Hijrah Tak Hanya Berpindah

Hijrah Tak Hanya Berpindah

Makna Terdalam Hijrah

Hijrah bukanlah sekedar berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Lebih jauh, ada makna bahwa hijrah adalah pengharapan, penegakkan dan pengampunan.

Secara bahasa hijrah berasal dari bahasa arab yang berarti meninggalkan, menjauhkan/ berpaling dan berpindah tempat.

Namun dalam konteks kisah dan sejarah Islam, hijrah dimaknai sebagai perpindahan Rasulullah Saw, Sahabat dan umat Islam dari Makkah Menuju Madinah. Dengan tujuan untuk penegakkan Risalah Tuhan yang berupa syariat dan ajaran Islam.

Namun dalam konteks kekinian, hijrah tidak lagi hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, meninggalkan atau menjauhkan. Melainkan dapat dimaknai dalam beragam pengertian. Dan tak sedikit hijrah dimaknai sebagai sebuah tujuan bahkan perubahan.

Sahabat masih ingat hadits tentang niat? Disana dijelaskan bahwa hijrah adalah tujuan. Yup disana dijelaskan jika kita berhijrah dengan tujuan Allah dan RasulNya, maka itulah yang ia dapatkan. Namun, jika kita berhijrah dengan tujuan dunia, atau lainnya, maka yang didapat adalah apa yang ia tujukan dalam hijrahnya. Berikut riwayat hadits nya.

عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya: “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits) 

Hijrah sebagai pengharapan

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berhijrah di jalan Allah, mereka itu mengharpakn rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah(2): 218)

Masih ingatkah kita akan kisah hijrah Rasulullah Saw dan para sahabatnya? Apa yang menjadikan Rasulullah Saw mulai berhijrah dari kota kelahirannya (Makkah), padahal ia sangat mencintainya?. (baca juga: Telah Datang Kepada Kami Purnama Dari Tsaniyah Wada)

Alasan Rasulullah Saw dan umat Islam memutuskan hijrah dari Makkah ke Madinah adalah karena kesempatan yang mereka miliki untuk menyebarkan ajaran Islam di Mekah sangatlah kecil. Mengapa demikian? Karena banyak dari kafir Quraisy yang menentang dan membenci dakwah Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Bahkan tak jarang dari kafir Quraisy berniat untuk membunuh Rasulullah SAW setelah wafatnya paman beliau, yaitu Abu Thalib.

Penentangan ini sejatinya sudah ada sejak Rasulullah Saw menyebarkan ajaran Islam.  Namun, banyak dari para pembesar Quraisy sungkan / enggan untuk menegur Rasulullah Saw secara terang-terangan. Hal ini dikarenakan Abu Thalib (Paman Rasul) sangatlah mencintai Rasulullah Saw. Sehingga selepas wafatnya Abu Thalib, Pembesar Quraisy mulai melakukan penentangan secara terang-terangan terhadap dakwah Rasulullah Saw.

Hingga pada akhirnya Rasulullah merasa kesulitan dan memohon petunjuk dan rahmat dari Allah atas apa yang Beliau rasakan. Maka turunlah perintah Allah kepada Rasulullah untuk hijrah ke Madinah dan meninggalkan kota Makkah. Tentu dengan berat hati Rasulullah meninggalkan kota Makkah yang begitu ia cintai. Namun, Rasulullah tetap melangkah hijrah demi sebuah pengharapan. Bukan hanya pengharapan akan limpahan Rahmat Allah Ta’ala. Melainkan juga pengharapan akan sebuah pintu penerimaan atas ajaran Islam. Dan pengharapan yang akan menghilangkan segala bentuk kelelahan dan keputus asaan.  Demikianlah pemaknaan sebuah hijrah sebagai pengharapan.

(baca juga: Jejak Rasulullah Saw di Makkah al Mukarromah)

Hijrah sebagai Pengampunan

Demikian pula dalam ritual pelaksanaan ibadah Haji dan Umroh, yang sering kali dikaitkan atau bahkan diartikan sebagai wujud realisasi “hijrah”. Meskipun seringkali Haji dan Umroh dikaitkan dengannya. akan tetapi tidak seharusnya Haji dan Umroh kita artikan sebagai ritual perpindahan dari suatu negara menuju Makkah dan Madinah saja. Lebih dari itu, pelaksanaan Haji maupun Umroh juga merupakan simbol dari sebuah pengharapan. Yap. Pengharapan akan setiap insan yang menjalankan untuk dapat menyempurnakan rukun Islam. Lebih lanjut, Haji dan Umroh juga merupakan wujud pengharapan umat Islam kepada Allah akan sebuah pengampunan atas segala dosa-dosa dan kemaksiatan yang pernah ia lakukan. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw., yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.

“Dari Abu Hurairah ra. berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, “Umroh satu ke Umroh lainnya adalah penebus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tiada pahala baginya selain surga” (H.R. Bukhari)

(baca juga: Umroh dan Haji Sebagai Penebus Dosa)

Sebagai penutup, hijrah tak hanya dapat diartikan sebagai perpindahan, tidak pula sebagai simbol haji dan umroh yang melambangkan pengharapan serta pengampunan. Ia juga dapat diartikan sebagai perubahan dari segala bentuk keburukan menuju kepada segala jenis kebaikan.

Nah, berhubung sebentar lagi kita akan berhijrah tahun. Yakni pergantian tahun dari tahun 1438 H menuju 1239 H. Yuk, kita niatkan untuk berhijrah karena Allah dan Rasulnya untuk segala kebaikan. Amin

 

 

 

 

 

113 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini