Pemuda Pencari Cahaya

Pemuda Pencari Cahaya

Salman al-Farisi, merupakan nama yang tak Asing bagi kita. Ia adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw, yang berasal dari Persia, dan tinggal di desa bernama Jai yang terletak di kota Isfahan. Dialah pendahulu dari kalangan Persia yang masuk Islam. Sebagaimana Rasulullah yang merupakan pendahulu dari kalangan Arab, Suhaib dari kalangan Romawi dan Bilal dari kalangan Habsyah. Demikian Rasulullah Saw bersabda:

السباق أربعة: أنا سابق العرب, و صهيب سابق الروم, و بلال سابق الحبثة, و سلمان سابق الفرس.

Artinya: “Empat orang pendahulu: Aku adalah yang paling awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal paling awal dari kalangan Habsyah, dan Salman yang paling awal dari kalangan Persia.”

Di kalangan para sahabat Salman dikenal dengan nama Abu Abdullah. Sebelum memeluk Islam, ia menganut agama Majusi, seperti pada umumnya orang-orang Persia saat itu. Dia merupakan putra kesayangan ayahnya. Ayahnya merupakan seorang petani,dan memiliki tanah yang luas. Karena kecintaan yang sangat  terhadap putranya ini, Salman tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya kecuali dalam keadaan mendesak. Pada setiap harinya, yang Salman lakukan hanyalah duduk di dekat perapian. Dan menjaganya agar api tetap menyala dan tidak padam. Oleh karenanya, ia merasa bahwa sepenuh hidupnya ia baktikan kepada Agamanya.

Diceritakan oleh salman tentang kisahnya kepada Ibnu Abbas, pada suatu ketika, ayah Salman sedang sibuk mengurusi bangunan. Dan ia berkata kepada Salman; “wahai anakkku, hari ini aku sedang sibuk di bangunan, dan aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi kesana!”. Ayahnya menyuruh Salman untuk melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka keluarlah Salman dari rumahnya dan pergi menuju tanah milik ayahnya. Dalam perjalannnya, Salman melewati salah satu gereja Nasrani, yang di dalamnya terdapat Jemaah gereja yang sedang melakukan sembahyang dengan seruan doa dan pujian-pujian. Salman mendengarnya. Untuk mengusir rasa penasarannya, Salman memasuki gereja tersebut. Begitu Salman melihat dan mengetahui apa yang mereka lakukan, Salman kagum dengan peribadatan yang mereka lakukan. Dan terbesit dalam hati Salman,” Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang aku anut selama ini”.

Kekaguman Salman terhadap peribadatan dari kaum Nasrani tak membuatnya beranjak hingga matahari terbenam. Bahkan ia lupa untuk pergi ke tanah milik ayahnya dan tidak pula mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh ayahnya.

Sebelum pulang, Salman menyempatkan untuk bertanya kepada mereka dari mana asal usul agama mereka. Kemudian merekapun menjawab; “ Dari Syam (Syiria)”. Setibanya Salman di rumah, dan bertemu ayahnya, ia berkata;” anakku, ke mana saja kamu pergi?, bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang telah aku perintahkan”.  Salman menjawab dengan menceritakan apa yang dia alami. Ayahnya berkata; “wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Dan agama kita lebih bagus”. Namun, Salman membantahnya. Sehingga, membuat ayahnya khawatir terhadap Salman. Oleh karena itu, kaki Salman dirantai dan ia di penjara di rumahnya.

Pada suatu kesempatan, Salman melepaskan rantainya dan pergi ke Syiria bersama para pedagang Nasrani yang hendak pergi ke Syiria untuk menemui pembesar dari agama Nasrani. Setibanya di Syiria Salman bertemu uskup(pendeta) dan minta izin untuk belajar dan tinggal bersama pendeta. Hingga Salmanpun mengetahui keburukan yang dilakukan oleh pendeta tersebut. Ketika pendeta itu meninggal, karena ketidaksenangan Salman terhadap perangai pendeta tersebut, Ia menceritakan keburukan yang dilakukan pendeta selama hidupnya. Salman berkata kepada khalayak, bahwa pendeta ini adalah penipu. Pendeta menganjurkan umatnya sedekah, namun sedekah yang dikumpulkan umat Nasrani tidak didistribusikan kepada orang miskin yang membutuhkan. Melainkan ia kumpulkan sendiri, hingga terkumpul setidaknya 7 peti emas dan perak. Dan umat Nasrani pun geram kepada pendeta telah meninggal tersebut dan menggantikannya dengan pendeta pilihan yang baru.

Pada pendeta terpilih yang baru Salman melihat kebaikan, dan ia pun mencintainya. Sampai saat menjelang kematian pendeta itu Salman mengungkapkan kecintaannya terhadap pendeta itu. Dan pendeta pun mewasiatkan Salman untuk menemui seseorang yang tinggal di Mosul (Irak). Setelah pendeta wafat, Salman pergi menuju Mosul dan menemui seseorang yang telah diwasiatkan. Setelah Salman menemui orang itu, Salman memberitahukan apa yang telah diwasiatkan oleh pendeta terhadapnya. Dan orang itu berkata;”silahkan tinggallah bersamaku”.

Kemudian Salman pun hidup bersamanya. Salman pun melihat kebaikan dari orang ini sebagaimana ia dapati pada pendeta yang mewasiatkan dia. Menjelang kematian orang ini, Salman bertanya kepadanya;”Wahai Fulan, ketika itu si Fulan (pendeta baik) mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi (kematian), oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!’

Maka setelah beliau wafat, Salman menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah bertemu dengannya, Salman menceritakan keadaannya dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadanya.

Orang itu berkata;“Silahkan tinggal bersamaku”. Sekarang Salman mulai hidup bersamanya. Salmanpun mendapati bahwa orang ini benar-benar seperti si Fulan dan pendeta yang pernah hidup bersama Salman. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Kematianpun mendatangi si Fulan ini, dan Salmanpun melakukan hal yang sama sebagaimana ia lakukan sebelumnya. Dan Salman diwasiatkan untuk menemui orang di Amuria (kota di Romawi). Sebagaimana yang salman lakukan terhadap orang sebelumnya. Sesampainya Salman di Romawi, Salman bertemu dan tinggal bersama orang yang disebutkan di dalam wasiat. Kematianpun menjemput Fulan ini. Dan menjelang kematian Fulan ini Salmanpun melakukan hal yang sama, yakni meminta wasiat.

Fulan itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’

Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, Salman masih tinggal di Amuria. Sampai pada suatu hari, lewat di hadapan Salman serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Salman berkata kepada para pedagang itu; “Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu Salman memberikan ternaknya kepada mereka.

Mereka pun membawa Salman, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limi Salman dengan menjual Salman sebagai budak kepada orang Yahudi

Kini Salman tinggal bersama seorang Yahudi yang telah membelinya sebagai budak. Pada suatu hari, ketika Salman berada di samping orang Yahudi, keponakan Yahudi datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeli Salman dari pamannya. Kemudian membawa Salman ke Madinah. setibanya di Madinah, Salman segera mengetahui apa yang diwasiatkan kepadanya. Sekarang Salman tinggal di Madinah.

Sebagai seorang budak, ia disibukkan dengan pekerjaannya, sehingga ia tidak mengetahui berita keRasulan Nabi Muhammad Saw. Sampai Rasul itu berhijrah ke Madinah.

Pada suatu hari, setelah mengetahui keRasulan nabi, dan mengetahui bahwa nabi telah berada di Masjid Quba, Salman membawa beberapa bekal untuk menuju Rasulullah Saw, untuk menemui beliau. Ketika bertemu dengan Rasulullah Saw, Salman berkata, “Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.” Namun Rasulullah Saw menyerahkan sedakah tersebut kepada para sahabatnya. (inilah salah satu tanda kenabiannya)

Pada kesempatan yang lain, Salman menemui Rasulullah Saw kembali sambil berkata;”Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.” Kemudian Rasulullah Saw memakan sebagian dari hadiah pemberian Salman dan memberikan sebagiannya kepada para sahabat untuk memakannya. (Inilah tanda kenabian yang kedua)

Selanjutnya Salman menemui Rasulullah saat beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat di kuburan Baqi’ al-Gharqad. Beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, kemudian Salman datang dan mengucapkan salam kepada beliau. Salman berputar memperhatikan punggung Rasul. Rasulullahpun mengetahui niat Salman untuk mencari ciri kenabian Muhammad Saw. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, dan Salman melihatnya. Seketika Salman telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis. Dan mengikrarkan keislamannya.

Rasulullah berkata kepada Salman, ‘Geserlah kemari,’ maka Salmanpun bergeser dan menceritakan perihal keadaannya sebagaimana yang Salman ceritakan kepada Ibnu Abbas ini. Para sahabatpun kagum dengan cerita Salman. Demikian pula Rasulullah Saw.

Sumber: en.wikipedia.org  , Kisah Muslim ,

 

211 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini