mereka berdagang sejak waktu Asar hingga Maghrib saja. Begitu terdengar suara azan Maghrib, langsung mereka membereskan dagangannya.
(Dari berbagai sumber)

8 total views, 6 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini