Madain Shaleh: Peninggalan Kaum Tsamud

Madain Shaleh: Peninggalan Kaum Tsamud

 أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ ۛوَالَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ ۛلَا يَعْلَمُهُمْ إِلَّا اللَّهُ ۚجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرَدُّوا أَيْدِيَهُمْ فِي أَفْوَاهِهِمْ وَقَالُوا إِنَّا كَفَرْنَا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ وَإِنَّا لَفِي شَكٍّ مِمَّا تَدْعُونَنَا إِلَيْهِ مُرِيبٍ

Artinya:”Belumkah sampai kepadamu berita orang-orang sebelum kamu (yaitu) kaum Nuh, `Ad, Tsamud dan orang-orang sesudah mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka selain Allah. Telah datang rasul-rasul kepada mereka (membawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian) dan berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu disuruh menyampaikannya (kepada kami), dan sesungguhnya kami benar-benar dalam keragu-raguan yang menggelisahkan terhadap apa yang kamu ajak kami kepadanya”.(QS.Ibrohim:9)

Dari ayat di atas jelas tersirat, bahwa banyak peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada orang- orang sebelum kita. Peristiwa- peristiwa itu tak hanya menyisakan kisah maupun sejarah umat manusia. Banyak darinya yang menyisakan bukti nyata, yang kini dapat kita saksikan sebagaiobjek wisata. Objek ini bukan untuk dipuja, apalagi mengambil fadhilah dari nya, melainkan agar kita semua mengambil ibroh/ pelajaran dari setiap peristiwa yang ada. Salah satu di antara kisah yang menyisakan bukti  nyata adalah kisah kaum Tsamud,yaitu kaumnya Nabi Allah Shaleh as.

Bagaimana kisahnya? Dan apa bukti nyata bahwa sebelum kitaada orang-orang  yang tertimpa malapetaka atas penentangannya kepada Nabi Allah Ta’ala.

Terdapat beberapa ayat Quran yang menyebutkan tentang kisah kaum Tsamud, meski penyebutannya tak berurutan dan tidak terkumpul dalam satu surat, namun ayat-ayat ini membuktikan, bahwa kaum tsamud bukanlah fiksi yang dibuat-buat.

Dikisahkan dalam al-Quran, pada zamannya kaum Tsamud memiliki kemampuan serta keahlian di bidang arsitektur yang luar biasa. Hal ini sebagaimana dapat kita saksikan pada situs pariwisata.Kaum ini hidup di zaman Nabi Shaleh As.  Nabi Shaleh adalah Nabi kelima dari 25 Nabi yang tertulis dan dikenal. Nabi Shaleh diutus oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya (Tsamud) beriman dan mengesakan Allah. Namun, kaum Tsamud tidak menerima ajakan Nabi Shaleh tersebut dan meminta diperlihatkan satu mukjizat sebagai bukti bahwa Nabi Shaleh adalah utusan Allah.

Mereka (kaum Tsamud) meminta unta betina keluar dari Batu, maka dengan karunia Allah keluarlah unta betina dari celah bebatuan. Ia (Nabi Shaleh) berpesan kepada umatnya untuk tidak menyakiti unta tersebut, apalagi membunuhnya. Namun seiring waktu berjalan umat Nabi Shaleh mengingkari perjanjian dan nekad membunuh unta tersebut. Nabi Shaleh pun marah dan mengatakan bahwa Azab Allah tidak lama lagi akan datang dan membumihanguskan kaumnya.

Mukjizat unta betina pada dasarnya hanyalah simbol kepatuhan kaum Tsamud kepada Allah. Namun kepatuhan ini mereka langgar. Sehingga Nabi Shaleh marah dan mengatakan demikian.

Waktu telah berlalu, namun azab Allah yang dijanjikan tak kunjung datang. Sehingga kaum Tsamud menantang kepada Nabi Shaleh akan azab yang telah dijanjikan. Tidak lama berselang, Allah menjawab tantangan kaum Tsamud dengan mendatangkan azab yang sudah dijanjikan. Azab ini berupa angin puting beliung, cuaca dingin, gempa dahsyat, dan petir yang menggelegar. Semua ini sebagaimana terekam dalam firman Allah, sebagai berikut:

Artinya: ”Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”.

Artinya: ”Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan”.

Hingga pada akhirnya, kaum Tsamud tenggelam ditelan bumi. Tiada seorangpun tertinggal. Yang tersisa hanyalah bbeberapa bangunan dan Istana gunung batu karya besar mereka, yang sampai saat ini dapat kita saksikan. Ialah Mada’en Shaleh As.

Mada’en Shaleh merupakan perkampungan Kaum Tsamud di Zaman Nabi Shaleh. Terdapat situs peninggalan di perkampungan ini, yaitu bangunan tinggi menjulang yang dibangun di gunung-gunung batu. Bangunan ini merupakan karya besar dari kaum Tsamud saat itu. Kota ini terletak di sebelah utara daratan Saudi Arabia, 380 km dari kota Madinah al-Munawwarah. Untuk menuju tempat ini, hanya dapat dilalui melalui darat, tidak ada akses selain itu. Dan dapat ditempuh 3,5 jam dari Madinah melalui Highway ke arah Tabuk. Kota terdekat dengan tempat ini adalah kota Al-‘Ula.

Ketika kita akan menuju ke Mada’en Shaleh, di sepanjang perjalanan antara Madinah dan Mada’en Shaleh, terdapat dua kota kecil yang kita lalui, yaitu Al-Lahn dan Khaebar. Kota ini dikenal sebagai basis daerah Suku Badui di Saudi untuk wilayah utara. Meskipun suku Badui Saudi saat ini sudah berkendaraan, namun perilaku mereka terkenal sebagai mukhalif atau anti hukum.

Saat musim panas, yakni anatara bulan April dan September, wilayah ini, termasuk wilayah al-Ula’  yang berjarak 25 km dikenal dengan daerah yang amat panas. Bahkan bisa mencapai 55 derajat Celcius. Namun, ketika musim dingin daerah ini bisa mencapai nol derajat.

Total luas wilayah ini mencapai 30.000 km2 , penduduknya hanya sekitar 70.000 jiwa. Adapun roda kehidupan di daerah ini didominasi oleh orang asing untuk kelas pekerja. Mayoritas pekerja datang dari Bangladesh dan Pakistan. Sadar akan kapasitas air yang melimpah, mayoritas penduduk Ula’ mengandalkan penghasilan hidup dari bertani, dengan hasil andalan seperti kurma, jeruk, gandum, sayuran, semangka dan melon. Pendapatan selebihnya diperoleh dari hasil pariwisata sebagai kota bersejarah dan penelitian situs purbakala.

Situs purbakala ini dikelilingi oleh pagar kawat. Tidak ada seorangpun yang bisa memasuk kawasan bersejarah ini, kecuali melewati satu pintu gerbang yang dijaga ketat polisi sebagai penjaga situs purbakala. Polisi penjaga tidak memberikan izin masuk kecuali pengunjung atau wisatawan mengantongi surat keterangan yang dikeluarkan oleh dinas museum kota al-Ula’. Tak hanya itu, setelah melewati proses pemeriksaan berkas dan izin, polisi akan menanyakan peralatan apa yang dibawa pengunjung. Karena pengunjung hanya boleh mendokumentasikan situs ini hanya dengan kamera foto, dan melarang mendokumentasikan dengan video.

Mengingat luasnya wilayah ini, untuk mengelilingi Mada’en Shaleh dianjurkan tidak dengan berjalan kaki. Akan tetapi menggunakan mobil khusus jenis jip gurun. Karena jalan yang dilalui di daerah ini adalah jalan berpasir, sehingga jika menggunakan mobil biasa dapat membuat mobil terperosok dalam gundukan pasir.

Demikian singkat kisah Kaum Tsamud dan Mada’en Shaleh yang kami sajikan, semoga dapat menambah pengetahuan kita semua, dan dengannya kita juga dapat mengambil ibroh. Amiiin.

Sumber: Encyclopedia of Islamic Civilization

 

422 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini