Karena Faktor ini, Mihrab Nabi Akhirnya Kembali Digunakan

Karena Faktor ini, Mihrab Nabi Akhirnya Kembali Digunakan

Saat ini, hampir di setiap bangunan masjid terdapat Mihrab. Mihrab menjadi tempat imam dalam memimpin dalam shalat berjamaah dan juga sebagai penanda arah kiblat. Oleh karena itu, letak Mihrab di desain menjorok ke dalam bagian depan ruangan masjid.

Awal Mula Pembangunan Mihrab

Awalnya Masjid Nabawi yang dibangun Rasululah SAW sekitar tahun 622 M hanya berukuran 30 x 35 meter. Setelah dilakukan perluasan bangunan masjid pada 708 M oleh Gubernur Madinah, Umar bin Abdul Aziz, Mihrab mulai dibangun dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Masjid Nabawi.

Pada waktu itu, Mihrab berbentuk ceruk pada dinding. Ada juga yang menyebutkan bahwa bentuk ceruk pada saat itu memiliki istilah Thooq bukan Mihrab. Tetapi ada pula yang menamakan Mihrab. Alasannya, karena dalam tempat itu kebenaran manusia dapat ditempa dalam upaya menghindarkan diri dari kesibukan duniawi.

Sebenarnya, kehadiran bagian interior masjid itu pun tidak seutuhnya disepakati oleh umat Islam. Ada yang memperbolehkan dan ada pula yang melarang kehadiran Mihrab di dalam masjid, karena tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Empat Macam Mihrab di Masjid Nabawi

Dalam perkembangannya, terdapat empat Mihrab di Masjid Nabawi. Yang pertama Mihrab Nabi SAW yang terletak di bagian Raudah. Terletak di antara mimbar dan makam Rasulullah.

Kedua Mihrab Usmani. Khalifah Usman RA mengimani shalat di tempat ini untuk pertama kali. Dan sampai saat ini masih digunakan.

Ketiga yakni Mihrab Hanafi yang sekarang disebut dengan Mihrab Sulaimani yang dibangun pada tahun 860 H oleh Togan Syekh. Mihrab ini dihiasi dengan marmer putih dan hitam. Sebelumnya imam shalat dari empat mazhab (Hanafi, Syafi’I, Malik dan Hambali) mengimani shalat di Masjid Nabawi secara terpisah di waktu dan tempat yang berbeda.

Keempat adalah Mihrab Tahajud terletak di belakang bekas kamar Fatimah Az-Zahra. Tempat ini merupakan kegemaran Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan shalat Tahajjud.

Pada Zaman Rasulullah

Sebelum ada Mihrab, solat dilakukan menghadap ke arah utara yaitu ke arah Masjid Aqsa. Di dalam masjid Nabawi ada banyak pintu, akan tetapi hanya ada 3 pintu saja yang dibuka yaitu pintu dibagian timur, barat dan selatan. Apabila kiblat berubah menghadap Ka’bah, maka di pintu di bagian utara dibuka dan pintu bagian selatan ditutup.

Kembali Digunakannya Mihrab Nabi

Setelah 25 tahun, tepatnya pada tanggal 08 Desember 2017, Mihrab Nabi resmi digunakan kembali. Pembukaan Mihrab ini dilakukan setelah selesainyaproyek perluasan kompleks Masjid Nabawi di Madinah.

Pembukaan Mihrab ini didasarkan pada semakin banyaknya jamaah yang berziarah ke Makam Rasulullah dan sahabat Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab yang letaknya berdampingan.

Bahkan Rasulullah juga bersabda, beribadah di Masjid Nabawi pahalanya akan dilipatgandakan hingga 1.000 kali. Karena itu tak heran, jika sebagian besar umat Islam yang pernah berkunjung ke Madinah, senantiasa menyempatkan diri untuk beribadah di Masjid ini. Bahkan pada musim haji, jutaan umat Muslim dari seluruh dunia, berusaha melaksanakan shalat sebanyak 40 kali (Arbain) di Masjid ini untuk memperoleh keberkahan Rasulullah SAW. Dengan dibukanya Mihrab ini, jamaah dapat melaksanakan ziarah dengan tenang.

Setelah resmi dibuka, Syeikh Abdullah Al Bajian adalah imam yang pertama kali menggunakan Mihrab tersebut dan melaksanakan solat jumat langsung dari area suci Raudhah yang dahulu selalu digunakan Rasulullah.

Raudhah terletak di bagian timur makam Rasulullah. Sementara di bagian barat makam ada mimbar untuk khotbah. Makam Rasulullah itu sendiri membujur dari arah barat ke timur, dikarenakan wajah Rasulullah menghadap ke kiblat yang berada di arah selatan Madinah.

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp