Berjuta Makna (1): Perjalanan yang Membuatku Semakin Berbakti Pada Suami

Berjuta Makna (1): Perjalanan yang Membuatku Semakin Berbakti Pada Suami

Assalamualaikum sahabat, semoga semuanya dalam keadaan sehat wal ‘afiat. Aamiin…

Kemarin, saya dapat curhatan dari salah satu Sahabat Rihaal (alumni umroh Rihaal). Chatnya lumayan panjang, tapi mengesankan. Dari beberapa cerita yang disampaikan, ada satu yang ingin saya bagikan.Tentunya, atas izin dari yang bersangkutan.

Apa sih isi curhatannya? Penasaran? Simak ya…

Awalnya sahabat kami ini (sebut saja, Ibu A) hanya menanyakan terkait trip dadakan, setelah tanya jawab itu selesai, Ibu A menyampaikan terima kasihnya kepada saya. Tak lama berselang ibu A langsung melanjutkan chatingannya…

Begini kira-kira isinya…

Saat pembagian kamar (roomlist) di Indonesia, saya ditempatkan sekamar dengan ibu- ibu yang sudah sepuh, sebut saja ibu B. Alhamdulillah respon dari keluarga beliau senang sekali, karena mereka (keluarga ibu B) lega, jika ibu B mendapatkan temen sekamar yang masih muda.

Namun, waktu mendekati keberangkatan, saya dihubungi salah satu tim Rihaal, saya dan suami mendapatkan penawaran up grade kamar dengan harga 3 juta. Saya dan suami berbincang santai terkait hal ini. Hingga pada akhirnya kami memutuskanuntuk tetap terpisah kamar, sebagaimana roomlist yang telah ditetapkan oleh Rihaal. Hal ini tentunya dilandasi dengan berbagai pertimbangan. Salah satu pertimbangannya adalah agar kami bisa membantu jamaah lainnya.

Setibanya kami di Bumi Melayu Malaysia, saya dan suami sedikit terkejut, karena kami mendapatkan sekamar berdua. Jika ditanya bagaimana rasanya, tentunya kami sangat bahagia. Namun di sisi lain, kami (khususnya saya) merasa tak tega melihat  ibu B menangis. Ya… ibu B menangis. Bukan karena tidak ada teman selain saya, melainkan beliau panik, bingung karena tidak tahu bagaimana cara membuka pintu dan tidak ada anak muda yang membersamainya. Melihat hal tersebut, saya dan suami memutuskan untuk akhirnya mengajak Ibu B beserta suami agar sekamar dengan kami. Alhamdulillah, melihat kebahagiaan mereka menjadi kebahagiaan kami pula.

Singkat waktu, akhirnya kami meninggalkan bumi Malaya menuju Jeddah dan Madinah. Lalu tibalah rombongan kami di salah satu hotel Madinah. Letak hotel yang kami tempati tidak begitu jauh dari Masjid Nabawi. Tepatnya di jalan yang searah dengan pintu gate 25 Masjid Nabawi. Sewaktu, salah satu ustadz dari Rihaal membagikan kamar, ketika nama saya disebut, kejadian seperti di Malaysia kembali terjadi. Ya… kami mendapatkan surprise untuk kedua kali… saya kembali mendapatkansekamar berdua dengan suami di Buminya Nabi, di tanah suci.

Ketika saya memasuki kamar, hati saya merasa gelisah dan sayapun kepikiran dengan ibu B. Akhirnya saya putuskan untuk menyusul ke kamar ibu B. Berdasarkan hasil perbincangan saya dengan suami, saya kembali menawarkan beliau dan suami untuk sekamar dengan kami. Saat itu juga, beliau langsung menangis dan memeluk saya.

Beliau juga bercerita,“Kalau bapak itu sejak nikah tidak pernah mengurusi apa- apa sendiri. Keperluan Bapak selalu Ibu yang nyiapin. Dari makan, baju dinas sampai saat mau mandi… Dan Alhamdulillah ibu tetap bisa mengurus keperluan bapak seperti biasanya di tanah suci. Dan dikasih kemudahaan bisa sekamar.”

Subhanallah Maha besar Allah, ini… pelajaran yang sungguh luar biasa yang saya dapat dari ibu B.  Sebelas hari bersama beliau berdua, saya banyak sekali mendapatkan ilmu. Sehebat apapun istri di luar, seharusnya istri sudah seharusnya perhatian dengan suami, tidak hanya mempercantik diri. Dan saya sendiri jauh dari hal itu.

Dari sini pula saya bersyukur, beruntung sekali mempunyai suami yang tidak mempermasalahkan hal-hal itu. Seperti  nggak suka masak dan harus makan masakan pembantu. Bahkan saya lebih sibuk nyiapin urusan anak-anak hingga pada akhirnya suami terlatih mandiri menyiapkan keperluannya sendiri.

Semangat beribadah ibu B dan suami juga mempengaruhi kami, sehingga kamipun jadi terbawa semangat untuk melangkahkan kaki ke masjid. Karena kami harus menjadi guide pribadi mereka berdua. Selelah apapun kami, tiada arti jika telah melihat semangat dari dua sejoli ini. Sampai-sampai batin kami bergumam “Mosok kalah sama orang yang sudah sepuh”… dan menjadi keheranan saya selama di tanah suci adalah bahwa asma saya tidak kambuh. Padahal kalo di sini (Indonesia), capek sedikit saja sudah bunyi tuh nafas…

Kegiatan kami yang cukup padat selama di tanah suci (jam 12 malam sudah ke masjid sampai hotel jam 8 pagi, mandi sarapan, istirahat sebentar, makan siang, berangkat dzuhuran sampai habis isya baru pulang) tidak membuat kami merasa letih. Malah terkadang kami memilih untuk tidak makan siang, saking sayangnya beranjak dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Sebagai gantinya biasanya kami hanya membawa bekal buah-buahan yang seringkali disediakan di restoran hotel. Pokoknya asyik deh…

Berkaca dari perjalanan ini, Insyaa Allah mulai sekarang anak-anak akan saya ajarkan untuk  wajib menabung tiap hari, jadi pas ada umroh dadakan bisa ke sana lagi. Kalau kemarin saya dikasih kesempatan beribadah dengan orang yang lebih tua, semoga besok Allah SWT kasih kemudahan saya dan suami bisa mendampingi anak- anak ke sana lagi bersama Rihaal…(Aamiin). Biar bisa merasakan, meresapi perjalanan hidup saat dimana saya menempatkan diri saya sebagai anak yang harus berbakti, menjaga ortu yang sudah sepuh dan saya sebagai seorang ibu yang harus bisa perhatian dan selalu memberikan kasih sayang terhadap anak-anak dan keluarga. Pokoknya Rihaal siip banget…

Sahabat, semoga perjalanan kita (kelak, bagi yang belum) ke tanah suci tidak hanya sekadar perjalanan biasa tetapi perjalanan maknawiyah (spiritual) yang penuh dengan hikmah dan keberkahan (bertambahnya kebaikan) di setiap langkah kita. Semoga sepenggal kisah perjalanan Sahabat Rihaal ini memberi pelajaran bagi kita. Insyaa Allah kami akan kembali berbagi kisah perjalanan berhikmah lainnya… 🙂

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp