Rahasia Pendidikan Sang Penakluk Konstatinopel

Rahasia Pendidikan Sang Penakluk Konstatinopel
sumber: google

Sobat Rihaal – Pada awalnya Muhammad Al Fatih sulit untuk diandalkan oleh ayahnya yang saat itu sebagai khalifah ke 6 Ustmani. Kebiasaan hidup mewah di Istana membuatnya menjadi anak yang manja. Dia selalu berlindung dibalik kebesaran sang ayah, sehingga menyulitkan para ulama yang didatangkan ke istana untuk mendidiknya.

Hingga akhirnya kelembutan dan ketegasan dua ulama besar saat itu, berhasil menundukkan Muhammad kecil yaitu Syaikh Aaq Samsuddin dan Muhammad Ismail Al-Qurani. Ditangan sang guru, Al-Fatih belajar banyak hal. Diantaranya berhasil menghafal al Qur’an dan menguasai ilmu lainnya. Di usianya yang masih 14 tahun, Muhamad Al Fatih menjadi pemuda yang cerdas dan taat beragama.

Muhammad Al Fatih pernah berkata tentang gurunya ini, “Penghormatanku kepada Syaikh mulia ini tanpa aku sadari. Aku bisa menjadi emosional dihadapannya. Aku bergetar dihadapannya. Adapun para syaikh yang lain, ketika mereka datang menghadapku, justru mereka yang bergetar dihadapanku”.

Itulah guru spiritual sang penakluk Konstantinopel, begitu berwibawa dan bersahaja dimata sang murid sekaligus pemimpin. Nashabnya bersambung dengan khalifah Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Sososk Syaikh Aaq Syamsuddin

Syaikh Aaq Syamsuddin selalu mendidik Muhammad Al Fatih dengan keimanan, keislaman dan keihsanan. Dan yang tidak boleh dilupakan, beliau selalu memotivasi Al Fatih dengan hadits ini, “Sungguh Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluk dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR. Ahmad)

Hal yang menarik adalah pada saat Muhammad Al-Fatih meminta agar sang guru bisa ikut perang bersama-sama dengannya, karena beberapa kali percobaan perang melawan pasukan Konstatinopel belum menuai hasil. Sampai pada akhirnya utusan datang dua kali ke kemah sang guru lalu berpesan bahwa, “Allah akan memberi kemenangan”. Sebuah motivasi yang sangat luar biasa.

Tidak berhenti disitu, karena Al Fatih tidak puas dengan jawaban sang guru, akhirnya dia sendiri pergi menjumpai gurunya dan membuka tenda denga pisau. Dia mendapati gurunya sedang sujud cukup lama kemudian bangun dan berkata kepada Muhammad Al Fatih, “Aku selalu mendo’akanmu, semoga Allah berikan kemenangan”.

Kemudian yang menjadi rahasia perbedaan sosok Muhammad Al Fatih dengan tokoh lainnya yang pernah dilahirkan sejarah adalah komposisi kepribadiannya yang mengumpulkan banyak sekali karakter dan sifat yang jarang sekali terkumpul dari satu pribadi. Menghargai ilmu, menghormati Guru, tidak sombong dan adil. Murid harus butuh terhadap guru bukan sebaliknya.

Bahkan pada suatu ketika setelah selesai menaklukkan konstantinopel, Muhammad Al Fatih menemui gurunya Aaq Syamsuddin dan ikut berkhalwat di kemah (tempat yang sederhana) dengan tujuan agar terhindar dari kehidupan dunia, jabatan dan harta yang melenakan yang akan membuat lupa kepada Allah. Namun sang guru menolak dan meminta agar Al Fatih tetap memimpin rakyatnya. Sang guru menasehati, “Jika engkau ikut bersamaku maka dampak kebaikanmu hanya untuk dirimu sendiri. Namun jika engkau memimpin dengan adil dan amanah maka kebaikanmu bukan hanya untuk dirimu tapi bermanfaat untuk banyak orang”.

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Edirne, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah. Sementara Muhammad Al Fatih merupakan generasi ke tujuh dari kekhalifan Utsmani di Turki.

Dia mendapat gelar Al Fatih karena keberhasilannya membuka atau menaklukkan konstantinopel yang merupakan pusat ibu kota Kristen timur saat itu kemudian dirubah menjadi Islambul (Islam keseluruhannya).

Menyusuri Jejak Al Fatih

Istanbul, Edirne dan Amasya menceritakan banyak hal tentang Muhammad Al Fatih. Menyusuri kotanya dan mengunjungi jejak-jejak pembentuk karakter Sang Penakluk akan membuat jiwa membumbung ke angkasa menyerap energi kebangkitan yang pernah ditorehkan tokoh yang hanya takut pada Allah SWT.

September 2018 nanti kita bersama-sana akan menjalani perjalanan tidak biasa selama 10 hari dengan 8 kota indah dan menyejarah. Menapak jejak sejarah Muhammad Al Fatih yang dijelaskan oleh ahli sejarah orang Turki sendiri. Asyiknya penjelasan akan disampaikan dengan bahasa indonesia yang lancar.

Saatnya melihat sejarah dari tanah dimana Islam pernah membangun kejayaannya. Kota Konstantinopel yang dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Byzantium (Konstantien 1) menjadi Ibu Kota Romawi Timur dan merupakan kota paling kuat di dunia pada masanya.

Sekitar 800 tahun lamanya, mimpi indah penaklukan kota ini tersimpan rapi dalam lembaran-lembaran kitab hadits. Bukan tidak ada yang berminat menjadi pahlawannya. Subhanallah, sudah banyak yang melakukannya. Bahkan, sekitar 11 kali percobaan telah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar.

Termasuk yang paling bersemangat adalah Abu Ayyub Al-Anshari. Makamnya yang ditemukan di dekat benteng Konstantinopel menjadi bukti kuat keinginan untuk menjadi pembuat sejarah besar dan pewujud mimpi indah itu. Dan hari itu, Muhammad Al Fatih menunaikan kabar gembira yang sudah dikabarkan Rasulullah SAW beratus tahun sebelumnya.

Bismillah, bersambung…..

Pict : Museum Panorama Muhammad Al Fatih 1453

 

writer: Arif Prasetyo Aji

238 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini