[Pengalaman Umroh] Cerita Koper Tertinggal Hingga Kaki Bergetar Saat di Depan Ka’bah

[Pengalaman Umroh] Cerita Koper Tertinggal Hingga Kaki Bergetar Saat di Depan Ka’bah

Pernahkah kalian bermimpi pada suatu hari, dan mimpi kalian menjadi kenyataan? Mungkin kisah keluarga bapak Udin ini adalah contoh nyatanya.

Kisah ini menceritakan dua orang suami-istri yang tidak menyangka jika keinginan mereka untuk pergi berumroh dapat terwujud.

Ada cerita unik dari Pak Udin dan Ibu Ninik yang pergi berumroh dengan Rihaal untuk trip 25 Desember 2017 yang lalu. Diceritakan, awalnya mereka tidak berniat untuk pergi umroh dengan menggunakan Rihaal. Hingga kemudian, ibu Ninik berbincang-bincang dengan Ibu Ningrum yang notabene adalah wali kelas dari anaknya, dan ternyata juga seorang duta Rihaal.

Kemudian, ibu Ningrum pun menawarkan Rihaal kepada ibu Ninik, dan akhirnya setelah melakukan banyak pertimbangan dari fasilitas-fasilitas yang di dapatkan, harga tiket, serta waktu keberangkatan, akhirnya ibu Ninik mantap untuk menggunakan jasa Rihaal.

Ibu Ninik berangkat dengan suami dan ayahnya. Dia juga sempat khawatir akan berangkat atau tidak karna pada saat itu, sang ayah mengeluhkan kakinya yang sakit. Tetapi Alhamdulillah, denga izin dari Allah akhirnya ayah ibu Ninik pun bisa sehat dengan cepat dan bisa pergi berumroh.

Cerita Umroh

Selama di Mekkah dan Madinah, banyak pengalaman baru yang didapatkan oleh Bu Ninik dan Pak Udin. Salah satunya adalah ketika sarapan pagi di restauran salah satu Hotel di Madinah. Kebetulan pagi itu disediakan menu sup daging unta. Kemudian para jamaah memakan sup tersebut. Dan selang beberapa menit, para jamaah (laki-laki) dan juga Pak Udin, merasakan gatal-gatal di bagian tubuh mereka. Mereka menduga hal itu disebabkan oleh sup daging unta yang mereka santap.

Alhasil, tim Rihaal menawarkan untuk membawa para jamaah yang merasa gatal-gatal itu ke Rumah sakit. Akan tetapi, para jamaah menolak dan mereka memilih untuk dibelikan obat alergi saja.

Sementara itu, Bu Ninik pun melakukan inisiatif untuk mengobati gatal-gatal pada suaminya dengan menempelkan botol berisi air hangat ke bagian tubuh yang gatal. Alhamdulillah, atas izin Allah gatal-gatal yang dirasakan oleh Pak Udin berangsur-angsur sembuh. Kemudian Bu Ninik dan Pak Udin pun bisa melanjutkan rangkaian acara berikutnya.

Mimpi yang Menjadi Kenyataan

Ketika sampai di Mekkah, Ibu Ninik dan juga Pak Udin masih tidak menyangka jika mereka bisa bertemu dan melihat secara dekat keindahan Ka’bah. “Kaki saya rasanya bergetar mba. Dan rasanya ingin menangis karna tidak menyangka” kata ibu Ninik.

“Kami dulu bukan berasal dari keluraga orang mampu. Semua berjuang dari nol. Sampai untuk memulai bisnis dengan berhutang. Jadi rasanya masih tidak menyangka dan sekligus sangat bersyukur kepada Allah SWT atas kemudahan dan kesempatannya untuk menjadi tamu Allah” sambung Pak Udin.

Oleh karena itulah, setiap rangkaian ibadah mereka lakukan dengan sangat khusyuk. Tidak ada satupun rangkaian ibadah yang ingin mereka lewatkan. Hingga mereka pun merasakan betapa bahagianya, karena berhasil memegang dan mencium hajar aswat.

Musibah yang Tak Terduga

Tiba waktunya untuk pulang. Pak Udin dan Ibu Ninik pun merasakan betapa beratnya meningglkan Mekkah dan Madinah. Rasanya seperti mereka ingin tetap tinggal disana saja.

Ketika transit di Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia , ada sebuah insiden yang tidak terduga yang dialami oleh Pak Udin. Ternyata, koper beliau hilang. Setelah dikonfirmasi, ternyata koper Pak Udin terbawa oleh maskapai Garuda untuk tujuan Bandara Soekarno Hatta Jakarta.

Alhamdulillah, ternyata di koper milik Pak Udin tertempel nomer telfon dan foto beliau, sehingga pihak Garuda bisa segera menghubungi Pak udin. Kemudian esok harinya, Pak Udin pun menuju ke bandara Adisutjipto Jogja untuk menunggu kedatangan kopernya.

Memang terbesit sedikit rasa kekecewaan di dalam hati Pak Udin, namun kini beliau bisa memaklumi insiden tersebut. Karna memang, kejadian itu murni kejadian yang tidak terduga, dan bukan kesalahan dari pihak Rihaal.

Penutup

Di akhir perbincangan Pak Udin dan Bu Ninik dengan tim Rihaal, beliau (Pak Udin) juga berpesan kepada para jamaah yang baru pertama kali berkunjung ke Mekkah. Hendaknya ketika akan menuju ke masjid, untuk membeli Al Qur’an yang dijual disekitar masjid. Keperluannya adalah sebagai Waqof. Disamping dapat membantu jamaah yang mungkin tidak membawa Al Qur’an, kita pun akan mendapat keberkahan dari setiap ayat yang dibaca di Al Qur’an yang kita waqofkan tersebut. Insya Allah…

Tak lupa, Pak Udin dan Ibu Ninik pun menyampaikan kesan pesannya untuk Rihaal. Mereka merasa puas atas pelayanan yang diberikan oleh Rihaal. Dari mulai sebelum keberangkatan, dan juga selama di Mekkah-Madinah. Mereka juga sangat berterima kasih kepada Mas Septri selaku Tour Leader pada saat itu, yang sangat sabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan yang dialami para jamaah.

Pak Udin dan Bu Ninik juga berharap, semoga kejadian koper hilang yang dialaminya tidak terjadi pada jamaah lain, dan untuk segala bentuk keterlambatan seperti pemberian air zam-zam dan rusaknya ID Koper bisa segera diperbaiki kedepannya oleh Rihaal.

Sekian perbincangan yang kami lakukan dengan keluarga bapak Udin. Semoga cerita diatas bisa menginspirasi kita semua, untuk lebih mau berjuang keras agar bisa lekas menjadi tamu Allah di Mekkah dan Madinah. Pada dasarnya semua orang diberikan kesempatan yang sama, hanya saja Allah sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kesempatan itu.

Salam..

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp