Daru an-Nadwah: Pusat Pemerintahan Jahiliyah

Daru an-Nadwah: Pusat Pemerintahan Jahiliyah
  1. Daru An-Nadwah

Kata Dar memiliki arti rumah, sedangkan an-Nadwah berarti berkumpul. Jadi, secara etimologi Daru an-Nadwah berarti rumah tempat berkumpul atau bermusyawarah.

Daru an-Nadwah merupakan sebuah majlis tempat bertemunya para pembesar Kafir Quraisy di kota Makkah, tepatnya berada di dekat Masjidil Haram. Rumah ini adalah tempat untuk memusyawarahkan sesuatu urusan bangsa Quraisy. Lembaga ini dibangun oleh Qusay bin Kilab.

Daru an-Nadwah merupakan pusat pemerintahan. Di tempat ini lahir keputusan-keputusan yang dilegitimasi bersama. Peran lembaga ini sangatlah luar biasa, tidak hanya sekedar untuk kabilahnya, tapi berlaku untuk seluruh orang yang mengunjungi kota ini. Daru an-Nadwah adalah tempat yang sakral dan disucikan setelah Ka’bah al-Musyarafah. Di antara keputusan – keputusannya yang mengikat mereka perihal pengangkatan pemimpin Quraisy, peperangan, keputusan haji, perdagangan, perjalanan bisnis dan lain-lain.

Di masa Khalifah Umar bin Khattab ra., beliau mengunjungi Daru an-Nadwah, dan mengubah rumah tersebut menjadi tempat berwudhu bagi para jamaah haji. Pada zaman khalifah Dinasti Abbasiyah, tepatnya di masa pemerintahan al-Mu’tadid memasukkan Daru al-Nadwah ke dalam bagian Masjidil Haram, yakni pada tahun 284 H/897 M. Untuk mengingat letak Daru an-Nadwah, maka dibuatlah sebuah pintu masuk Masjid dengan nama Bab Daru an-Nadwah.

  1. Daru Arqam Ibnu Abi al Arqam

Darul Arqam adalah sebuah rumah milik Abdul Manaf bin Asad bin Abdullah bin Umar bin Makhzum. Beliau diberi gelar Abi Abdulllah, atau terkenal dengan sebutan al-Arqam. Dia termasuk orang sepuluh pertama yang masuk Islam, bahkan ada yang menyatakan tujuh pertama yang masuk Islam. Rumah ini tepatnya berada sekitar 60 meter dari Bukit Shafa tempat Sa’i.

Rasulullah Saw. memilih masuk rumah al-Arqam selama kurang lebih tiga tahun sebagai strategi Rasulullah Saw. atas dakwahnya. Karena saat itu jumlah orang Islam masih sedikit, yaitu sekitar 39 orang. Sehingga dilakukan dakwah sembunyi-sembunyi. Pada suatu saat Rasulullah mendambakan Umar bin Khatab masuk Islam, dengan doanya; “ ya Allah, kokohkan Islam dengan Umar bin Khatab ra., sampai pada akhirnya Umar bin Khatab mendatangi Dar al-Arqam ini dan masuk Islam dengan berkata: “asyhadu an laailaahaillallah”. Dan semua sahabat bertakbir dan sangat bergembira.

Dar al-Arqam inilah yang menjadi saksi masuknya Umar ke dalam agama Islam. Dan sekaligus mengakhiri strategi dakwah Rasulullah secara sembunyi-sembunyi. Karena setelah masuknya Umar, dakwah Islam disebarkan dengan terang-terangan.

Pada zaman kekhalifahan Harun ar Rasyid (177 H), baangunan rumah ini dibeli oleh Kaizaran (ibunda Harun ar-Rasyid) dan difungsikan sebagai tempat sholat.  Dan saat ini rumah al-Arqam telah dipugar dan disatukan dengan Masjidil Haram, diabadikan dalam bentuk nama pintu Masjidil Haram, yakni pintu Al-Arqam ibn Abi al-Arqam.

  1. Dar Abi Sufyan

Nama lengkap Abi Sufyan adalah Abi Sufyan Shakr bin Harb bin Umayan bin Abd Syams, salah seorang pembesar Quraisy, mempunyai putri bernama Umu Habibah yang dinikahi Rasulullah Saw.

Abu Sufyan adalah anggota Dar an-Nadwah yang terkenal ingin celakakan Rasul Saw. ketika hendak berhijrah ke Madinah. beliau juga sebagai panglima kaum musyrikin saat Perang Uhud dan Ahzab. Dan beliau masuk Islam sebelum hari pembebasan kota Mekkah.

Abu Sofyan terkenal sebagai pemegang panji al-Uqab, yaitu panji sakral sebagai komando apabila mengadakan peperangan atau merupakan simbol bangsa Quraisy bila mengadakan suatu pertemuan.

Rumahnya  terletak berdekatan dengan Jabal al-Qaban tidak jauh dari Marwah, tempat Sa’i, rumah ini selalu dijadikan tempat distribusi barang dagangan yang biasa ditimbang, seperti gandum, tepung, dan lain-lain.

Pada saat penaklukan kota Makkah, Rasulullah mengatakan : “barang siapa yang memasuki rumah Abi Sufyan maka dia aman, Dar Abi Sufyan merupakan simbol keamanan bagi masyarakat Makkah, dan sebagai tempat jaminan keamanan. Pada masa Dinasti Abasiyah rumah Abu Sufyan ini terkenal dengan rumah Raithah, putrinya Abi al-Abbas (putri Khalifah Abbasiyah).

  1. Dar Sayidah Khadijah

Rumah Khadijah merupakan rumah yang penuh berkah, karena disinilah banyak ayat Makiyah yang diturunkan. Rumah ini juga tempat di mana Rasulullah tinggal dan membina rumah tangga bersama Khadijah bin Khuwailid bin Asad bin abdil Uzzi bin Qushay bin Kilab. Khadijah adalah wanita kaya raya yang mempunyai perdagangan hingga luar negri. Rumah Khadijah merupakan rumah yang mewah di masa nya.

Nabi dan Siti Khadijah mengarungi rumah tangga bersama selama 25 tahun. Dan Khadijah wafat meninggalkan Rasulullah sa at bulan Ramadhan tahun ke-10 setelah kenabiannya. Atau tiga tahun sebelum Hijrah ke Madinah. Saat ini rumah ini dikenal dengan nama Az-Zuqaq tempat menghafal al-Quran.

Demikianlah beberapa rumah-rumah bersejarah yang menjadi rumah penting di masa Rasulullah. Sebenarnya, masih banyak lagi rumah-rumah bersejarah di sekitar Masjidil Haram, namun saat ini sudah tidak lagi dapat disaksikan. Hal ini dikarenakan adanya perluasan Masjidil Haram, dan juga adanya kekhawatiran akan pengkultusan terhadap tempat-tempat tersebut. Sehingga, pemerintahan Saudi Arabia menghancurkannya untuk kebaikan ummat Islam.

Rihaal Umroh

www.sekolahumroh.com

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp