Pesona Andalusia: Masjid Agung Cordoba, Mezquita

Pesona Andalusia: Masjid Agung Cordoba, Mezquita

Dear sobat pecinta traveling… Punya impian jalan-jalan atau keliling dunia sembari menapaki dan mengenal peradaban Islam? Why not… Bukan sekadar jalan-jalan biasa, tapi jalan-jalan yang bisa nambah taqwa, itu keren banget. Bismillah… Niatkan karena Allah, sehingga setiap langkah kaki bisa memberi sejuta makna dan memberi tambahan kebaikan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Rencanakan perjalanan dan mulai nabung dari sekarang, insyaa Allah ada jalan…

Sembari merencanakan perjalanan, yuk mengenal sedikit sejarah peradaban Islam di belahan bumi Eropa, Andalusia (Spanyol). Mungkin sobat ada yang sudah tahu tentang Masjid Cordoba? Ya, bangunan ini sangat bersejarah dan merupakan salah satu situs warisan dunia. Masjid ini dikenal masyarakat Cordoba dengan nama Mezquita-Catedral atau Masjid Katedral. Mengapa demikian? Ternyata situs ini awalnya adalah kuil dari suatu agama pagan, namun kemudian diubah menjadi gereja Kristen Visigoth pada masa Kerajaan Visigoth lalu diubah kembali menjadi masjid pada masa Dinasti Umayyah di Andalusia.

Kota Cordoba terletak di sungai al-Wadi al-Kabir di bagian Selatan Spanyol. Kota ini didirikan oleh bangsa Cordoba yang tunduk kepada pemerintahan Romawi dan Visigoth (Bangsa Goth) (Maus’ah al-Maurid al-Hadits). Kota ini ditaklukkan oleh panglima Islam yang terkenal, Thariq bin Ziyad, pada tahun 93 H atau 711 M. Sejak saat itu kota Cordoba memulai tatanan hidup baru dan mengukir sejarah yang sangat penting dalam sejarah peradaban umat manusia. Kecemerlangan Cordoba sebagai kota peradaban mencapai puncaknya pada tahun 138 H atau 759 M, ketika Abdurrahman ad-Dakhil mendirikan daulah Umayyah II di Andalusia setelah sebelumnya runtuh di Damaskus oleh orang-orang Abbasiyah.

Adapun Mezquita pertama kali dibangun pada tahun 600 M dalam bentuk gereja St. Vincent dari Kristen Visigoth. Kemudian Emir ‘Abd ar-Rahman I membeli gereja tersebut setelah menaklukan kerajaan Visigoth yang sedang berkuasa saat itu. ‘Abd ar-Rahman I dan penerusnya melakukan pemugaran selama lebih dari dua abad mulai tahun 784 M dan menjadikannya sebagai masjid. Masjid tersebut awalnya disebut masjid Aljama’ dan dijadikan sebagai tambahan istana sang Emir dan menamakannya sebagai penghormatan terhadap istrinya.

Masjid ini beberapa kali mengalami perubahan. ‘Abd ar-Rahman III membangun sebuah menara baru, sementara al-Hakam II pada pada tahun 961 memperluas bangunan dan mempercantik mihrabnya. Pemugaran terakhir dilakukan oleh Hajib al-Mansur bin Abi Amir pada tahun 987. Masjid ini dihubungkan dengan istana khalifah oleh sebuah jalan dan adanya masjid dalam sebuah istana merupakan tradisi para penguasa muslim secara turun-temurun.

Eh, bicara tentang mihrab, ternyata ada sedikit keunikan tersendiri di Mezquita ini. Secara tradisional, mihrab masjid seharusnya berada di arah tenggara, arah Makkah; dengan menghadap mihrab, orang-orang yang shalat otomatis juga menghadap Makkah. Namun, faktanya mihrab masjid ini menghadap ke selatan. Ada yang berpendapat bahwa mihrab menghadap ke selatan karena fondasi masjid tersebut berasal dari konstruksi Romawi dan Visigoth lama. Ada pula yang berpendapat bahwa ‘Abd ar-Rahman mengarahkan mihrab tersebut ke arah selatan agar ia seolah-olah berada di ibu kota Dinasti Umayyah di Damaskus dan tidak berada dalam pengasingan. Pendapat lain mengatakan bahwa hal itu terjadi karena Emirat Cordoba menganut mazhab Maliki dimana menurut para pemuka mazhab ini, shalat tetap sah menghadap kemanapun kiblatnya (perbedaan arah mihrab dari letak Ka’bah sebanyak 89 derajat).

Adapun mengenai desain masjid, bangunan ini terkenal dengan lengkungan-lengkungan raksasanya yang terdiri dari 856 tiang yang terbuat dari jasper, onyx, marmer, dan granit. Tiang-tiang ini dibuat dari sisa-sisa kuil Romawi yang telah ada sebelumnya dan bangunan-bangunan Romawi yang telah runtuh. Lengkungan gandanya merupakan model arsitektur terbaru pada zamannya dan membantu menopang beban berat dari langit-langit di atasnya. Lengkungan ganda tersebut terdiri dari sebuah lengkungan berbentuk sepatu kuda di bagian bawah dan lengkungan semi melingkar di bagian atas.

17

Sumber gambar: versesofuniverse.blogspot.co.id

Dari sisi sejarahnya, masjid agung Cordoba mempunyai peranan penting bagi komunitas Islam Andalusia selama 3 abad. Di Cordoba, ibu kota Andalusia, masjid agung ini dilihat sebagai pusat dan fokus utama ibu kota. Bangunan mahakarya ini dibangun sang Emir pada abad ke 8. Lantai masjid tersebut dibangun mirip dengan masjid-masjid yang dibangun pada masa-masa awal Islam. Ruang utama masjid digunakan untuk berbagai tujuan. Ruangan ini digunakan untuk pengajaran dan pengelolaan hukum dan ketertiban di Andalusia selama pemerintahan ‘Abd ar-Rahman.

Di antara yang paling menonjol dari bangunan ini adalah ruang terbuka (sahn) yang dikelilingi oleh lengkungan-lengkungan, layar-layar kayu, menara, mosaik beraneka warna, dan jendela-jendela kaca beraneka warna. Memiliki banyak kesamaan dengan Masjid Besar di Damaskus, membuktikan bahwa ‘Abd ar-Rahman menjadikan Masjid Besar di Damaskus sebagai model dalam membangun masjid agung Cordoba.

Pada tahun 1236, Cordoba ditaklukan oleh Raja Ferdinand III dari Castille dalam Reconquista (penaklukan kembali) dan masjid ini kembali menjadi gereja Kristen. Alfonso X mengawasi pembangunan Villaviciosa Chapel dan Royal Chapel di dalam masjid. Raja-raja setelahnya turut menambahkan identitas-identitas Kristen. Misalnya, Raja Henry II membangun kembali chapel pada abad ke 14. Menara masjid juga diubah menjadi menara lonceng dari katedral tersebut. Perubahan Masjid agung Cordoba menjadi gereja Kristen Catedral de Cordoba, menyelamatkan bangunan dari kehancuran ketika terjadi inkuisisi Spanyol secara aktif. Hingga akhir abad ke 18, bangunan ini masih mendapat polesan dari para seniman dan arsitek.

Nah, sobat… Demikian sedikit informasi dan napak tilas sejarah serta desain arsitektur Masjid Agung Cordoba di Andalusia (Spanyol). Apa hikmah yang bisa kita ambil dari salah satu situs warisan dunia ini? Saya yakin sobat semua punya pandangan yang berbeda dan apapun itu semoga menambah semangat kita untuk senantiasa mendekat pada Allah. Sungguh Allah-lah yang berkehendak atas segala sesuatu, termasuk berjaya atau runtuhnya sebuah peradaban, namun perlu digarisbawahi bahwa pertolongan Allah itu dekat bagi hambaNya yang yakin.

Wallahu’alam bishowab.

 

Sumber:

Ensiklopedia Peradaban Islam Andalusia karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Tim Tazkia.

kisahmuslim.com/sejarah kota Cordoba

356 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini