Ibnu Sina : Ilmuwan Kedokteran, Filsafat dan Metafisika Kelahiran Uzbekistan

Ibnu Sina : Ilmuwan Kedokteran, Filsafat dan Metafisika Kelahiran Uzbekistan

Ibnu Sina: Ilmuwan Kedokteran, Filsafat dan Metafisika Kelahiran Uzbekistan

Pernah nggak sih sahabat jatuh sakit namun bukan disebabkan oleh lemahnya fisik (atau ketahanan tubuh sahabat yang kurang fit). Melainkan disebabkan oleh faktor lain seperti rindu dengan keluarga di rumah (home sick), atau disebabkan dengan permasalahan rumah tangga, atau bahkan stress akibat bertumpuknya tugas di kantor?. Jika jawabannya pernah, demikianlah yang pernah dinyatakan oleh ahli kedokteran Muslim ternama, Ibnu Sina pada bukunya The Canon of Medicine (al Qanun fii at Tib).

Dalam sebuah cerita, Ibnu Sina pernah mengobati pangeran muda Gurgan di daerah Laut Kaspia. Pangeran dari Laut Kaspia ini jatuh sakit, dan tak seorang pun di kalangannya dapat  menyembuhkan penyakitnya tersebut. Kemudian, datanglah Ibnu Sina untuk memeriksa denyut nadi si pangeran itu dan meminta seseorang dari kalangan kerabatnya untuk menyebutkan nama-nama kota di provinsi itu. Dan ketika seseorang itu menyebutkan kota tertentu, denyut nadi si pangeran berdetak lebih kencang.

Barulah diketahui oleh Ibnu Sina bahwa Pangeran ini ternyata jatuh cinta pada gadis yang tinggal di wilayah atau kota itu. Alih-alih mengobati, Ibnu Sina meminta si pangeran untuk menikahi gadis yang pangeran cintai.

Kasus di atas menunjukkan salah satu teori pengobatan Ibnu Sina, bahwa sakit tak melulu disebabkan oleh fisik yang lemah, tapi juga bisa dikarena kejiwaan yang bermasalah. Berkat sederet penemuan penting ini, ia kemudian menjadi pelopor ilmu kedokteran eksperimental.

Biografi Ibnu Sina

Ibnu Sina, atau dikenal dunia Barat dengan nama “Avicenna” memiliki nama lengkap Abu Ali Husain ibnu Abdullah ibnu Sina. Ia lahir di Afshona, yakni desa dekat Bukhara(saat ini dikenal dengan negara Uzbekistan), Ibu kota Samaniyah, Dinasti Persia di Central Asia dan Greater Khorasan. Ia lahir tepat pada tanggal 22 Agustus tahun 980. Ia lahir dari rahim seorang wanita Bukhara bernama Setareh, dan dari seorang ayah bernama Abdullah.

Ayah Ibnu Sina adalah seorang Ismaili yang dihormati dan seorang sarjana dari Balkh sebuah kota penting dari Kekaisaran Samanid (sekarang dikenal dengan provinsi Balkh, Afghanistan).  Ibnu Sina kecil sudah aktif dalam mempelajari al-Quran dan sastra, kira-kira sebelum mencapai 10 tahun usianya. Ia telah menghafal al- Quran di usianya yang sangat belia, yakni saat ia berusia 7 tahun. Pada usia 8 tahun ia telah mampu memahami metafisika dan semua filsafat Aristoteles. Bahkan di usianya ini, ia telah berinisiatif untuk membeli buku tafsir metafisika Aristoteles karya al Farabi. Dan buku inilah yang mempengaruhi hidupnya.

Saat ia beranjak dewasa, kira-kira di umur 16 tahun Ibnu Sina dewasa beralih mempelajari ilmu pengobatan. Di usia 18 tahun Ibnu sina telah memperoleh status sebagai dokter yang hebat dan profesional.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ia ditinggalkan oleh sang ayah untuk selamanya. Dan mulailah ia berkelana. Banyak karya yang telah ditorehkan olehnya dari pemikiran dan tangannya. Ia tak hanya berkarya dalam bidang kedokteran atau pengobatan saja, melainkan juga pada bidang filsafah dan metafisika.

(Baca Juga: Imam Bukhari)

Karya Karya Ibnu Sina

Adapun beberapa karya yang telah ia hasilkan diperkirakan mencapai lebih dari 250 judul yang ia tulis. Ini menggambarkan kemampuan dan kecerdasannya yang luar biasa. Dari karyanya yang berjumlah ratusan itu, ada beberapa bukunya yang terkenal, di antaranya adalah:

  1. Al Qanun fi at Thib (Canon of Medicine), yang banyak membahas teori-teori pengobatan yang kini bahkan masih dipaktekkan di dalam dunia kedokteran. Khususnya pada teori yang dihasilkan dari penelitian eksperimental.
  2. Asy Syifa, buku yang terdiri dari 18 jilid ini berisi tentang berbagai macam ilmu pengetahuan.
  3. An Najat
  4. Mantiq al Masyriqin

ada kebiasan baik dari Ibnu Sina yang dapat kita tiru pada keseharian kita. Ia membiasakan berwudhu dan sholat sunnah 2 rakaat setiap kali ia stuck, jenuh dan menemukan jalan buntu pada tulisan-tulisan maupun penelitiannya. Dan setelah ia melakukannya ia menemukan inspirasi kembali pada dirinya atau mungkin inspirasi datang dalam mimpi di tidurnya.

Akhir Hayat Ibnu Sina

Ia meninggal pada bulan Juni 1037 di Hamadan , Emirate Kakuyid. Saat usianya 56 tahun, dua bulan sebelum ia berumur 57 tahun.

Menurut pernyataan sekretarisnya, Al-Jauzakani, Ibnu Sina adalah seorang yang workaholic. Di sepanjang waktu siangnya ia gunakan untuk melakukan penelitian di laboratorium, mengajar atau menangani pasiennya. Sedangkan di waktu malamnya ia gunakan untuk beribadah, belajar dan menulis buku serta jurnal-jurnalnya. Karena semangatnya ia dalam belajar, beribadah serta bekerja, Ibnu Sina dikabarkan meninggal akibat kelelahan. Bahkan sangking sibuknya dia, Ibnu Sina tidak pernah menikah di sepanjang hidupnya.

Itulah Ibnu Sina, seorang pekerja keras dan selalu mendahului ilmu di atas segalanya. Ada dua pesan menarik di akhir hayatnya. Pertama, saat ia mendapat teguran dari kerabat dan temannya mengenai kebiasaan workaholic ini, Ibnu Sina menjawab “saya lebih memilih umur pendek yang penuh makna dan karya, daripada umur panjang yang hampa”. Kedua, saat menjelang kepergiannya, ia mendatangi setiap orang yang pernah ia sakiti untuk meminta maaf. Dan harta yang telah ia kumpulkan ia bagikan untuk fakir miskin di sekitarnya.

(Baca Juga: Jika Jasad Menghilang, Maka Jasa Akan Tetap Dikenang)

MasyaAllah, Lantas sudah berbuat apa kita untuk kehidupan kita dan orang di sekitar kita?.

 

1,386 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini