Darimana Asal Mula Penamaan Bulan Ramadhan?

Darimana Asal Mula Penamaan Bulan Ramadhan?

Sobat Rihaal – Tidak terasa yaa bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Apa kabar nih hutang puasa di Bulan Ramadhan sebelumnya? Mudah-mudaha sudah lunas dibayar yaaa.. Lalu pernahkah terlintas di benak sobat tentang kapankah ibadah Puasa Ramadhan mulai diisyaratkan? Bagaimana asal usulnya sampai disebut dengan Ramadhan? Nah, berikut adalah sejarah singkat dari bulan suci nan mulia ini.

Asal Mula Nama Ramadhan

Ada banyak pendapat yang mengatakan tentang penamaan ‘Ramadhan’. Ramadhan adalah “Penghulu Bulan”. Diambil pengertian dari surat Al Baqarah 185 yang artinya “Ramadhan adalah (bulan) diturunkannya Al Qur’an, sebagai panduan umat manusia, juga tanda yang jelas untuk bimbingan dan penilaian (antara benar dan salah). Selanjutnya jika salah, seorang dari kamu mencapai bulan itu maka ia harus berpuasa.”

Pendapat selanjutnya datang dari An-Nawawi dalam kitabnya Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, menyebutkan Ramadhan diambil dari kata ar-Ramd yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan Ramadhan, karena kewajiban puasa di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik.

Sejarah Puasa Ramadhan

Dahulu kala pada awal permulaan Islam, Nabi Muhammad saw terlebih dahulu telah melaksanakan puasa selama 3 hari setiap bulannya sebagaimana diwajibkan dari masa Nabi Nuh a.s. Perubahan kewajiban puasa terjadi saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT yang mewajibkan puasa, dengan firman-Nya:

 

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri temapt tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak mengehdaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S Al-Baqarah 185).

Dengan ayat itu maka Allah mewajibkan berpuasa bagi yang sehat (tidak sakit) dan muqim (tidak dalam perjalanan), dan Allah memberikan keringanan kepada orang yang sakit dan dalam perjalanan, dan membayar fidyah bagi orang tua lanjut usia yang tidak mampu lagi berpuasa. Inilah perubahan dalam sejarah puasa Ramadhan.

 

 

 

sumber: abiummi.com

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Chat di WhatsApp