Jejak Kejayaan Ilmu Pengetahuan dan Ilmuwan Muslim Andalusia

Jejak Kejayaan Ilmu Pengetahuan dan Ilmuwan Muslim Andalusia

Istana El Escorial, Madrid Spanyol

Bismillah… Dear sobat pecinta perjalanan, jika kemarin kita membahas Mezquita; salah satu situs bersejarah di Cordoba atau ibu kotanya Andalusia (Spanyol), kali ini mari menapaki sisi lain yang tak kalah penting peranannya terhadap peradaban Islam di sana khususnya dan pada dunia Islam umumnya.

Jika kelak sobat bisa jalan-jalan ke sana, sempatkan untuk singgah ke Istana El Escorial (45 km sebelah barat laut Madrid, Spanyol). Ada apa dengan istana ini? Di sana sobat akan melihat koleksi berbagai perpustakan ilmuwan Muslim Andalusia yang masih terselamatkan. Saat pemerintahan Islam di Andalusia jatuh, sebagian besar koleksi berbagai perpustakaan yang ada ikut musnah. Namun sisa-sisa koleksi tersebut dapat diselamatkan dan disimpan dengan baik di perpustakaan El Escorial oleh Raja Philip II (1556-1598) dan penerusnya.

Dalam Ensiklopedia Peradaban Islam Andalusia karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, disebutkan bahwa kontribusi peradaban Islam di Andalusia terhadap kemajuan peradaban Eropa dimulai ketika bangsa Eropa mulai giat menimba ilmu di pusat-pusat pendidikan Andalusia. Selain belajar langsung di sana, mereka juga berusaha menerjemahkan karya-karya ilmuwan muslim dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan lalu membawa pulang ilmu yang mereka dapat dan karya yang mereka terjemahkan tersebut. Di negeri mereka masing-masing, mereka menjadi ilmuwan terkemuka dan perlahan-lahan mengembangkan ilmu yang mereka miliki. Sayangnya, tidak semua ilmuwan Barat mengakui sumbangan sarjana Muslim dan mengatakan bahwa para sarjana Muslim tersebut hanyalah perantara ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh peradaban sebelumnya, seperti Yunani.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi ke seluruh Eropa merupakan kontribusi para ilmuwan Muslim di Andalusia. Berbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama sains murni, filsafat, dan teknologi yang ditemukan dan dikembangkan oleh para sarjana Muslim mengalir ke seluruh Eropa melalui perantaraan sarjana Barat. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan teks-teks yang ditulis oleh para sarjana Muslim sebagai rujukan utama di lembaga-lembaga pendidikan Eropa.

Di bidang filsafat, tidak ada ahli filsafat baru setelah kematian Aristoteles (384-322) SM hingga kemudian lahir ahli filsafat Muslim pertama yaitu Abu Yusuf bin Ishaq atau yang lebih kita kenal dengan al-Kindi (806-873 M). Al Kindi belajar filsafat dengan mempelajari buku-buku Aristoteles dan Plato yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab (atas perintah Khalifah al-Ma’mun dan Harus al-Rasyid). Al-Kindi lah yang kemudian dikenal sebagai orang pertama yang membuka pintu filsafat bagi dunia Islam dan Barat. Tokoh lainnya yakni Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkan atau al-Farabi (870-950 M) atau yang dikenal Barat dengan Alpharabius dan Ibnu Rusyd atau Averroes.

Awalnya karya filsafat Islam diterjemahkan dalam bahasa Latin karena saat itu bahasa Latin merupakan bahasa peradaban bagi seluruh Eropa (meski tidak semua adalah bangsa Latin). Selain bahasa resmi, bahasa Latin juga merupakan bahasa yang lazim digunakan di sekolah-sekolah dan bahasa pengantar bagi kalangan terpelajar Eropa.

Di bidang sains murni, bidang ilmu pengetahuan yang pertama kali menarik minta kalangan sarjana Muslim adalah astronomi dan matematika. Mereka melakukan pengkajian terhadap al-Qur’an dan literatur-literatur Yunani Kuno. Selain ilmu astronomi dan matematika, mereka juga mempelopori pengembangan ilmu-ilmu lain seperti kedokteran, kimia, fisika, botani dan zoologi. Ilmu-ilmu ini berkembang pertama kali di pusat-pusat peradaban Islam di belahan timur sebelum kemudian ikut berkembang di belahan barat (Andalusia). Dai Andalusia inilah ilmu pengetahuan tersebut kemudian tersebar ke Eropa Barat pada abad ke-10 hingga ke-13.

Ilmu astronomi juga termasuk cabang sains yang dipelajari oleh para sarjana muslim. Ilmu astronomi merupakan ilmu yang paling berkembang dalan sejarah sains muslim. Ilmu ini penting untuk kaum muslim karena erat kaitannya dengan penentuan arah kiblat, waktu-waktu shalat, awal bulan Ramadhan, awal pelayaran dan pertanian. Salah seorang pakar astronomi muslim adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi. Ia adalah sarjana muslim pertama yang berhasil membuat suatu model (taqwim) yang digunakan untuk meramalkan kedudukan planet dan bintang. Taqwin yang berjudul Zij as-Sind Hind ini berdasarkan pada Siddhanta Hindu. Al-Khawarizmi juga menulis tentang astrolab Yunani. Meskipun Astrolab pertama kali diciptakan oleh orang Yunani, ilmuwan-ilmuwan Islam berhasil mengembangkannya sehingga alat tersebut kini dikenali sebagai ciptaan asli orang Islam. Jadwal astronomi yang dibuat oleh Al-Khawarizmi dan dibuat ulang oleh Maslamah bin Ahmad di Madrid pada abad ke-10 telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain pertama kali oleh Adelard of Bath, diikuti oleh Herman dan Robert of Chester.

Kajian-kajian astronomi di Spanyol mencapai puncaknya setelah pertengahan abad ke 10 dan berkembang pesat melalui kontribusi dari penguasa Cordoba, Seville dan Toledo. Para pakar astronomi Spanyol pada umumnya mempercayai pengaruh bintang terhadap berbagai peristiwa penting antara kelahiran dan kematian manusia. Dalam mengembangkan pemikiran astronominya,mereka memakai kerangka karya-karya astronomi dan astrologi yang ditulis oleh ahli astronomi muslim Timur. Pakar astronomi muslim paling awal dari Spanyol adalah al-Majriti (w. 1007) dari Cordoba, az-Zarqali (1029-1087) dari Toledo, dan Ibnu Aflah (w. antara 1140-1150).

Adapun ilmu matematika yang diperkenalkan oleh kaum muslim terdiri dari sistem angka, aljabar (algebra), dan trigonometri. Sistem angka 1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9 yang digunakan pada hari ini dikenal sebagai angka muslim atau arabic numercial oleh orang Eropa pada Abad Pertengahan. Sistem angka muslim ini adalah sistem angka yang bersandarkan kepada kedudukan dan bersimbol sifar (nol). Pada dasarnya, sistem angka muslim ini berasal dari sistem angka Hindu. Sistem angka Hindu ini kemudian diubah dan diberi taraf baru oleh al-Khawirizmi (780-859).

Bidang ilmu pengetahuan lainnya juga tak kalah penting perkembangannya oleh ilmuwan Muslim seperti kedokteran, kimia, fisika, botani dan zoologi, ilmu sejarah, geografi, seni, bahkan bahasa dan sastra. Ilmuwan Muslim saat itu bersinar di bidang pengetahuan masing-masing dan menyebar seantero jagat Eropa bahkan benua lainnya.

Nah, mungkin cukup demikian sobat, sedikit gambaran perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmuwan Muslim di Andalusia di masa keemasannya. Betapa Islam pernah berjaya, menghiasi segala bidang kehidupan dengan cahaya peradaban yang majunya. Semoga kelak kembali nilai-nilai Islam meliputi setiap sendi kehidupan. Sebenarnya masih banyak pembahasan di bidang pengetahuan lainnya, insyaa Allah kita bahas di lain kesempatan. Semoga bermanfaat… wallahu’alam bishowab.

Sumber:

Ensiklopedia Peradaban Islam Andalusia karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec dan Tim Tazkia.

cheria-travel.com (gambar istana El Escorial)

222 total views, 3 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini