Umroh Panggilan Allah

Umroh Panggilan Allah

Menjemput Rahmad Ilahi di Tanah Suci

“Siapapun kita punya kesempatan dan peluang yang sama untuk menjadi tamu di tanah suci”
(KH. Syatori Abdurrouf)

Umroh adalah memenuhi panggilan Allah. Siapapun berhak Dia panggil tanpa memandang status ataupun derajat yang ada dunia. Walaupun secara akal pikiran mustahil untuk bisa menginjakkan kaki di tanah suci dalam rangka berumroh ataupun berhaji. Karena umroh adalah panggilan Allah maka Dia-lah yang memberikan undangannya dan Dia pulalah yang akan memberikan jalan kepada hambaNya untuk berangkat memenuhi panggilan-Nya.

Umroh tidak identik dengan uang. Berapa banyak orang di luar sana yang diberikan limpahan harta tetapi hingga saat ini belum bisa berangkat umroh/haji? Padahal mereka sudah menjelajahi beberapa negeri bahkan benua tapi belum juga tertaut hingga ke Makkah. Banyak kisah-kisah orang yang tak berpunya sanggup menginjakan kaki di tanah suci walaupun tak membawa uang sepeserpun. Beragam cara yang mampu Dia tunjukan untuk memanggil hamba-hamba-Nya.

Kisah menarik dari seorang tukang pijit. Seorang tukang pijit yang berjumpa langsung dengan ayahanda Syatori tatkala sama-sama menunaikan ibadah haji tanpa membawa uang sepeser pun saat berangkat haji. Ia hanya seorang tukang pijit biasa bukan yang profesional seperti kebanyakan tukang pijit. Ia memijit orang-orang tertentu saja, salah satunya adalah seorang ibu yang menderita penyakit dan harus dipijit untuk mengurangi rasa sakit dari penyakit tersebut.

Suatu ketika sang ibu hendak menunaikan rukun islam yang terakhir. Seluruh keluarga kebingungan dengan kondisi ibu saat berhaji. Dari cerita singkat ini kita sudah bisa menerka kisah selanjutnya. Ibu tersebut berangkat haji bersama tukang pijit agar di tanah suci, tukang pijit tetap bisa memijit untuk mengurangi rasa sakit ibu tersebut. Subhanallah, inilah salah satu bukti kebesaran-Nya. Secara logika manusia, tukang pijit yang hanya berpenghasilan pas-pasan untuk makan sehari tak mungkin bisa berhaji. Tapi apa buktinya? Ia memperoleh undangan dari-Nya dan Ia pun berangkat memenuhi panggilanNya.

Hal yang terpenting pada saat kita hendak berumroh adalah menyakini bahwa umroh ini adalah semata-mata atas panggilan dari Allah. Bukan karena uang yang bergelimangan sehingga mampu melaksanakan umroh bahkan memilih paket umroh yang termahal.

Berumroh atas semata-mata karena panggilan Allah akan terasakan nikmat yang luar biasa. Nikmat yang terasa sepanjang hayat walaupun sudah puluhan tahun yang lalu berumroh tetapi masih mampu menceritakan hal-hal yang dirasakan saat berumroh. Begitu juga, jika berumroh hanya satu kali sebab wajibnya umroh hanya satu kali tapi nikmatnya terasakan sepanjang hayat bak tak pernah ada masa berlaku layaknya makan pagi, saat tiba makan siang maka makan pagi masa berlakunya habis. Beda dengan umroh tidak ada batasannya rasa yang tersimpan di dalam diri. Namun, bagaimanakah cara menyimpan rasa nikmat yang tak terhingga dari umroh yang pernah dilalui?

Dengan cara menjadikan ibadah umroh selalu hidup dalam kehidupan sehari-hari. Dari nikmat itu selalu berbekas dan berpengaruh dalam menjalankan rutinitas sehari-hari. Inilah umroh dalam artian sebenarnya.

Ada tiga tipe orang-orang muslim dalam menjalankan ibadah umroh, antara lain :
1. Melaksanakan umroh dengan sepenuh akal. Contohnya, ingin berumroh untuk membandingkan kondisi saat dulu umroh dengan sekarang umroh apakah ada perbedaannya yang terjadi di tanah suci dengan perkembangan zaman?
2. Melaksanakan umroh dengan sepenuh hati. Contohnya, berharap mendapatkan pahala yang lebih besar saat berada di tanah suci.
3. Melaksanakan umroh dengan sepenuh jiwa. Contohnya, berumroh karena ingin mendapatkan rahmat-Nya.
Orang muslim tipe pertama berumroh atas dorongan akal, tipe kedua karena dorongan hati dan tipe ketiga sebab dorongan jiwa. Tipe yang ketiga inilah yang kita harapkan sebab rahmat Allah hanya jiwa yang mampu menerimanya. Bukan diterima oleh akal apalagi hati. Orang yang berumroh atas dorongan jiwalah yang akan merasakan nikmatnya umroh sepanjang hayat.

Seperti halnya tujuan utama berumroh adalah memenuhi panggilan Allah. Panggilan ini ditujukan untuk jiwa. Maka dari itu, berumroh dengan sepenuh jiwa adalah tipe orang muslim yang sangat didamba-dambakan sebab rahmat-Nya akan dicurahkan kepada jiwa-jiwa yang selalu berusaha mendekati-Nya.

Saat ada kerinduan untuk berkumpul dengan umat Islam di tanah suci, ingin beribadah di sana merupakan salah satu keinginan jiwa, walaupun belum bisa berangkat ke tanah suci. Tapi, kerinduan tersebut tetap berbuah pahala.

Jika berangkat ke tanah suci hanya badannya saja sedangkan jiwanya tidak ikut. Maka, saat melaksanakan thawaf ataupun ibadah lainnya akan merasakan kelelahan dan mengeluh. Sebaliknya, jika jiwa turut ikut maka rasa nikmat dan tentram akan diperoleh.

Manakah hal yang terpenting harus kita lakukan untuk memenuhi panggilannya? Sebelum berumroh? Ketika berumroh? Atau sesudah berumroh? Hal yang terpenting harus dilakukan adalah sebelum berumroh. Sebab ibadah ataupun hal-hal yang kita lakukan sesudah berumroh merupakan buah dari amalan yang dilakukan sebelum berumroh.

Ada beberapa amaliyah yang dilakukan sebelum berangkat umroh, makna dari amaliyah ini adalah sebagai doa agar diberikan kemudahan berumroh dan menyiapkan diri agar saat berumroh benar-benar maksimal memperoleh pahala, amaliyah tersebut yaitu :
1. Bersengaja meniatkan diri untuk berumroh
2. Menyiapkan bekal yang halal dan baik
3. Memperbanyak istighfar, meminta ampun kepada-Nya
4. Meminta maaf dan halal kepada orang yang pernah disakiti apalagi hingga didzholimi
5. Melapangkan hati pada apapun dan siapapun
6. Meningkatkan amal baik yang dirasakan orang banyak
7. Memperbanyak doa keselamatan, kesungguhan dan kemabruran ibadah umroh
8. Memperdalam pengetahuan tentang umroh

Tidak akan rugi orang berniat ingin berumroh, sebab niat saja sudah terhitung kebaikan yang berbuah pahala. Ketika ditanya “Apakah mau umroh?”, jawab saja “iya” walaupun masih sebatas niat disertai dengan usaha menabung walaupun sedikit bahkan seratus perak per bulan pun untuk dialokasikan sebagai tabungan umroh tak menjadi masalah. Sebab bukan banyaknya bekal (uang) yang harus disiapkan tetapi seberapa besar kesungguhan dan kesiapan kita untuk menjalankan ibadah umroh.

Masalah umroh tak usah dipikirkan dengan logika manusia. Sebab, umroh itu terletak diranah logika Allah. Banyak kisah-kisah diluar logika manusia yang terjadi menurut manusia tak mungkin/mustahil tapi menurut Allah mungkin dengan kun fayakun-Nya Allah apapun pasti akan terjadi.

Waallahu a’lam bish-showab

Notulensi Sekolah Umroh Perdana Masjid Nurul Ashri ditulis oleh Aulia Rahim

490 total views, 8 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini