Kisah Mbah Ngatiyem Yang Menyentuh Hati

Kisah Mbah Ngatiyem Yang Menyentuh Hati

“AKU OJO DITINGGAL YO LE …” *)

Ungkapan bahasa jawa di atas di sampaikan oleh seorang ibu kepada anak laki2nya yang artinya “Saya jangan di tinggal ya nak.” Memiliki makna yang sangat mendalam. Dibulan Ramadhan yang mulai ini, Mbah Ngatiyem, nenek berusia 77 tahun yang memiliki 5 putra dan putri menjadi salah satu jamaah Rihaal Umroh dari Gunung Kidul. Dengan ijin Alloh, beliau berangkat ketanah suci atas dorongan putra/putrinya. Disaat masa tunggu haji yang begitu panjang, maka umroh ramadhan menjadi pilihan. Krn umroh di bulan ramadhan sebagaimana haji bersama Rasululloh SAW.

Umroh Reguler Rihaal kali ini memang sedikit istimewa, dengan jumlah rombongan yang gemuk (50 pax), juga di bersamai oleh para asatidz dari jogja dan jawa timur. Dengan trip yang sedikit beda dari biasanya yaitu landing jeddah dan langsg ke makkah u melaksanakan umroh.

Rangkaian ibadah umroh dan kegiatan di makkah selama 4 hari berjalan dengan lancar, termasuk Mbah Ngatiyem yang kebetulan berangkat umroh ramadhan di bersamai oleh anak laki dan menantunya. Menurut penuturan pak Edi, putra ke tiga mbah ngatiyem dari lima bersaudara. Bahwa sehari sebelum meninggalkan kota makkah, simbok (panggilan mbah ngatiyem) sempat mengutarakan,

Mbah : “Engko nek mulih aku ojo di tinggal yo le”.

Pak Edi : “Lah nggih tho, mosok simbok ditinggal ono kene”

Setelah perjalanan dari makkah ke madinah, dan mengikuti kegiatan hari pertama di madinah (ziarah ke makam Rosululloh dan sekitar masjid Nabawi). Mbah Ngatiyem merasakan nyeri diperut dan muntah2. Sehingga harus istirahat di dalam kamar u sementara waktu.

Setelah diperiksa dan diberi obat mual dan nyeri oleh dr Syifa (kebetulan di trip kali ini ada jamaah yg profesinya sebagai dokter). Mbah Ngatiyem sudah lumayan pulih dan menjalankan agenda seperti biasanya.

Namun, di sore hari menjelang kepulangan ketanah air, nyeri perut kambuh lagi dan kali ini terasa sangat sakit. Hal ini, yg mendasari Tim Rihaal Edukasiuntuk segera di bawa ke RS Al Ansor Madinah, untuk mengetahui secara detail sakit di perutnya. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratirium dan x-ray Mbah Ngatiyem terindikasi bermasalah di usus besarnya atau dalam bahasa medis disebut Appendicitis. Dan saat ini sdh dalam kondisi pecah/bocor. Sehingga harus segera di lakukan operasi di RS yang lebih memadai yaitu di RS Malik Fahd Madinah.

Bakti Sang Anak

Proses yang begitu cepat inilah, yang kemudian kami rundingkan dengan pihak keluarga untuk bisa menentukan siapa dari pihak keluarga yang mendampingi. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya di putuskan pak Edi (anak laki2 mbah Ngatiyem) yang mendampingi dan menantu beliau (istri pak edi) pulang duluan bersama rombongan.

Kesederhanaan jauh dari keluhan, terus bersyukur tanpa mengharap pujian. Pasrah dan nrimo menjadi pantulan cermin yang bisa saya rasakan selama 2 hari membersamai beliau di RS. Sebuah pelajaran hidup yang sungguh berarti.

Berangkat dari keinginan kuat dari sang anak untuk memberangkatkan umroh/haji orang tua. Sekaligus membimbing dan mendampinginya selama melaksanakan ibadah di tanah suci. Hanya sebuah harapan bisa jadi kesempatan ini (umroh) adalah kesempatan yang terakhir yang di berikan Alloh untuk bisa berbakti kepada orangtua di dunia ini.

Mohon doa dari sahabat semua, semoga Mbah Ngatiyem lekas sembuh. Dan bisa berkumpul kembali bersama keluarga di rumah.

 

12 Ramadhan 1439 H

RS Malik Fahd Madinah

(Kris Abdurrahman)

 

 

 

 

5 total views, 3 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini