Muslimah, Penuhi 3 Syarat ini Jika Ingin Melaksanakan I’tikaf

Muslimah, Penuhi 3 Syarat ini Jika Ingin Melaksanakan I’tikaf

Sobat Rihaal – Beribadah di masjid sepuluh hari terakhir (itikaf) memang disunahkan, yaitu sunah muakad. Sunah muakad adalah sunah yang dianjurkan (hampir mendekati wajib). Itikaf itu sendiri berlaku bagi setiap muslim dan setiap juga muslimah yang memiliki keluangan dalam melaksanakannya dan sesuai dengan ketentuan syaratnya.

Syarat Itikaf Bagi Perempuan

Jika untuk kaum laki-laki, menjalankan Itikaf tidak ada persoalan, namun jika untuk perempuan setidaknya ada 3 syarat yang melekat, yang telah disepakati oleh ahli Fiqh. Apa saja itu?

Pertama adalah terhindar dari fitnah. Jadi jangan sampai ketika seorang istri beritikaf di masjid, tetapi suaminya berada di rumah. Seorang istri / perempuan yang akan melaksanakan itikaf di masjid, harus beserta mahramnya atau teman-teman sejenis yang bisa memberikan rasa aman. Selain itu, juga dalam berpakaian. Jangan sampai dalam beritikaf, kita menggunakan pakaian yang memperlihatkan aurat, dan tidak pantas diliat.

Kedua, adalah aman dari segi tempatnya. Ada tempat khusus perempuan dan tidak boleh bercampur dengan laki-laki. Setidaknya harus ada sekat khusus tertentu yang membuat tidak nampak (aurat dan lain sebagainya) untuk membatasi antara tempat perempuan dan laki-laki.

Dan ketiga, yaitu tidak adanya kewajiban di rumah yang berlaku khusus untuk perempuan. Misalnya, ada anak yang masih perlu disusui, dirawat, perlu diperhatikan, maka kita tidak dianjurkan untuk itikaf.

Dari ketiga syarat diatas, ada kabar baik pula bagi para perempuan  bahwasannya sebagaimana Nabi SAW bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika salah seorang sakit atau bersafar, maka ia dicatat mendapat pahala seperti ketika ia dalam keadaan mukim (tidak bersafar) atau ketika sehat.” (HR. Bukhari no. 2996)

Kisah Asma’

Diceritakan pula, ketika Asma mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepada anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kamilah yang mengandung anak-anak mereka.

Akan tetapi, kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan salat Jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka bagaimana dengan kami? Apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapatkan dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW pun kemudian bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukannya untuk senantiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Oleh karena itu, ketika kita seorang perempuan terhalang dengan suatu hal yang menyebabkan dirinya tidak bisa melaksanakan itikaf, maka ketika dia mempersiapkan perlengkapan bagi suaminya untuk beritikaf, dan ia ridha, maka Insha Allah ia pun akan mendapatkan pahala yang serupa dengan yang dilakukan oleh suaminya.

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp