Masyaa Allah… Pemuda Ini Rela Berjalan Satu Tahun Demi Menuju Mekkah

Masyaa Allah… Pemuda Ini Rela Berjalan Satu Tahun Demi Menuju Mekkah

Dia adalah Mochammad Khamim Setiawan (28 tahun). Pemuda muslim asal Pekalongan Jawa Tengah dengan gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Negeri Semarang. Tiada yang istimewa yang terlihat dari dirinya. Namun kisah perjalanannya kini melegenda.

Dia adalah pemuda yang rela berjalan satu tahun lamanya demi menuju tanah suci Mekkah. Apa yang ia lakukan ini semata bukanlah karena ia tak mampu secara finansial, bukan pula karena ia ingin dikenal. Melainkan karena sebuah kesederhanaan. Lebih dari itu, perjalanan yang ia lakukan dilandaskan atas beberapa alasan, yakni untuk menguji dan melakukan percobaan fisik dan spiritualnya. Alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah sebuah pesan harapan, toleransi serta harmoni yang terus tertanam dalam hati.

Perjalanan ini juga dilandaskan pada keyakinannya akan sejarah dan al-Quran. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Mochammad Khamim, “Seperti yang ditunjukkan di dalam Al-Quran, berjalan adalah bentuk murni dalam melakukan perjalanan haji.”

Ya… Hal ini sebagaimana dapat kita lihat di dalam sejarah Islam, bagaimana dahulu Rasulullah SAW beserta para sahabatnya melakukan ibadah haji. Demikian pulalah yang dilakukan oleh generasi penerusnya. Hingga akhirnya tradisi berjalan kaki menghilang bagai ditelan bumi, yang tersisa hanya kehebatan teknologi yang  akan terus menggerus tradisi.

Inilah yang Khamim lakukan, untuk mengembalikan bentuk murni dari sebuah perjalanan suci (haji), yakni dengan berjalan kaki.

Menaruh seluruh kepercayaannya terhadap Allah SWT, ia menyatakan bahwa,“Kita semua adalah tamu Allah di muka bumi.” Ia melakukan perjalanannya lebih dari 9000 km, yang dimulai pada tanggal 28 Agustus 2016, dengan hanya berbekal dua/ tiga helai baju, dan dua helai jeans dan sepatu, satu lusin kaus kaki, beberapa pakaian dalam, kantung tidur (sleeping bag) dan tenda, lampu, smartphone dan GPS, serta beberapa uang disakunya. Kesemuanya ia masukkan dalam satu ransel backpack sederhana yang dihiasi dengan bendera kecil Indonesia. Ia berjalan dengan mengenakan kaos yang bertuliskan “I’m on my way to Mecca by foot.” Hal ini sebagaimana dilansir oleh  beberapa media dubai (khaleejtimes.com dan gulftoday.ae) saat Khamim memasuki Dubai untuk pengurusan visa.

Dalam perjalanan suci ini, selain dari apa yang ia bawa dan ia butuhkan dalam perjalanannya ia tinggalkan seluruh materi dan kebendaan yang bersifat duniawi. Bahkan ia juga meninggalkan bisnis kontraktornya di Indonesia.

Seperti yang juga dinyatakan oleh Khamim kepada Khaleej Times saat mengobrol di konsulat Indonesia di Dubai Rabu 17 Mei 2017, ia menyatakan, “Saya percaya bahwa melakukan ibadah haji bukan hanya demonstrasi solidaritas dengan orang – orang muslim saja, cara saya untuk menunjukkan kepatuhan dan ketaatan penuh  kepada Allah adalah dengan belajar Islam dari berbagai cendikiawan muslim dan bertemu dengan orang-orang dengan berbagai macam keyakinan untuk mempelajari kebudayaan mereka dan mematuhi toleransi.”

“Dengan perjalanan ini saya juga melakukan jihad yang lebih besar, yang dengannya dapat mendisiplinkan diri saya dan mengatasi perjuangan spiritual saya melawan dosa.”

Dan perlu kita ketahui, sebelum perjalanan ini dimulai, Mochammad Khamim mengatakan bahwa ia menghabiskan dua minggu di hutan provinsi Banten di Indonesia untuk melatih fisiknya,  agar dapat menyesuaikan dengan keadaan nanti saat melakukan perjalanan panjangnya. Tak hanya pengkondisian fisik saja, pengkondisian spiritual juga ia lakukan dengan menghabiskan beberapa minggu beriktikaf di Masjid, sebagai wujud penguatan spiritualnya.

Khamim juga telah merutinkan puasa selama 5 tahun terakhir, kecuali saat hari besar keagamaan, dan puasa ini terus berlangsung dalam perjalanan suci ini. Masyaa Allah, maha besar Allah.

Karena dia berpuasa, dia hanya melakukan perjalanan di malam hari. Setidaknya di setiap malamnya ia dapat menempuh 50 km, ini dapat ia capai manakala kondisi badannya dalam keadaan baik. Namun jika ia merasa badannya lemah, ia hanya dapat mencapai 10- 15 km saja permalam.

Terlepas dari kerasnya perjalanan, dia hanya jatuh sakit dua kali, yakni di India dan Malaysia. Dia hanya memakan makanan halal. Tiada asupan spesial sebagai suplemen penguat badan. Hanya dengan madu dicampur air putih saja yang ia rutinkan untuk membantu kekebalan tubuhnya terhadap kondisi cuaca buruk alam.

Ia juga menyatakan, bahwa selama perjalanannya ia tidak pernah bertemu perampok atau penjahat, akan tetapi setidaknya selama perjalanan, ia telah bertemu tiga kali dengan ular berbisa di hutan Malaysia. Mochammad menambahkan “ Ajaibnya, sebelum ular-ular itu menyerang dan menggigit saya, ular berbisa itu terjatuh dan mati.”

Lebih lanjut Mochammad Khamim bercerita, “Saya tidak pernah meminta-minta tapi saya selalu bertemu orang yang memberi saya makanan dan bekal lainnya,” lanjutnya. “Saya juga pernah disambut di kuil Budha Thailand, saya juga pernah diberi makanan oleh orang-orang desa di Myanmar, saya juga banyak belajar dan bertemu dengan ilmuan Muslim dari berbagai negara, salah satunya di Masjid Jami’ India dan saya juga bertemu dan berteman dengan pasangan Kristen Irlandia yang mengendarai sepeda di Yangon.

“Semua ini adalah anugrah tuhan, dan dengan pemikiran positif dan getarannya – tidak memiliki niat buruk dan berprasangka buruk terhadap orang-orang yang saya temui – saya masih dapat melanjutkan perjalanan ini hingga sekarang, walaupun saya tidak memiliki sumber keuangan. kecuali dari apa yang saya bawa sebelumnya.”

Pada hari Sabtu 20 Mei 2017, Mochammad Khammim akan pergi ke KBRI Abu Dhabi untuk menunggu visanya. Dari sana, ia akan melanjukan perjalananya ke Makkah. Tujuannya adalah untuk mencapai kota suci Mekkah sebelum 30 Agustus  tahun ini.

Sementara itu, konsultan Indonesia Dubai Murdi Primbani mengatakan bahwa,“Mochammad adalah panutan bagi kaum muda muslim atas kerendahan hati, spiritualitas, inklusivitas dan tekadnya”.

Demikian gambaran kisah perjalanan pemuda muslim yang rela meninggalkan segala aksesoris keduniaan, hanya untuk mencapai kesempurnaan dari sebuah ketaatan, kesabaran, keikhlasan, keberserahan dan kepercayaan. Pemuda ini juga mengajarkan kepada kita semua, pemaknaan dari sebuah perjalanan.  Langkahan kaki yang ia langkahkan tak hanya bernilai spritual terhadap Tuhan, melainkan penebaran kebaikan kepada sesama makhluk Tuhan. Kebaikan yang ia tawarkan bukan dalam bentuk kemewahan. Melainkan dengan segala kesederhanaan. Inilah jalan ia tempuh dalam penggapaian sebuah keridhaan dari Tuhan semesta alam.

Semoga kita semua dapat mengambil ibroh dari kisah nyata di atas, spritualitas kita terhadap Tuhan sudahlah menjadi keharusan kita sebagai hambaNya. Namun tak kalah penting dari sebuah kehidupan, adalah penebaran kebaikan terhadap sesama. Dengan penuh kasih sayang, penghormatan, penghargaan, pengertian insyaAllah dengan ini akan tercipta keadilan, keindahan serta kebahagiaan, dan pada akhirnya akan melenyapkan kedhaliman.

6 total views, 3 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini