Mengapa Rihaal Memilih Landing Di Bandara Prince Mohammad Abdul Aziz?

Mengapa Rihaal Memilih Landing Di Bandara Prince Mohammad Abdul Aziz?

Sobat Rihaal – Pasti ada sebgaian dari sobat yang ketika umroh dengan Rihaal sudah merasakan berada di Bandara Prince Mohammad? Lalu kenapa sih Rihaal memilih untuk landing di Bandara Prince Mohammad? Bukan di Jeddah? Berikut beberapa alasan yang menjadi pertimbangan.

Profil Bandara Prince Mohammad

Bandara Internasional Prince Mohammad Bin Abdulaziz ini adalah bandara regional di Madinah, Arab Saudi yang dibuka pada tahun 1950. Bandara ini menangani penerbangan domestik, dan untuk sementara juga telah menjadwalkan layanan internasional ke destinasi regional seperti Kairo, Doha, Dubai, dan Kuwait City. Bandara Prince Mohammad ini juga menangani penerbangan charter internasional selama musim haji dan umroh. Hal ini menjadikan bandara Prince Mohammad sebagai bandara tersibuk keempat di Arab Saudi.

Bandara Serba Modern

Ketika pertama kali masuk ke dalam bandara, kita akan merasakan suasana sejuk yang langsung menerpa kulit. Ratusan tiang penyangga berwarna putih yang di desain berbentuk mirip pohon kurma, lengkap dengan daunnya menopang atap bangunan ini. Wangi aroma masjid Nabawi juga sudah tercium dari pilar-pilar dan interior exterior bandara. Seluruh ruangan utama bandara terintegrasi satu atap, sehingga mirip hangar pesawat raksasa.

Dari dalam ruangan, pengunjung bandara bisa leluasa melihat atap dari ujung ke ujung. Sekat memanjang dibuat hanya untuk menutup tempat pemeriksaan imigrasi. Persis di depan bandara, berdiri masjid megah berornamen modern yang mudah diakses. Disampingnya masih tersedia ruang terbuka yang cukup luas,. Sedangkan tempat parkirnya mampu menampung 1.500 mobil pengunjung dan 200 mobil sewaan.

Bandara Memudahkan Handling dan Kedatangan Semua Jenis Maskapai Internasional

Berbeda dari tahun sebelumnya, bandara internasional di kota Madinah ini tidak lagi persiapan untuk melakukan umroh, mandi dan shalat sunah, seperti yang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya.

Di bandara Prince Mohammad, jamaah langsung diarahkan ke bus usai melalui imigrasi yang jarak ke bus tidak terlalu jauh. Dan begitu keluar dari pintu imigrasi paspor jamaah langsung diambil oleh petugas. Kemudian jamaah langsung menuju ke pemondokan, sehingga meminimalkan resiko paspor jamaah yang hilang.

Akan tetapi jika di bandara Jeddah, masih terdapat shalat sunah dan pembagian catering. Ditambah dengan pengambilan paspor ketika berada di dalam bus. Hal ini berisiko besar hilangnya paspor. Karena biasanya jamaah saat mandi paspor disimpan di tas koper besar atau lupa meletakkan dimana.

Bandara Lengang dan Tidak Hiruk Pikuk Seperti di Bandara Jeddah

Untuk pertama kali, Bandara Prince Mohammad mampu melayani 8 juta penumpang per tahun. Selanjutnya tahap kedua 18 juta dan fase ketiga atau terakhir diharapkan mampu melayani 40 juta penumpang.

Bandara yang baru diresmikan 2 Juli 2015 lalu, luas totalnya mencapai 4 juta meter persegi. Terminal utama keberangkatan penumpang mempunyai luas 153.000 meter persegi, dengan 16 pintu keberangkatan yang tersambung dengan 32 garbarata (jembatan langsung ke badan pesawat). Sedangkan untuk proses boarding dilayani 64 loket, 24 loket untuk pelanggan dan 16 loket tambahan untuk boarding saat musim haji. Petugas imigrasi juga lebih ramah sebagaimana penduduk madinah warisan nabi.

Akses Dari Bandara Menuju Hotel dan Makam Dekat

Bandara yang dibangun dengan dana US$ 1,2 milliar ini berada di timur laut Kota madinah Al-Munawaroh. Lokasinya bisa ditempuh melewati jalanan yang lebar dengan waktu tempuh sekitar 45-60 menit dari kawasan Markaziah di dekat Masjid Nabawi.

Kemudian jarak bandara ke hotel yang biasa digunakan oleh Rihaal yaitu sekitar 30-40 menit. Dan untuk city tour ke makam Rosul, jamaah tidak perlu melakukan perjalanan darat yang memakan waktu 6-7 jam.

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp