Dialah Pendahulu Dari Kalangan Romawi

Dialah Pendahulu Dari Kalangan Romawi

Namanya Mungkin tak dikenal oleh kebanyakan umat Muslim, tidak pula semasyhur khulafaur Rasyidin. Meski ia merupakan as-Sabiqunal Awwalun (orang-orang pertama yang masuk Islam). Hidayah telah menyertainya saat umat muslim hanya sekitar 30 orang jumlahnya. Dihadapan Utusan Yang Maha Kuasa, ia mengikrarkan keislamannya. Meski ketakutan akan ancaman Kaum Quraisy menyertainya.Dialah Suhaib bin Sinan bin Malik, yang juga dikenal sebagai Suhaib ar Rumi.

Banyak pendapat yang menyatakan terkait nama aslinya, ada yang menyatakan nama aslinya adalah Khalid bin Abdu Amr bin Aqil, ada juga yang menyatakan Tufail bin Amir bin Jandalah bin Saad bin Khuzamah. Namun, pendapat yang rajih atau yang paling kuat adalah Suhaib bin Sinan bin Malik, dengan kuniyahnya Abu Yahya.

Suhaib ar Rumi, adalah perantau dari Basrah, yang merupakan putra dari salah seorang hakim setempat (wilayah Basrah). Saat orang-orang Romawi menyerang  dan menguasai wiayah Basrah. Suhaib ar Rumi masih kecil, dan dijadikannya ia sebagai budak oleh pasukan Romawi. Ia tumbuh besar di wilayah Romawi semenjak ia dibawa ke sana. Karena itulah ar Rumi disematkan pada namanya.

Kisah saat ia menjadi seorang budak telah membawanya kepada hikmah yang tiada disangka-sangka. Tak hanya memberi hikmah kepada dirinya. Namun juga, kepada kita semua.  Berikutlah kisahnya;

Suatu ketika ia dijual oleh seorang penjual budak, ia dijual kepada salah seorang penduduk Makkah yang kaya, ialah Abdullah bin Jad’an. Dari sinilah, mula-mula ia menjadi perantau tetap di kota Makkah. Setelah Suhaib bersama tuan barunya, ia memperlihatkan kualitas terburuk dari dirinya. Padahal ia adalah seorang yang cerdas, seorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, serta ketulusan hati. Karena sebab perbuatannya itu, ia dibebaskan oleh tuannya. Sehingga, berubahlah status dari seorang budak kembali menjadi merdeka. Pada titik inilah kehidupan barunya dimulai.

Ia memulai kehidupan barunya dengan berdagang, sampai ia mencapai kesuksesan dan dikenal sebagai salah seorang pedagang yang sukses di Ummul Qura. Tak lama berselang, panggilan hijrah berupa hidayahpun datang kepadanya. Sebagaimana dikisahkan oleh Ammar bin Yasir:

Aku berjumpa dengan Suhaib bin Sinan di depan pintu rumah al-Arqam, saat itu bait arqam menjadi tempat persembunyian umat muslim untuk menyebarkan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Terdapat beberapa sahabat as-sabiqunal awwalun di dalamnya yang menyertai Rasulullah Saw.

Aku bertanya kepada Suhaib; “apa yang kamu lakukan?”. Bukan jawaban yang diutarakan Suhaib, melainkan sebuah pertanyaan balik kepadaku, “ dan Kamu, apa yang mau kamu lakukan di sini?”, lalu aku menjawab,; “ aku ingin masuk rumah ini dan menemui Muhammad Saw.

Mendengar apa yang Ammar katakan, Suhaib berkata: “ aku juga menginginkan hal yang sama.”

Ammar melanjutkan, “kami berdua pun masuk ke dalam rumah al-arqm, lalu menyatakan keislaman kami. Kemudian kami berdiam di rumah hingga tiba sore hari, dan kami keluar dari rumah arqam dalam keadaan takut.”

Terkait keislaman Suhaib ar Rumi, Rasulullah Saw. bersabda;

السباق أربعة: أنا سابق العرب, و صهيب سابق الروم, و بلال سابق الحبثة, و سلمان سابق الفرس.

Artinya: “Empat orang pendahulu: Aku adalah yang paling awal dari kalangan Arab, Suhaib paling awal dari kalangan Romawi, Bilal paling awal dari kalangan Habsyah, dan Salman yang paling awal dari kalangan Persia.”

Dialah Suhaib, seorang budak sahaya yang tadinya tidak memiliki apapun. Hingga ketibaannya di Makkah, menjadikannya ia merdeka, dan menjadi pedagang yang kaya raya. Namun, saat umat Muslim melakukan Hijrah sebagaimana titah Allah kepada RasulNya, Muhammad Saw., datanglah untuknya panggilan hijrah ke Madinah, sebagaimana sebagian umat muslim lainnya. Dan Suhaib pun menyambut dengan sukarela panggilan tersebut. Namun, saat Suhaib hendak melakukan perjalanan hijrah ke Madinah, ia dihalang oleh penguasa Makkah. Mereka berkata;” wahai Suhaib, engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina (sebagai budak), kemudian hartamu menjadi banyak setelah tinggal di daerah kami. Setelah itu, terjadilah perselisihan di antara kita, karena Islam. Engkau boleh pergi meninggalkan kota ini, tapi tidak dengan semua hartamu”.Suhaib pun meninggalkan semua hartanya tanpa mempedulikan sedikitpun.

Kemudian sampailah ia di Madinah, ia berjumpa dengan Rasulullah Saw, dan Rasulpun berkata kepadanya;

ربح البيع أبا يحي….ربح البيع أبا يحي

Artinya: “ Perdagangan yang menguntungkan Abu Yahya….perdagangan yang menguntungkan Abu Yahya.”

Dengan keheranannya, Suhaib berkata kepada Rasulullah Saw. “wahai Rasulullah, tidak ada seorangpun yang melihat apa yang aku alami. Dan Rasulullah menjawab:” Jibrillah yang memberi tahuku”.

Lalu turunlah ayat;

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشۡرِي نَفۡسَهُ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ رَءُوفُۢ بِٱلۡعِبَادِ ٢٠٧

Artinya: “dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya” (Q.S. al-Baqarah :207)

MaasyaAllah. Darinya kita belajar. Sebuah pengorbanan hamba dalam mencapai Ridha Allah Ta’ala. Merelakan segala harta demi Keridhaan Sang Maha Segala. Hidupnya bukan untuk mencapai kemegahan yang sementara. Melainkan untuk kasih sayang yang tiada tara dan kekal Adanya.

Inilah kisah Suhaib ar Rumi, sahabat yang tidak begitu dikenal layaknya Khulafaur Rasyidin, namun kedermawaanya layaknya Abu Bakar Utsman dan Umar. Karena Kedermawanannya yang begitu tinggi, sampai-sampai Umar bin Khatab mengganggapnya mubadhir. Umar berkata: “wahai Suhaib, aku tidak melihat kekurangan pada dirimu, kecuali dalam tiga hal: pertama, engkau menisbatkan diri sebagai orang Arab, padahal logatmu adalah Romawi; kedua, engkau berkuniyah atas nama nabi; ketiga, engkau adalah orang yang mubadzir.”

Suhaib menanggapi perkataan Umar terhadapnya, ia berkata:” apakah aku seorang yang mubadzir dalam bersedekah? tidakkah aku berinfaq kecuali dalam kebenaran. Dan mengenai logatku, aku sejak kecil ditawan orang-orang Romawi. Sehingga logat mereka sangat perpengaruh terhadapku. Adapun Kuniyahku, Rasulullah Saw sendiri yang memberikannya kepadaku.

Saat Umar bin Khatab Wafat, beliau mewasiatkan agar Suhaib yang menjadi imam pada shalat jenazahnya.

Demikian kisah Suhaib, Abu Yahya. Tak hanya kedermawanan dan kerelaan akan hartanya, yang dapat kita contoh. Lebih dari itu. Kisah perjalanan hidupnya pun dapat pula kita ambil ibrohnya.

Kisah perjalanan hidupnya tak jauh berbeda dengan kisah Nabi Yusuf As. Bermula sebagai seorang merdeka, kemudian menjadi seorang budak, dan kembali lagi kepada kemerdekaan. Sekembalinya menjadi seorang yang merdeka, tak lantas membuatnya terlena, melainkan justru menjadikannya mulia. Oleh karenanya, darinya kita belajar, tidaklah pantas bagi kita seorang hamba untuk berburuk sangka atas segala ketentuan dan ketetapanNya terhadap kita. Mungkin saja, Allah menyimpan hikmah yang besar yang istimewah dibalik segala musibah dan kesusahan yang kita derita. Sebagaimana kisah Suhaib di atas.

Rihaal Umroh

www.sekolahumroh.com

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp