Sang Pembebas Damaskus

Sang Pembebas Damaskus
source: Google

Bismillah…

Mari mengenal satu sosok sahabat yang begitu dicintai Rasul dan kaumnya. Panglima perang muslim yang termahsyur sepanjang zaman dengan julukan ‘pedang Allah yang terhunus’. Salah seorang panglima perang yang tak terkalahkan sepanjang karirnya. Ialah Khalid bin Walid, sang pembebas kota Damaskus (Suriah), Bumi Syam yang diberkahi.

Khalid bin Walid (584-642) lahir di Mekkah, berasal Bani Makzhum, suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya bernama Lubabah. Khalid termasuk keluarga dekat Rasulullah SAW karena istri beliau yang bernama Maimunah adalah bibi dari Khalid.

Awalnya Khalid bin Walid adalah panglima perang kaum kafir Quraisy yang terkenal dengan pasukan kavalerinya. Di Perang Uhud, Khalid lah yang melihat celah kelemahan pasukan kaum Muslimin saat mereka bernafsu mengambil ghanimah atau harta rampasan perang. Sangat mudah baginya saat itu membuat pasukan kaum muslimin kocar-kacir.

Rasulullah SAW sangat berharap Khalid masuk Islam. Harapan ini timbul karena kiprahnya sebagai seorang ksatria yang gagah berani di medan perang. Ia dikagumi dan dihormati kaumnya. Tentu dengan bergabungnya Khalid bin Walid bersama kaum muslimin akan memberi energi yang besar bagi perjuangan Rasulullah SAW. Seiring dengan harapan tersebut, ternyata jauh di lubuk hati Khalid juga bersemayam kalimat-kalimat Allah. Ia pernah mengatakan secara jujur dan terang-terangan bahwa dirinya tidak bisa berpisah dari keindahan dan kekuatan ayat-ayat suci itu.

Akhirnya takdir Allah menghendaki Khalid bin Walid bersyahadat dan bergabung dengan pasukan kaum muslimin. Keberadaan Khalid begitu menonjol dan memberikan kekuatan yang lebih besar bagi Islam. Beliau pernah dipercaya Rasulullah SAW untuk memimpin pasukan dan sejumlah ekspedisi.

“Sungguh, dengan tanganku ini telah terpotong sembilan pedang pada saat Perang Mut’ah sehingga tidak tertinggal di tanganku kecuali sebuah pedang yang berasal dari Yaman,” kata Khalid suatu saat. Hal ini membuktikan keberaniannya dan kekuatan besar yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya. Rasulullah SAW pun memberinya gelar ‘pedang Allah yang terhunus’. (Riwayat Bukhari dan Ahmad)

Kiprah Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan muslim antara lain dalam peperangan di Yamamah, Mu’tah dan Yarmuk. Satu cuplikan kisahnya yakni saat Perang Mu’tah. Sebelum berangkat ke medang Perang Mu’tah, Rasulullah SAW memutuskan bahwa pasukan muslim dipimpin oleh Zaid bin Haritsah dan beliau berpesan: jika Zaid terbunuh, maka kepemimpinan berpindah ke Ja’far bin Abu Thalib; jika Ja’far terbunuh, maka kepemimpinan beralih kepada Abdullah bin Rawahah. Qadarullah, seakan tahu dengan syahidnya ketiga pemimpin yang ditunjuk, benarlah petunjuk Rasulullah SAW tersebut. Ketiganya syahid sebelum pertempuran selesai, sementara perang masih berlangsung dan pasukan muslim membutuhkan pemimpin.

Sesaat setelah Abdullah bin Rawahah syahid di medan perang, bendera pasukan Islam diambil alih oleh Tsabit bin Arqom. Ia kemudian berteriak dengan lantang kepada semua prajurit, “Pilihlah seseoarng sebagai pemimpin kalian!” Lalu merekapun bersepakat memilih Khalid bin Walid. Demikianlah, betapa besar kepercayaan mereka pada Khalid dan pasukan muslimin pun berhasil mengalahkan pasukan Romawi.

Di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ash Shidiq, Khalid diberi amanah untuk memperluas wilayah Islam. Ia pun membuat kalang kabut pasukan Romawi dan Persia dengan strategi perangnya yang cerdas. Pada tahun 636, Khalid bin Walid beserta pasukannya berhasil menguasai Damaskus dan Palestina setelah memenangkan Perang Yarmuk.

Pertempuran Yarmuk merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah peradaban Islam karena menandai gelombang besar pertama penaklukan muslim ke luar tanah Arab, terutama Palestina, Suriah dan Mesopotamia yang saat itu berkeyakinan Nasrani. Kemenangan Khalid bin Walid di perang ini adalah salah satu prestasinya yang paling gemilang dan memperkuat reputasinya sebagai komandan militer paling brilian di Abad Pertengahan.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Khalid diberhentikan dari tugasnya sebagai komandan militer lalu menjadikannya duta besar. Hal ini dilakukan sang khalifah agar kaum muslimin tidak mengkhultuskan Khalid di masa itu. Adapun pengganti Khalid yakni Abu Ubaidah dan penaklukan Suriah dilanjutkan oleh Abu Ubaidah.

Dalam perjalanan menuju Damaskus, Abu Ubaidah pernah membersamai Khalid bin Walid. Mereka berhasil mengalahkan pasukan Bizantium pada pertempuran di bulan Agustus 634. Caloiis dan Azrail, gubernur Damaskus, memimpin pasukan untuk menghentikan pasukan muslim. Namun tentara kafir itu berhasil dikalahkan dalam Pertempuran Maraj-Safar dan mereka telah berjasa membebaskan Damaskus dari cengkeraman kekuasaan Bizantium.

Terdapat sebuah masjid bernama Masjid Khalid bin Walid yang dibangun untuk mengabadikan jasa-jasa beliau yang sangat besar terhadap dunia Islam. Masjid ini merupakan salah satu masjid besar yang berada di Kota Homs. Semoga kelak kita bisa menapktilasi sirah perjuangan sahabat ini di bumi Syam, Suriah.

Wallahu’alam bishowab.

497 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini