Mengenal Sosok Ad-Dakhil, Sang Penakluk Cordoba

Mengenal Sosok Ad-Dakhil, Sang Penakluk Cordoba

Bismillah…

Dear sahabat, mari mengenal satu sosok inspirator muslim yang kiprahnya sangat besar bagi peradaban Islam di dunia. Sahabat tentu sudah tidak asing lagi ketika mendengar kata Cordoba, sebuah kota yang berada di negara Eropa yakni Spanyol. Kota ini memiliki sejarah panjang dalam kekhalifahan di tanah Andalusia. Bagaimana sejarah penaklukannya hingga Islam berjaya di sana? Mengenal sosok dibaliknya tentu akan membuat kita mengetahui pula peristiwa dalam sejarah itu. Ya, dialah Ad Dakhil, sang penakluk Cordoba.

Abdurrahman ad-Dakhil bernama lengkap Abdurrahman bin Muawiyyah bin Hisyam bin Abdulmalik bin Mirwan bin Al Hakkam bin Harb bin Umayyah. Beliau lahir pada tahun 110 H atau 728 M dari kalangan Bani Umayyah. Dikenal sebagai sosok pemimpin yang cerdas, berani, tegar dan kuat, yang menjadi pelopor tegaknya peradaban Islam di Andalusia, Spanyol. Julukannya adalah Rajawali dari Quraisy.

Ia lahir dan melalui masa remajanya saat Daulah Bani Umayyah berada pada salah satu puncak kebesarannya di bawah kepemimpinan kakeknya, Hisyam, yang berkuasa selama lebih dari 20 tahun (724-743 M). Ia menyaksikan bagaimana kakeknya memerintah dengan cakap dan sangat ahli dalam strategi militer. Dalam masa pemerintahannya yang cukup panjang, kakeknya berhasil mengatasi berbagai konflik yang terjadi di dalam wilayah kekuasaannya dan melebarkan kekuasaannya hingga ke belahan barat Prancis dan Sicilia Itali. Selain itu, kestabilan dan kemakmuran pemerintahannya menjadikan setiap orang mampu menikmati kesejahteraan, yang akhirnya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesusateraan di samping lalu lintas perdagangan yang ramai dan sibuk.

Saat berusia 19 tahun, Abdurrahman Ad Dakhil melarikan diri dari istana di Irak saat Dinasti Abbasiyah mulai berkuasa dan merebut tahta Dinasti Umayyah. Ad Dakhil muda mengarungi gurun Syria menuju Palestina. Kemudian menyeberangi gurun Sinai ke Mesir, lalu melewati beberapa wilayah Afrika menuju Andalusia (Spanyol) yang telah ditaklukkan oleh nenek moyangnya dari Dinasti Umayyah.

Bersama pendamping setianya yang bernama Baddar, Abdurrahman Ad Dakhil menyusuri gurun menghindari kejaran pasukan Bani Umayyah. Kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat dibandingkan saat ia masih hidup di istana yang mewah dan senantiasa dilayani serta dihormati. Kini hidupnya terlunta-lunta sebagai seorang pelarian dan nyawa senantiasa terancam oleh pihak-pihak yang mengejar dan mengetahui jejaknya. Tetapi sejarah mencatat, bayangan kemakmuran dan keagungan Bani Umayyah di masa kakeknya, Hisyam, berkuasa, senantiasa lekat dalam ingatan Abdurrahman dan selalu bergelora di dalam dadanya untuk kembali diwujudkannya. Ia pun mempelajari kelemahan-kelemahan kepemimpinan yang dilakukan khalifah-khalifah Bani Umayyah sebelumnya.

Sedangkan penderitaan di masa pelarian dan pengejaran yang dialaminya, serta upaya penyusunan kembali kekuatan selama hampir enam tahun kemudian menjadi sekolah kepemimpinan terbaik dalam hidupnya. Semua itu menempa kesabaran, kekuatan, ketegaran dan keberanian, serta jiwa kepemimpinan dalam dirinya. Kelak, ketika impiannya terwujud di belahan dunia Islam lain yang terletak di Benua Eropa, jejak-jejak hasil tempaan di masa pelarian menjadi pondasi yang kokoh membangun Daulah Umayyah yang baru, yang tak kalah dengan yang dibangun kakek moyangnya.

Sepanjang pelariannya, Abdurrahman dan Baddar melewati Mesir melalui jalan berliku, menghindari kota-kota, kemudian melintasi bukit-bukit batu dan sahara tandus menyelamatkan dirinya ke kota Barca di Libya. Berdiam di situ berbulan lamanya dengan menyamar. Ketika suasana menjadi tidak kondusif lagi, karena pengaruh kekuasaan Bani Abbasiyyah mulai menguasai kota itu, mereka keluar menyusuri Afrika Utara hingga akhirnya tiba di kota Meknes di dalam wilayah Maghribi (Maroko).

Wilayah Maghribi pada masa itu masuk ke dalam wilayah Andalus, tunduk kepada Emir Andalusia yang berkedudukan di Toledo. Inilah untuk pertama kalinya seorang pangeran dari Bani Umayyah menjejakkan kakinya ke dalam wilayah kekuasaan Andalus. Karena itulah, Abdurahman kelak dikenal dengan “Ad-Dakhil”, yang berarti “Masuk”, yaitu masuk ke wilayah Andalus. Abdurrahman ad-Dakhil dan Baddar menyamar dan bergerak di bawah tanah selama hampir enam tahun lamanya. Dari kota Meknes itu keduanya akhirnya pindah ke kota pelabuhan Melilia di dekat kota Ceuta, di pesisir Lautan Tengah, menghadap semenanjung Iberia.

Abdurrahman Ad Dakhil dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berani. Ia memilih menaklukan Spanyol daripada harus merebut kembali kekuasaan khalifah dari Dinasti Abbasiyah. Dengan pasukan yang dihimpunnya selama perjalanan, ia kemudian menyerang Cordoba. Ia berhasil menaklukkan kota itu dan kemudian menjadikannya sebagai ibu kota kerajaan. Setelah menjadi penguasa Andalus, Abdurrahman Ad Dakhil menolak untuk tunduk kepada kekhalifahan Abbasiyah yang baru terbentuk karena pasukan Abbasiyah telah membunuh sebagian besar keluarganya.

Pada tahun 763 M, ia menyatakan bebas dari kekuasaan Abbasiyyah di Baghdad, meskipun demikian ia tidak mengumumkan dirinya sebagai khalifah hingga dirinya dipanggil ‘Amirul Mukminin’ tetapi cukup dengan panggilan ‘Amir’ saja, begitupun penguasa-penguasa berikutnya yang menggantikannya.  Baru pada masa Abdurrahman III yang naik takhta pada tahun 912 M, ia mengumumkan dirinya sebagai khalifah pada tahun 929 M. Inilah masa puncak keemasan Daulah Umayyah di Andalus, sebaliknya Daulah Abbasiyyah mengalami penurunan. Ibarat pepatah, Daulah Umayyah tenggelam di Damaskus, terbit kembali di Andalus.

Selama 32 tahun Abdurrahman Ad Dakhil berkuasa, silih berganti tekanan datang dari pihak Bani Abassiyyah, maupun dari kalangan tokoh muslim lain yang tidak menyukainya. Juga terjadi peperangan besar dengan pihak Kristen yang akhirnya malah memperteguh kekuasaannya di wilayah Andalus. Sejumlah orang dari bangsa Yamaniyun (Arab Selatan) tidak menghendaki Abdurrahman menjadi pimpinan mereka. Bersama sejumlah orang barbar, mereka pun melakukan pemberontakan.

Ancaman terhadap Abdurrahman pun tidak hanya dari kalangan sendiri, Khalifah Al Manshur yang mendirikan Dinasti Abbasiyah pun tak luput mengancam Abdurrahman. Beberapa kali Khalifah Al-Manshur mengirimkan bala tentaranya yang terdiri dari para budak belian yang setia kepada Daulah Abbasiyah untuk mengembalikan Andalusia ke tangan mereka. Lagi-lagi, Abdurrahman mampu memadamkan berbagai pergolakan tersebut, serta memukul mundur tentara Al-Manshur. Kaisar Romawi yang bertahta di Prancis, Charlemagne juga beberapa kali menyerang Cordoba. Namun berkat kesigapan dan keterampilan Abdurrahman dalam memimpin, pasukan Romawi bisa dipukul balik.

Abdurrahman pun kemudian membangun angkatan bersenjata yang teratur yang jumlahnya tidak kurang dari empat puluh ribu personel. Dia sadar bahwa Andalusia sangat mungkin diserang dari tiga arah di lautan. Oleh sebab itu, ia kemudian membangun armada perang laut yang tergolong sebagai armada yang pertama kali di Andalusia. Armada ini menjadi armada perang laut terkuat di Barat dan Laut Tengah.

Abdurrahman Ad Dakhil tak hanya cakap dalam memimpin pasukannya. Di bawah kekuasaanya, Andalusia mencapai pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi, dan perkembangan peradaban yang sangat pesat. Suatu kemajuan yang belum pernah dicapai oleh Andalusia hingga saat ini. Cordoba bersaing dengan Konstantinopel dan Baghdad dari segi kemegahan, kemewahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordoba kemudian dikenal di barat sebagai sebagai Permata Dunia.

Tiga tahun sebelum meninggal dunia, Abdurrahman merenovasi dan memperluas bangunan Masjid Cordoba. Atapnya disangga oleh tiang-tiang besar yang berjumlah 1293 tiang. Bangunan ini laksana Ka’bah kaum Muslimin di dunia Islam bagian barat. Hingga kini masjid itu masih berdiri megah. Ia termasuk tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan setelah Istana Al-Hamra, sebagai peninggalan sejarah yang menarik.

Abdurrahman Ad Dakhil membangun istana yang megah dan Masjid Agung yang terkenal di Kordoba, yaitu Masjid Al-Hambra seluas 17000 meter. Dibangun dengan biaya 800.000 dinar, masjid ini terbesar dan termegah melebihi keindahan masjid-masjid di Belahan Timur Dunia Islam, dengan menara yang tingginya 40 dzira’, kubahnya sebelah dalam terbuat dari kayu yang diukir indah. Tiangnya berjumlah 1.093 yang dihiasi dengan batu marmer berwarna seperti catur. Di dalamnya terdapat 19 ruangan yang luas dan panjang dan terdapat 38 ruangan biasa.

Adapun kota Kordoba yang sangat strategis letaknya, yang dijadikan ibukota Andalus oleh Abdurrahman ad-Dakhil dibangun dengan jalan-jalan yang lebar, drainase yang lancar, dan tata kota yang indah dan nyaman. Istananya dan seluruh penjuru kota dialiri air bersih dengan dibangunnya kilang dinding batu mengitari kota dan istana, serta sebuah taman didirikan di luar kota dengan nama al-Risafat. Taman tersebut dibangun menurut arsitek nenek moyang Damaskus. Di dalamnya terdapat berbagai macam pepohonan, buah-buahan yang breasal dari berbagai wilayah dunia Islam.

Selain itu, Abdurrahman juga dikenal sebagai seorang penyair dan orator ulung. Meskipun sejarah menyebutkan bahwa dia adalah pemuda terusir, namun dengan ketegaran dan kemauan kerasnya ia berhasil mendirikan Daulah Umayyah II yang mampu bertahan hingga 1031 M.

Abdurrahman Ad Dakhil memerintah selama 32 tahun lamanya. Pada tahun 788 M ia wafat dalam usia 61 tahun. Dari seorang pelarian politik akhirnya ia menjadi seorang penguasa yang disegani dan dihormati lawan. Ia berhasil mengulang kembali kejayaan Bani Umayyah dan meninggalkan jejak besar bagi sejarah kekuasaan Islam di wilayah Andalusia. Sebuah perjalanan hidup yang berarti dan membanggakan. Abdurrahman layak disebut Rajawali Quraiys, dari seorang pelarian politik menjadi penguasa Andalusia.

(Dari berbagai sumber)

49 total views, 21 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini