[Sultan Al Fatih] Kisah Masa Kecil Sang Penakluk Konstantinopel

[Sultan Al Fatih] Kisah Masa Kecil Sang Penakluk Konstantinopel

Mehmed II atau juga dikenal sebagai Muhammad al-Fatih merupakan sultan ketujuh dari daftar sejarah Dinasti Utsmaniyah. Mehmed II lebih sering dikenal dengan sebutan al- Fatih setelah ia menaklukan kerajaan Bizantium Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad. Dan al Fatih lah yang  mampu membuka dan meruntuhkan gerbang konstantinopel  yang telah lama tertutup dan kokoh berdiri dari serangan luar.

Al –Fatih pertama kali memimpin sejak saudaranya (beda Ibu)  meninggal dunia, dan saat itu al –Fatih masih berusia muda (12 tahun usianya), namun tak lama dari masa pemerintahannya, ayahnya (Murad II) yang sudah turun tahta, kembali naik tahta untuk menggantikan al- Fatih kecil. Hal tersebut dikarenakan demi keamanan negara dan atas dasar nasihat dari para perdana mentrinya.

Sultan al Fatih memerintah selama 30 tahun. Sejak meninggalnya Murad II tanggal 3 Februari 1451 sampai meninggalnya al Fatih tanggal 3 Mei 1481. Selama masa pemerintahannya, selain menaklukkan Bizantium, ia juga berhasil menaklukkan banyak daerah  dari wilayah di Asia dan Eropa. Dan yang terpenting dari jasanya  adalah berhasilnya al Fatih dalam mengadaptasi manajemen kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam kerajaan Utsmani.

Pertanyaan kita, bagaimana ayah al Fatih dalam mendidik anaknya dan Bagaimana masa kecil al Fatih. Sehingga al Fatih tumbuh sebagai insan yang luar biasa. Bahkan Rasulullah menyebutnya sebagai sebaik baiknya panglima.

Masa Kecil Al Fatih

Al Fatih lahir pada tanggal 29/ 30 Maret 1432 di Edirne, yang merupakan ibu kota dari Dinasti Utsmaniyah saat itu. Ia lahir dari rahim seorang ibu bernama Turki Hatun , dan ayahnya adalah Sultan Murad II.

Sebagai seorang ayah dan Sultan, Sultan Murad II sangat memperhatikan terhadap pendidikan anaknya. Hal tersebut ia lakukan tidak hanya untuk masa depan anaknya. Lebih dari itu, Murad II ingin mempersiapkan anaknya sebagai penerus dari tahta kekuasaan Utsmaniyah.

Al Fatih lahir sebagai putra ketiga Murad II. Al Fatih awalnya tidak diperkirakan akan secepat itu menggantikan ayahnya sebagai sultan dalam dinasti Utsmaniyah. Ya, karena masih ada dua kakanya yang bernama Ahmad dan Ali yang akan lebih dulu menggantikan ayahnya. Namun, siapa yang menyangka jika kedua kakaknya meninggal dunia dalam usia yang masih sangat muda. Kematian kedua kakaknya lah yang membuat Murad II mengundang al-Fatih kecil dari Magnesa( saat ini bernama Manisa, dekat dengan Izmir) ke Edirne kota kelahirannya, dan juga  menjadi kota yang akan menemani masa kecil nya hingga ia menjadi pemuda tangguh yang luar biasa.

Di Edirne Inilah al Fatih mulai intensif dididik dan dipersiapkan untuk menjadi penerus dan pengganti ayahnya (Murad II). Seperti kebanyakan anak zaman sekarang, di awal pendidikannya al Fatih bukanlah anak yang mudah menerima pelajaran. Hal tersebut tidak berarti jika al Fatih adalah anak yang kurang mampu menyerap pelajaran.  Hal ini disebabkan karena kedudukan al Fatih sebagai seorang pangeran sehingga membuatnya menjadi manja dan tak mau taat terhadap guru-guru yang dihadirkan oleh ayahnya dalam mendidiknya. Padahal ia adalah anak yang  sangat cerdas.

Banyak guru yang telah gagal dalam mendidik dan menggemblengnya. Sampai akhirnya ,Sultan Murad II mendapatkan seorang ulama sekaligus guru yang berkarisma tinggi serta memiliki sikap yang tegas yang akan mendidik anaknya (al Fatih).  Ialah Syeikh Ahmad bin Ismail Al Kurani, seorang ulama Kurdi.

Sebelum Sultan Murad II mengamanahkan Syeikh Ahmad untuk mendidik anaknya, Sultan Murad II membekali syeikh Ahmad al Kurani dengan sebilah kaya untuk digunakan bilamana perlu. Dan di awal pertemuan dengan anak didiknya, Syeikh Ahmad Al-Kurani sambil memegang kayu di tangan dan berkata “ayahmu mengirim saya untuk mendidikmu, serta untuk meluruskanmu jika kamu menolak perintah saya.”

Al Fatih tertawa mendengar kalimat tersebut. Seketika itu juga syeikh Ahmad memukul Al Fatih dengan keras. Dan betapa terkejutnya al Fatih mendapat pukulan dan perlakuan seperti itu. Ia tak menyangka jika gurunya yang baru itu akan benar-benar memukulnya . Padahal selama ini hidup senang dan keinginannya selalu dituruti oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Kini ia “ kena batunya”. Ketegasan Syeikh Ahmad al Kurani ini membuat al Fatih tidak bisa lagi berkutik dan mulai mau untuk belajar dan mentaati gurunya.

Ia pun mulai mendalami Al-Quran serta ilmu-ilmu lainnya. Di samping itu, Murabbi Syeikh Ak Syamsuddin yang juga merupakan Murabbi dari Sultan Muhammad Al-Fatih. Beliau adalah guru terdekat dari Sultan al-Fatih. Beliau mengajar Sultan al Fatih ilmu-ilmu agama seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, bahasa (Arab, Parsi dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya. Syeikh Ak Syamsuddin lah yang juga meyakinkan Sultan Muhammad al Fatih, bahwa dia adalah orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di dalam hadits penaklukan Kostantinopel.

Baca juga: EDIRNE – KOTA SERIBU MASJID DI BAGIAN UATARA TURKI

Selain pendidikan yang diprioritaskan oleh Sultan Murad II kepada anak-anaknya sebagai penerus tahtanya. Sesuai kebiasaan dalam kekhalifahan Utsmaniyah kala itu, al Fatih yang saat itu berusia 11 tahun,  dikirim untuk memimpin dan mencari pengalaman di sebuah kota bernama Amasya. Dan tak lama kemudian, tepatnya saat al Fatih sudah menginjak umur 12 tahun, sultan Murad II mengundurkan diri dari tahtanya dan digantikan oleh anak semata wayangnya (al Fatih). Namun, hal ini tak berjalan lama karena permintaan dari perdana mentri dan juga penasihat Murad II. Mereka menganggap bahwa Al- Fatih kala itu, masih sangat muda untuk memimpin. Sehingga kembalilah Murad II memimpin hingga Akhir hayatnya (1455). Dan pada hari kematian ayahnya itu pula Al-Fatih kembali di angkat menjadi pemimpin Daulah Utsmaniyah. Kala itu usianya sudah cukup dewasa yakni 21 tahun.

Demikian kisah singkat masa kecil al-Fatih. Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita ambil dari kisah di atas dalam mendidik seorang anak.

  1. Peran ayah sangat penting dalam mendidik anak, baik mendidiknya secara langsung, maupun mencarikan guru dan tempat untuk belajar sang anak.
  2. Carikanlah dan pilihlah guru terbaik untuk anak – anak kita
  3. Jika ketegasan diperlukan untuk mendidik anak, lakukanlah. Hal tersebut untuk mengajarkan sang anak akan tanggung jawab dan kedisiplinan. Serta mengajarkan anak untuk menghormati dan menghargai.

Akhir kalam, semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua. amiin

1,157 total views, 5 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini