Semoga Tuhanku Akan Memberi Kepadaku Kebun Yang Lebih Baik Dari Pada Kebunmu

Semoga Tuhanku Akan Memberi Kepadaku Kebun Yang Lebih Baik Dari Pada Kebunmu

Sebagian besar dari kita sebagai seorang muslim, ketika disebutkan kata “al-Kahfi” mungkin sudah tidak lagi bertanya. Apa itu?. Namun tidak bisa kita mungkiri, bahwa masih ada bahkan banyak dari sebagian muslim lainnya yang masih tidak tahu dengan kata itu. Benarkah demikian? Ya… ini benar adanya.

Realita selanjutnya, bagi mereka yang mengetahui dan mengenal nama al-Kahfi, terdapat beberapa anggapan. Sebagian menganggap bahwa al-Kahfi merupakan nama salah satu surat yang terdapat dalam al-Quran. Sedangkan sebagian lainnya menganggap al-Kahfi  merupakan sebuah kisah masa lampau. Tiada yang salah bagi kedua anggapan tersebut.  Namun, bagi mereka yang terbiasa mengamalkan rutinitas membaca al-Quran, dan merutinkan membaca surat al-Kahfi  pada Tuannya hari, yaitu pada hari Jumat, pasti tahubahwa al-Kahfi merupakan kisah masa lampau yang terangkum dalam salah satu surat yang terdapat pada al-Quran, yaitu surat al- Kahfi.

Mereka yang telah merutinkan membaca surat ini di setiap pekannya, tak sedikit yang telah menghafalnya, dan tak sedikit pula yang telah memahaminya. Namun, tentu masih ada yang belum menghafal dan memahami isi suratnya. Oleh karena itu, di sini kami mencoba untuk mengulas sedikit tentang surat al-Kahfi ini. Anggaplah saja, tulisan ini sebagai pengingat kita semua.

Surat Al Kahfi merupakan salah satu surat yang diturunkan sebelum Rasulullah hijrah. Surat ini diturunkan  setelah surat Al Ghasyiyah. Dalam urutan mushaf merupakan surat ke-18 yang berjumlah 110 ayat. Pada surat Al Kahfi banyak hikmah terkandung di dalamnya. Dan hikmah tersebut dimuat dalam bentuk empat kisah, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah dua pemilik kebun, kisah Nabi Musa dan Khidhr, serta kisah Dzul Qarnain. Setiap kisah diakhiri dengan beberapa ayat sebagai tanggapan mengenai kisah tersebut.

Pada tulisan kali ini kita tidak akan membahas kisah Penghuni Goa (Ashhabul Kahfi), Kisah Nabi Musa dan Khidhr, serta kisah Dzul Qarnain, melainkan kisah dua pemilik kebunlah yang akan kita ulas kali ini.

Berikut kisahnya;

۞وَٱضۡرِبۡ لَهُم مَّثَلٗا رَّجُلَيۡنِ جَعَلۡنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيۡنِ مِنۡ أَعۡنَٰبٖ وَحَفَفۡنَٰهُمَا بِنَخۡلٖ وَجَعَلۡنَا بَيۡنَهُمَا زَرۡعٗا ٣٢ كِلۡتَا ٱلۡجَنَّتَيۡنِ ءَاتَتۡ أُكُلَهَا وَلَمۡ تَظۡلِم مِّنۡهُ شَيۡ‍ٔٗاۚ وَفَجَّرۡنَا خِلَٰلَهُمَا نَهَرٗا ٣٣ وَكَانَ لَهُۥ ثَمَرٞ فَقَالَ لِصَٰحِبِهِۦ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَنَا۠ أَكۡثَرُ مِنكَ مَالٗا وَأَعَزُّ نَفَرٗا ٣٤ وَدَخَلَ جَنَّتَهُۥ وَهُوَ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ قَالَ مَآ أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِۦٓ أَبَدٗا ٣٥ وَمَآ أَظُنُّ ٱلسَّاعَةَ قَآئِمَةٗ وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهَا مُنقَلَبٗا ٣٦ قَالَ لَهُۥ صَاحِبُهُۥ وَهُوَ يُحَاوِرُهُۥٓ أَكَفَرۡتَ بِٱلَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ سَوَّىٰكَ رَجُلٗا ٣٧ لَّٰكِنَّا۠ هُوَ ٱللَّهُ رَبِّي وَلَآ أُشۡرِكُ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا ٣٨ وَلَوۡلَآ إِذۡ دَخَلۡتَ جَنَّتَكَ قُلۡتَ مَا شَآءَ ٱللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِٱللَّهِۚ إِن تَرَنِ أَنَا۠ أَقَلَّ مِنكَ مَالٗا وَوَلَدٗا ٣٩ فَعَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يُؤۡتِيَنِ خَيۡرٗا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرۡسِلَ عَلَيۡهَا حُسۡبَانٗا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ فَتُصۡبِحَ صَعِيدٗا زَلَقًا ٤٠ أَوۡ يُصۡبِحَ مَآؤُهَا غَوۡرٗا فَلَن تَسۡتَطِيعَ لَهُۥ طَلَبٗا ٤١ وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِۦ فَأَصۡبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيۡهِ عَلَىٰ مَآ أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَٰلَيۡتَنِي لَمۡ أُشۡرِكۡ بِرَبِّيٓ أَحَدٗا ٤٢ وَلَمۡ تَكُن لَّهُۥ فِئَةٞ يَنصُرُونَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا ٤٣ هُنَالِكَ ٱلۡوَلَٰيَةُ لِلَّهِ ٱلۡحَقِّۚ هُوَ خَيۡرٞ ثَوَابٗا وَخَيۡرٌ عُقۡبٗا ٤٤

Artinya: “Dan berikanlah kepada mereka (kepada orang-orang mukmin dan orang-orang kafir.) sebuah perumpamaan dua orang laki-laki (dua orang Yahudi yang seorang mukmin dan yang lain kafir), Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan Dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. Dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri (dengan keangkuhan dan kekafirannya); ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”. Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang Dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan Dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku”.Dan tidak ada bagi Dia segolonganpun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang hak. Dia adalah Sebaik-baik pemberi pahala dan Sebaik-baik pemberi balasan. (Q.S al-Kahfi : 32-44)

Penggalan Ayat al-Qur’an di atas mengisahkan tentang dua orang di zaman dulu, tidak ada nama yang disebutkan untuk keduanya. Tidak ada pula penjelasan tentang kapan dan di bumi bagian mana mereka hidup. Yang ada hanya perkebunan “anggur” dan “kurma”yang disebutkan. kisah ini memberikan penjelasan kepada kita antara orang yang kafir dan orang yang beriman, antara hamba yang mulia di sisi Allah dengan hamba yang hina di sisi-Nya.

Kisah ini juga memperlihatkan bagaimana Allah memberikan ujian kepada setiap hambanya, yang dapat berupa nikmat, dan dapat pula berupa musibah. Hal ini sebagaimana kisah kedua pemilik kebun yang diuji. salah satu dianatar keduanya diuji dengan kelapangan duniawi,  yang dalam kisah ini berbentuk keberhasilan akan perkebunanannya, dengan pengairan yang bagus, tanah yang subur, serta hasil panen yang melimpah. Namun iya terlena dengan kesenangan yang telah ia dapati, sehingga ia kufur akan nikmat serta takabur atas segala yang ia dapat. Sedangkan kawan yang satunya Allah uji dengan kesempitan duniawi, dengan sedikit rizki. Namun tak disangka, Bahwa Allah memberikannya sebuah nikmat terbesar, yaitu nikmat iman, nikmat syukur, nikmat yakin, dan ridha terhadap segala takdir Allah.

Sebagai kata penutup. Syukurilah segala yang ada. Jika kita telah mampu untuk mensyukuri satu hal terkecil dari nikmat-Nya. Insyallah Allah akan mempercayai kita untuk sesuatu hal yang lebih besar dari nikmat-Nya dan dapat kita syukuri.

Semoga kita selalu dijadikan hamba yang tak lupa diri dan tak lupa syukur, serta tak mendustakan akan segala nikmat dan karunia yang telah Allah berikan kepada kita….Amiin.

فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ١٣

Artinya: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Rihaal Umroh

www.sekolahumroh.com

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp