Ramadhan Di Bumi 1000 Menara

Ramadhan Di Bumi 1000 Menara

Sekitar 7 tahun yang lalu, saya terbang ke bumi antah berantah, yang katanya bumi 1000 menara. Kedatangan saya ke “Mother of world/ umm ad- dunya”, sama sekali tidak pernah terbesit  dalam otak saya sebelumnya. Dan……….. SIMSALABIM ABRAKADABRA saya sudah tiba di LAND OF MOSES yang penuh dengan kisah peradabannya. Ya…. itulah Mesir negeri padang pasir.

Cuaca dingin dan hembusan angin lembut menyambut kedatangan saya, dinginnya sungguh sangat luar biasa. Tiga lapis baju yang saya kenakan saja tidak dapat menepis cuaca dinginnya malam itu… bisa dibayangkan kan, bagaimana dinginnya? kalau ditanya gimana rasanya? Rasanya……. istimewah (*diucapkan ala girlband cerrybelle), karena ini pengalaman pertama saya. Jadi, bagi sahabat-sahabat jangan pernah mengira kalau Negri padang pasir itu panasnya sepanjang masa. Karena, Mesir sama dengan eropa dan negara beken lainnya yang memiliki 4 musim (panas, gugur, dingin, semi) di sepanjang tahunnya.

Di bulan-bulan pertama banyak sekali penyesuaian yang harus saya lakukan.Dari mulai musim, bahasa, dan budaya. Dan alhamdulillah karena saya terlahir sebagai anak bangsa Indonesia, dengan beragam suku, budaya dan bahasa, penyesuaian ini saya lalui dengan cukup mudah (*gaya boss), ya begitulah kira-kira. Tapi itu semua bukan inti cerita yang mau saya ceritakan. Loh terus yang mana? Sebentar….jadi begini ceritanya…

Tahun 2010 adalah tahun pertama saya melewati bulan Ramadhan tanpa kolak, gorengan, es buah, es kelapa, sirup marjan, serta jajanan pasar sebagai menu berbuka. Hehehe…nggak gitu deh. yang bener itu…ramadhan tahun 2010 adalah ramadhan pertama saya lepas dari lingkungan teman, kerabat dan keluarga serta budaya bulan puasa di Indonesia. Hal ini tak membuat saya bersedih hati, justru saya jadikan kesempatan dan pengalaman ini untuk  saya ceritakan ke anak cucu nantinya. Nantinya kapan? Lah wong nikah saja belum?!! .  ya kalau begitu, bisa saya ceritakan ke khalayak ramai termasuk sahabat-sahabat semua. 😀

Jika di Indonesia, umumnya kita berbuka bersama keluarga dengan menu rumahan yang istimewah dan ta’jil yang melimpah dan/atauBUKBER  dengan teman kantor, teman kuliah atau teman sekolah di sebuah warung makan hits di pusat kota. Namun hal ini berbeda dengan saya yang jauh dari kata “rame” “meriah” ataupun “mewah” akan tetapi penuh makna dan berkah. Insyallah.

Sesaat sebelum berbuka, disetiap harinya selama Ramadhan saya dan teman-teman seperjuangan tidak melakukan rutinitas seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, yaitu dengan ngabuburit mencari takjil atau sekedar JJS (jalan-jalan sore) ala anak muda kekinian. Yang kita tuju sesaat sebelum berbuka adalah masjid-masjid yang menyediakan Maidah ar-Rahmah untuk santapan berbuka kami.

Apa sih Maidah ar-Rahmah? Maidah ar-Rahmah dapat diartikan sebagai  hidangan kasih sayang, dalam artian, hidangan ini diberikan atas landasan taqwa, tolong-menolong , dan kasih sayang kepada sesama. Hidangan ini biasanya disposori oleh orang-orang kaya yang dermawan di sekitaran masjid atau di suatu daerah. Kita biasanya menyebut mereka dengan kata “Muhsinin”(orang-orang baik). Hampir di setiap masjid di Mansoura(nama salah satu kota di mesir yang saya tinggali) menyediakan Maidah ar Rahmah. Hidangan ini biasanya berupa kurma, nasi, Roti gandum (ish sebutan bagi masyarakat local yang juga merupakan makanan pokoknya), sup kacang atau sup kentang, salad, ayam atau daging, jus atau susu kemasan. Hidangan ini biasanya disediakan selama bulan Ramadhan. Keren banget kan?. Jadi selama ramadhan kami benar benar tidak mengeluarkan biaya untuk berbuka. Ya GRATIS BERBUKA SEPANJANG RAMADHAN.

Apakah hanya berbuka? Tidak dong. Masih banyak muhsinin di bumi Nabi Musa ini yang mau berbagi untuk menyediakan santap sahur bagi para masyarakat muslim yang kurang mampu dan para penuntut ilmu khususnya pelajar asing seperti kami. Bahkan ada juga muhsinin yang berbagi sembako di bulan Ramadhan ini juga tidak sedikit jumlahnya. Rasanya para muhsin ini, tak hanya giat dalam beribadah, namun juga berlomba – lomba dalam berbagi dan mensedekahkan hartanya di setiap bulan ramadhan tiba. Saya tidak tau tujuan mereka apa?. Tapi yang pasti bukan harta yang diharapkan kembali, melainkan keberkahan dan keridhaan lillahi ta’ala sang pemilik segala dari semesta Alam ini.

Semoga kita semua bisa meniru para muhsinin di “Bumi Amin” ini, mau menyisakan sedikit harta kita untuk saling berbagi terhadap sesama. Tidak hanya bulan Ramadhan, melainkan juga disetiap harinya.  Amiiin

 

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp