Ibnu Batuta : Sang Legenda Muslim Penjelajah Dunia

Ibnu Batuta : Sang Legenda Muslim Penjelajah Dunia

Jika kita sering mendengar nama Columbus, atau Marcopolo yang tersohor sebagai penjelajah dunia, maka Islam pun mempunyai tokoh yang tidak kalah hebat dari ketiganya. Dia adalah Ibnu Batutah, sang Legenda Pengembara Islam yang sangat menginspirasi sekaligus penjelajah yang tak tertandingi pada abad pertengahan.

Mengenal Sosok Beliau

paket umroh jogja, umroh start jogja, umroh promo jogja, biro umroh jogja, travel umroh jogja, umroh jogja murah, umroh jogja terbaik, harga umroh jogja, umroh plus Cappadocia, umroh ramadhan 2019, biro umroh terbaik, paket umroh murah, travel umroh terbaik, travel umroh terpercaya, harga umroh murah, paket umroh syawal, harga paket umroh, umroh plus capadocia, umroh promo jogja, biro umroh jogja, travel umroh Surabaya, merancang umroh, biro umroh resmi, nur Ramadhan, paket umroh 2018, paket umroh 2019, paket umroh murah, biro umroh solo, paket umroh murah dari jogja, tour and travel turki, travel agent turkiIbnu Batutah atau Muhammad bin Batutah adalah seorang alim (cendekiawan) Maroko yang terkenal karena hasil pengamatan dan penulisan atas perjalanan (rihlah) yang dilakukannya ke berbagai penjuru dunia selama hampir tiga dasawarsa. Lahir di Kota Tangier (Thanjah), Maroko pada 25 Februari 1304 M, Ibnu Batutah telah menghabiskan setengah hidupnya menjelajah sebagian besar dunia islam dan banyak negeri non-Muslim.

Sudah lebih dari seratus tujuh puluh lima mil atau 120.000 kilometer, Ibnu Batutah menjelajah sekitar 44 negara modern. Penjelajahan untuk pertama kali diawali dengan menunaikan ibadah haji. Saat itu, ia masih sangat muda dan berusia 21 tahun. Hobinya mengunjungi negara di dunia tiada lain untuk saling mengenal manusia dengan berbagai latar belakang dan budaya.

Menjelajah Kemana saja?

Petualangan Ibnu Batutah meliputi kota-kota besar di Afrika Utara, Iskandariyah, Dimyath, Kairo, Aswan di Mesir, Palestina, Syam, Makkah, Madinah, Najaf, Basrah, Syiraz di Iran, Moshul, Diyarbakr, Kufah, Baghdad, Jeddah, Yaman, Oman, Hormuz dan Bahrain.

Sedangkan untuk benua Asia, beliau menjelajahi kota Kaaram, Rusia Selatan, Bulgaria, Polandia, Istirkhan, Konstantinopel, Sarayevo, Bukhara, Afghanistan, Delhi, India, Maladewa, Cina, Ceylon, Bengali, Indonesia, kemudian Irak, Iran dan kembali lagi ke Afrika, Mali, kemudian Fez, di mana ia menghabiskan tahun-tahun terakhir kehidupannya di sana di bawah kekuasaan Sultan Abu Inan.

Baca juga :

Imam Bukhari

Nama dan Geografis Kota Makkah

Selama menjelajah, Ibnu Batutah tidak pernah meninggalkan karya sastra apa pun bahkan tidak menulis catatan perjalanannya secara teratur. Dia hanya menceritakan kisah perjalanannya kepada orang lain. Oleh karena itu, datanglah Sultan Abu Inan yang memiliki inisiatif untuk menerbitkan buku kisah perjalanan Ibnu Batutah. Kemudian sang Sultan menyuruh juru tulisnya, Ibnu Jauzi untuk menuliskan cerita Ibnu Batutah dan menyusunnya menjadi sebuah buku.

Buku tersebut berjudul “Tuhfat al-Nazzar fi Ghara’ib al-Amsar wa al-Aja’in al-Asfar” (Hadiah untuk Para Pengamat yang Meneliti Keajaiban-keajaiban Kota dan Keanehan-keanehan Perjalanan) yang berisi hal-hal menakjubkan dan menyentuh. Ibnu Jauzi mengatakan, jika hampir semua yang diketahui tentang Ibnu Batutah datang dari Ibnu Batutah itu sendiri. Meskipun dia mengklaim bahwa hal-hal yang diceritakannya adalah apa yang Ibnu Batutah lihat atau alami. Kita tidak bisa mengetahui kebenaran dari cerita tersebut.

Baca juga :

Pemuda Pencari Cahaya

Ka’bah

Catatan Ibnu Batutah Tentang Nusantara

Dalam catatannya, Ibnu Batutah mengatakan bahwa Sumatera sebagai Pulau Jawa yang menghijau. Karena saat itu yang terkenal di kalangan saudagar dunia adalah menyan jawi. Namun yang dimaksudh Batutah adalah Sumatera. Pulau di mana Pasai berada. Ketika mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai, ia terkagum dengan keindahan kota itu. Batutah juga mencatat bahwa Sultan Pasai, al-Malik az-Zahir sangat ramah.

Batutah berada di Pasai selama 15 hari. Setelah kunjungannya di Aceh berakhir, ia meneruskan perjalanan ke Cina, lalu menuju ke Iran, Irak, Suriah, Mesir, kemudian menunaikan haji di Makkah. Setelah ibadah hajinya yang terakhir, Ibnu Batutah kembali ke kampung halamannya. Pada tahun 1369 di usia 65 tahun, Ibnu Batutah meninggal dunia.

 

Sumber:

-Rida, Muhyiddin Mas. 2012. 147 Ilmuwan Terkemuka Dalam Sejarah Islam. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Cet. Kedua (Terjemahan dari Kitab Abaqirah Ulama’ Al-Hadharah wa Al-Islamiyah Karya Muhammad Gharib Gaudah, Maktabah Alquran)

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp