I’tikaf

I’tikaf

[24 Ramadhan] Waktu berputar begitu cepat, hingga tak terasa kita sudah berada di hari-hari terakhir Ramadhan.

Rasanya… baru kemarin kita merasakan istimewanya sholat taraweh yang hanya dapat dilakukan di bulan suci Ramadhan. Begitupun dengan santap sahur dan berbuka, rasanya baru kemarin kita merasakan berkahnya sahur, dan nikmatnya berbuka. Dan sekarang, semua itu sudah diujung menjelang sirna.

Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kita tidak memanfaatkan waktu yang tersisa untuk beribadah semaksimal mungkin kepadaNya. Agar kita lebih dekat denganNya, dan mendapatkan Rahmat, Maghfirah, serta Ridha dariNya. Demikianlah Rasulullah Saw  sebagai panutan, mencontohkan kepada insan beriman di seluruh semesta alam. Hal ini sebagaimana terekam dalam sebuah periwayatan, yang diriwayatkan oleh Aisyah ra.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ اْلعَشَرَ اْلأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ. [رواه مسلم

Artinya: “Bahwa Nabi saw melakukan i’tikaf pada hari kesepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, (beliau melakukannya) sejak datang di Madinah sampai beliau wafat, kemudian istri-istri beliau melakukan i’tikaf setelah beliau wafat.” 
 [H.R. Muslim]

Apa yang dicontohkan Rasulullah Saw di akhir Ramadhan untuk menyempurnakan dan memaksimalkan ibadahnya? Dan Bagaimana tata cara pelaksanaan dan adabnya?

Sebagaimana tertera di dalam hadits di atas, Rasulullah Saw mencontohkan dengan melakukan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. I’tikaf ini dimulai setelah hijrahnya Rasulullah Saw dan para sahabat ke Madinah dan berlangsung hingga Rasulullah Saw wafat. Dan kebiasaan i’tikaf Rasulullah Saw di sepuluh akhir Ramadhan ini dilanjutkan oleh para sahabat dan istrinya.

Apa sih pengertian dari i’tikaf?  

I’tikaf menurut bahasa artinya berdiam diri dan menetap dalam sesuatu. Sedang pengertian i’tikaf menurut istilah dikalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat.

Al-Hanafiyah (ulama Hanafi) berpendapat i’tikaf adalah berdiam diri di masjid yang biasa dipakai untuk melakukan shalat berjama’ah.

Adapun menurut asy-Syafi’iyyah (ulama Syafi’i) i’tikaf artinya berdiam diri di masjid dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu dengan niat karena Allah.

Majelis Tarjih dan Tajdid dalam buku Tuntunan Ramadhan menjelaskan I’tikaf adalah aktifitas berdiam diri di masjid dalam satu tempo tertentu dengan melakukan amalan-amalan (ibadah-ibadah) tertentu untuk mengharapkan ridha Allah. (berdasarkan Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah).

Kapan Sih Waktu Pelaksanaan I’tikaf ?

Waktu dimulainya i’tikaf adalah Malam 10 hari terakhir Ramadhan seperti yang tertera dalam hadits periwayatan Aisyah ra. Namun dalam beberapa hadis disebutkan pada tanggal 27 ramadhan
Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan shahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan sebagai berikut :

عَنِ النبِي صلى الله عليه وسلم أَنهُ إِذَا قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: لَيْلَةُ سَبْع وَعِشْرِيْنَ

Artinya: Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya apabila beliau menjelaskan tentang Lailatul Qadr maka beliau mengatakan : “(Dia adalah) Malam ke-27″

(H.R Abu Dawud, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Asy-Syaikh Muqbil dalam Shahih Al-Musnad)

I’tikaf sangat dianjurkan dilaksanakan setiap waktu di bulan Ramadhan. Di kalangan para ulama terdapat perbedaan tentang waktu pelaksanaan i’tikaf, apakah dilaksanakan selama sehari semalam (24 jam) atau boleh dilaksanakan dalam beberapa waktu (saat). Al-Hanafiyah berpendapat bahwa i’tikaf dapat dilaksanakan pada waktu yang sebentar tapi tidak ditentukan batasan lamanya, sedang menurut al-Malikiyah i’tikaf dilaksanakan dalam waktu minimal satu malam satu hari.

Berdasarkan pada pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa i’tikaf dapat dilaksanakan dalam beberapa waktu tertentu, misal dalam waktu 1 jam, 2 jam, 3 jam dan seterusnya, dan boleh juga dilaksanakan dalam waktu sehari semalam (24 jam).

Dan bagi sahabat yang masih bekerja dan belum memulai i’tikaf, tidaklah mengapa jika mulainya di malam 27 Ramadhan.

Tempat Pelaksanaan I’tikaf

Di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 187 dijelaskan bahwa i’tikaf dilaksanakan di masjid.

… فَاْلآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ اْلأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللهِ فَلاَ تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ.

Artinya:  …maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang   ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hinggga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangan kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.” 
 [QS. al-Baqarah (2):187]

Di kalangan para ulama ada pebedaan pendapat tentang masjid yang dapat digunakan untuk pelaksanaan i’tikaf, apakah masjid jami’ atau masjid lainnya. Sebagian berpendapat bahwa masjid yang dapat dipakai untuk pelaksanaan i’tikaf adalah masjid yang memiliki imam dan muadzin khusus, baik masjid tersebut digunakan untuk pelaksanaan salat lima waktu atau tidak. Hal ini sebagaimana dipegang oleh al-Hanafiyah (ulama Hanafi). Sedang pendapat yang lain mengatakan bahwa i’tikaf hanya dapat dilaksanakan di masjid yang biasa dipakai untuk melaksanakan salat jama’ah. Pendapat ini dipegang oleh al-Hanabilah (ulama Hambali).

Dianjurkan untuk dilaksanakan di masjid jami (masjid yang biasa digunakan untuk melaksanakan salat Jum’at), Namun jika di tempat terdekat tidak ada masjid jami’ maka tidak mengapa jika dilaksanakan di masjid biasa.

Syarat-syarat I’tikaf

Untuk sahnya i’tikaf diperlukan beberapa syarat, yaitu;

  1. Orang yang melaksanakan i’tikaf beragama Islam
  2. Orang yang melaksanakan i’tikaf sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan, adapun untuk anak-anak tidak mengapa jika ditujukan untuk pembelajaran.
  3. I’tikaf dilaksanakan di masjid, baik masjid jami’ maupun masjid biasa. Namun disaran beri’tikaf di masjid jami’
  4. Orang yang akan melaksanakan i’tikaf  hendaklah memiliki niat i’tikaf
  5. Orang yang beri’tikaf tidak disyaratkan puasa. Artinya orang yang tidak berpuasa boleh melakukan i’tikaf (di luar bulan Ramadhan)

Hal-hal yang Perlu mendapat perhatian bagi orang yang beri’tikaf

Para  ulama sepakat bahwa orang yang melakukan i’tikaf harus tetap berada di dalam masjid tidak keluar dari masjid. Namun demikian bagi mu’takif (orang yang melaksanakan i’tikaf) boleh keluar dari masjid karena beberapa alasan yang dibenarkan, yaitu;

  1. karena ’udzrin syar’iyyin(alasan syar’i), seperti melaksanakan salat Jum’at
  2. karena hajah thabi’iyyah(keperluan hajat manusia) baik yang bersifat naluri maupun yang bukan naluri, seperti buang air besar, kecil, mandi janabah dan lainnya.
  3. Karena sesuatu yang sangat darurat, seperti ketika bangunan masjid runtuh dan lainnya.

Amalan-amalan yang dapat dilaksanakan selama I’tikaf

Dengan memperhatikan beberapa ayat dan hadis Nabi Saw., ada beberapa amalan (ibadah) yang dapat dilaksanakan oleh orang yang melaksanakan i’tikaf, yaitu;

  1. Melaksanakan salat sunat, seperti salat tahiyatul masjid, salat lail dan lain-lain
  2. Membaca al-Qur’an dan tadarus al-Qur’an
  3. Berdzikir dan berdo’a
  4. Membaca buku-buku agama

Demikian penjelasan singkat mengenai i’tikaf. Semoga amalan kita di bulan suci Ramadhan ini diterima di sisi Allah dan mendapat Ridha Allah SWT. aamin

Wallahu a’lam bish shawab.

180 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini