Dengan umroh, aku tersadar bahwa sejatinya Allah dekat sekali dengan kami

Dengan umroh, aku tersadar bahwa sejatinya Allah dekat sekali dengan kami

Berawal dari keinginan ibu saya untuk bisa menunaikan ibadah umroh, tak disangka kami berdua dapat melaksanakannya lebih cepat dari rencana. Mulai dari biaya, pengurusan pasport, visa dan lainnya.  Semuanya terasa dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Hingga tiba saatnya kami berangkat memenuhi panggilan-Nya ke tanah suci, kemudahan dan pertolongan dari-Nya senantiasa menghampiri kami.

Madinah

Perjalanan umrah kami dimulai dari bandara Madinah. Ketika kami tiba di bandara, antrian proses imigrasi mengular luar biasa, padahal ada sekitar 20 loket di sana. Waktu itu saya berfikir, seandainya ada yang membantu proses antri ini agar tidak terlalu lama. Masya Allah, tiba-tiba datanglah petugas yang mendekati antrian kami dan membantu saya menguruskan administrasi. Sehingga saya dan ibu yang tadinya berdiri paling belakang, tiba-tiba saja sudah bisa masuk duluan.

Shubuh ke dua di Madinah. Saat kami berangkat dari hotel menuju masjid Nabawi, saya hanya membawa satu sajadah. Subhanallah, ternyata lantai masjid begitu dinginnya. Saya berikan sajadah saya kepada ibu supaya tidak menginjak lantai yang dingin, sedangkan saya mencoba menguatkan diri dengan beribadah tanpa alas. Saya hanya berfikir seandainya ada yang meminjami saya sajadah agar tidak kedinginan, dan masya Allah tiba-tiba ada seseorang dari rombongan yang meminjamkan sajadahnya kepada saya tanpa diminta. Kejadian demi kejadian yang saya alami membuat hati saya tergetar dan tersadar bahwa Allah sejatinya dekat sekali dengan kami.

Pada hari yang sama, setelah rombongan kami mengunjungi Museum Qur’an, saya, ibu dan pembimbing mencari tempat untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya di masjid Nabawi. Ada seorang wanita dari Yordania yang menawarkan tempat kepada saya. Seusai menunaikan shalat maghrib saya membuka mushaf untuk membaca surah Yasin. Wanita dari Yordania tersebut meminta saya untuk menjaga tempat sholat dan barang-barangnya karena beliau akan pergi sebentar. Saya keheranan, begitu percayanya wanita ini kepada saya. Saat beliau kembali, barulah kami berkenalan. Wanita Yordania ini bernama Samaa, perempuan berhati tulus yang menawarkan untuk menyimak bacaan surah Yasin saya hingga selesai. Sungguh pertemuan yang mengesankan.

Makkah

Alhamdulillah akhirnya tibalah rombongan kami di Masjidil Haram, kami bersyukur rangkaian ibadah umrah dapat kami laksanakan dengan lancar.  Bahkan kami dapat melaksanakan umrah untuk yang kedua kalinya.

Pada saat mempersiapkan umrah yang ke dua ini ada kejadian yang berkesan. Sepulangnya kami dari ziarah Muzdalifah, Arafah, dan Mina kami bersiap-siap untuk menunaikan shalat dhuhur di Masjidil Haram. Namun rupanya ibu tidak dapat ikut karena merasa tidak enak badan. Sehingga saya harus mengantarkan ibu untuk beristirahat di hotel terlebih dahulu dan berpisah dengan rombongan. Saya berangkat ke Masjidil Haram sendirian. Ketika saya duduk di masjid, ada anak-anak Pakistan yang sedang berbagi beberapa roti, tak disangka sepotong roti ia berikan kepada saya. Setelah itu ada seorang anak perempuan yang memberikan sebotol yoghurt khusus untuk saya. Bagaimana hati saya tidak meleleh akan pemberian tulus dari anak-anak berhati emas yang tidak saya kenal ini.

Esok hari menjelang shubuh, saya telah bersiap di Masjidil Haram. Saya isi waktu dengan membaca terjemah ayat suci Al Quran di buku saku Rihaal. Saya terisak saat mentadaburi ayat-ayat Al Qur’an ini. Ketika saya menoleh, tiba-tiba ada seorang wanita Yordania yang bertanya kepada saya dalam bahasa Inggris, “Apakah saya bisa membaca Al Qur’an?”.

Saya menjawabnya, “Sedikit”. Masya Allah beliau menawarkan untuk menyimak bacaan Qur’an saya hingga selesai, menepuk dada saya  seraya mengingatkan untuk menghayati dan mengamalkan ayat-ayat suci Al Qur’an. Wanita Yordania ini pun mengajak saya berkenalan dan bahkan memberikan alamatnya. Nama beliau Safaa, seorang guru sains Al Qur’an. Saya merasa terharu bacaan Al Qur’an saya disimak oleh seorang guru sains Qur’an yang ramah. Saya menawarkan tasbih sederhana dan kopi untuk membalas kebaikan beliau.

Bagaimana hati saya tidak bergetar, di tanah suci ini saya bertemu dengan saudara-saudara seiman dengan rajutan ukhuwah yang luar biasa. Meski dari negara yang berbeda-beda, berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sekedarnya yang dipadu dengan bahasa isyarat, namun sama sekali tidak mengurangi kehangatan kami dalam tolong menolong dengan sesama jamaah umroh. Adakalanya saya yang memberi kemudahan pada jamaah lain, ada kalanya pula saya yang diberikan pertolongan dan pelayanan, bahkan tanpa saya pinta.

Saya mendapatkan buku dari dua orang yang membagi-bagikannya di halaman Masjidil Haram, saya juga mendapat hadiah tasbih berwarna merah marun dari seorang wanita Timur Tengah. Mendapat perhatian seperti ini tentu saja hati saya menjadi tersentuh. Ketika ada seorang wanita yang menitipkan tempat shalat dan barang-barangnya kepada saya lantaran wanita tersebut harus mencari ibunya yang terpisah dari rombongan, saya pun merasa takjub mengapa saya yang dipilih untuk dipercaya, ketika ada puluhan orang lain di tempat tersebut.

Adakalanya saya berbagi tempat shalat serta sajadah dengan jamaah umrah yang lain. Saya juga berkenalan dengan banyak orang, beberapa di antaranya adalah wanita Oman dan Turki. Banyak hal yang terjadi di sana bersama mereka. Dan alangkah manisnya cara mereka memperlakukan saya.

Thawaf Wada’

Tiba saatnya bersiap-siap pulang ke tanah air, kami dan rombongan merasa enggan sekali berpisah dengan tanah suci. Belum pulang saja rasanya sudah sangat rindu dengan Baitullah. Hingga akhirnya ada kabar bahwa pesawat Garuda yang akan kami tumpangi jadwalnya akan mundur selama tujuh jam. Masya Allah, kami sangat bersyukur masih diberi tambahan waktu untuk berlama-lama di sini.

Kemudahan rupanya masih tetap menghampiri kami ketika akan menunaikan thawaf wada’ (thawaf perpisahan). Selesai thawaf kami berniat melakukan shalat di Hijr Ismail. Sebagaimana kita ketahui bersama, hijir Ismail adalah salah satu tempat yang tak pernah sepi dari kerumunan masa.  Dan untuk sampai dan bisa sholat di sana, bukanlah hal mudah. Hingga pada akhirnya kami harus bergiliran satu demi satu agar dapat melaksanakan shalatnya. Kami membuat pagar betis untuk menjaga agar dapat melakukan shalat dengan khusyuk. Tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang membantu menjaga kami, agar kami dapat melaksanakan shalat di Hijr Ismail dengan khusyuk. Laki-laki tersebut tersenyum dan berlalu setelah kami selesai melaksanakan shalat, dia tidak meminta imbalan apapun dari kami, sama sekali!!. Kami hanya dapat berterima kasih atas kebaikan laki-laki tersebut.

Demikianlah kisah perjalanan ibadah umrah kami. Bagaimana di awal keberangkatan saya tidak yakin dengan kebersihan hati ini, bagaimana kualitas diri saya dan apa saja yang sudah saya kerjakan selama hidup di dunia ini. Itulah mengapa saya sangat tersentuh manakala Allah mempertemukan saya dengan orang-orang berhati mulia, seraya memberikan saya kemudahan demi kemudahan yang datang silih berganti.

Buku saku Rihaal juga sangat membantu saya sebagai sarana pembuka dan penyuci hati. Apabila saya membaca ayat-ayat suci Al Qur’an yang terkumpul di buku tersebut, diri ini tak kuasa menahan isak tangis teringat akan segala dosa dan khilaf yang telah saya perbuat. Bagi saya, umrah adalah sarana penyucian diri, menyadari dengan sepenuh hati bahwa kita bukanlah apa-apa dan siapa-siapa di hadapan-Nya Yang Maha Agung.

Ditulis berdasarkan penuturan Anita Irmayanti Purwanto. Sahabat Rihaal 24 – Januari – 2017

61 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini