Berdoalah….Insyallah Pasti Allah Mengabulkannya.

Berdoalah….Insyallah Pasti Allah Mengabulkannya.

Kemarin saya mendapatkan link video tentang surat al-Baqarah: 186. Seketika saya teringat dengan pengalaman saya ketika umrah saya tertunda beberapa tahun lalu. Sedikit kilas balik, waktu itu saya sudah mendaftar umrah dan telah siap segala persiapannya termasuk membayar lunas biaya umrah. Namun Allah berkata lain, padahal umrah kali ini adalah umrah yang saya tunggu-tunggu karena bisa umrah di bulan suci Ramadhan bersama kedua orang tua saya. Ketika mendapat kabar bahwa saya tidak bisa umrah karena alasan tertentu, saya sempat kecewa, akan tetapi lingkungan saya mengajarkan saya untuk tetap bersabardan bertawakkal dalam sebuah penantian. Sehingga yang pada awalnya saya kecewa dan sempat berhenti berharap dan berdoa, akhirnya saya kembali untuk terus meminta dan berdoa. Serta tetap berharap dan bersabar dalam penantian nikmat dan karuniaNya. Satu tahun kemudian, meski bukan di bulan Ramadhan dan tidak bersama orang tua, saya mendaftar umrah lagi di travel yang berbeda. Akan tetapi, berkunjung ke Haramain belum menjadi rizki saya. Tahun berikutnya pun saya coba kembali pada travel yang berbeda pula, namun lagi-lagi umrah belum menjadi rizki saya tahun itu.

Apakah saya berhenti berdoa? Tentu tidak!. Saya tetap meminta dan memohon kepada sang Maha Punya. Pada Akhirnya, di tahun 2016. Saya dikabarkan saya telah didaftarkan oleh orang tua saya umrah bersama keluarga di tahun 2017. Tak hanya terdaftar sebagai calon jemaah umrah. Melainkan telah lunas segala pembayarannya. Apakah ini kabar gembira yang Allah berikan kepada orang-orang yang sabar, yang Allah firmankan pada surat al-Baqarah: 157.? Wallahu a’lam. Tapi saya berhusnuzan bahwa Allah Maha Baik.

Ketika kita berdoa dan doa yang kita panjatkan tak kunjung dikabulkan. Bersabarlah!!! karena Allah lebih tahu apa yang terbaik buat hambaNya. Demikianlah yang terjadi pada saya. Ketertundaan keberangkatan umrah saya beberapa kali, telah digantikan oleh Allah dengan sesuatu yang lebih indah, yaitu dengan memberangkatkan saya umrah dengan seluruh keluarga saya. Demikianlah sepenggal kisah saya tentang Doa, Usaha, dan Tawakal serta bersabar.

Berikut adalah penjelasan surat al-Baqarah: 186.

Apa sih isi bunyi ayat ini? Apa sih artinya? Dan apa makna yang terkandung di dalamnya? Yuk kita simak!

 

Ayat ini berbunyi

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya (meminta/ berdoa) kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Pada awal ayat ini, Allah menggunakan kata “idza” yang artinya “ketika”, dan bukan menggunakan kata “in” atau “lau” yang artinya “apabila/jikalau/seandainya”. Kenapa demikian?. Karena ada perbedaan makna di dalamnya (antara kata “idza”, “in” dan “lau”). Yuk kita analogikan, misalnya ada seorang ibu kangen sekali dengan anaknya yaitu seorang tentara yang ditugaskan oleh negara untuk misi perdamaian ke negara lain yang sedang terjadi peperangan. Dan ibu tidak pernah mendapatkan kabar dari anaknya dalam waktu yang cukup lama (katakanlah setahun). Pastinya sebagai seorang ibu mengkhawatirkan anaknya. Lalu ia bernazar: “ketika/kalau anak saya pulang, saya akan bersedekah dengan memotong sapi satu ekor”. kira-kira kata mana (ketika/kalau) yang akan kita pilih? Jika kita dalam posisi si ibu tadi?

Kata “kalau” mengindikasikan adanya dua kemungkinan. Kemungkinan pertama si anak pulang, dan kemungkinan kedua si anak tidak pulang (meninggal). Sedangkan kata “ketika” mengandung kata yang lebih positif yang mengindikasikan bahwa kita masih yakin dan menunggu bahwa sang anak pasti akan pulang. Dan tidak memberikan pemikiran negatif sedikitpun. Demikian lah Allah memandang hambaNya, yakni meyakini dan menununggu hambaNya untuk mengetuk pintuNya (berdoa, memohon, meminta kepada Nya). Subhanallah. Sungguh Maha Besar Cinta dan Kasih SayangNya. Baru satu kata dalam sebuah firmanNya. Allah telah menunjukkan betapa besar KasihNya kepada setiap hambaNya.

Kemudian, pada kata “sa alaka” disini Allah memfirmankan dalam bentuk madhi (past tense/ lampau), kenapa bukan menggunakan “yas aluka” atau dalam bentuk mudhari’ (present/ yang sedang berlangsung dan akan terus berlangsung). Tentu, di sini ada maksudnya. Dan yang dimaksudkan pada ayat ini adalah bahwa cukup sekali saja. Dalam artian, Allah menunggu hambaNya mengetuk pintuNya (berdoa/memohon/meminta kepadaNya) meskipun hanya sekali saja seorang hamba berdoa kepadaNya. Allah tetap menunggu. T_T Astaghfirullah, sungguh tak tau diri, jika kita sebagai hamba yang penuh dosa, dengan segala ketebatasan, masih enggan meminta kepada Sang Maha Punya.

Berlanjut pada kata “ibadi” yang artinya “hamba-hambaKu”, bukan kata “haa ulaa(mereka)” atau “mukminum(orang-orang yang beriman)” atau bahkan pengikut/sahabatmu (pengikut Rosul). Allah bilang dengan jelas “hamba-hambaKu”, ini sebagai bentuk pengakuan kecintaan Allah kepada hamba-hambaNya. Karena Allah menyebutkan diriNya menggunakan kata “Aku” di dalam al-quran hanya pada keadaan sangat marah atau sangat sayang dan ini adalah ayat sayang, sebagaimana kita mengekpresikan pengakuan rasa sayang kepada seseorang dengan menyebut “sayangku, ibuku, bapakku, istriku, suamiku, nengku, kang masku. Dan lain-lain”. Dan Allah bilang “hambaKU, hamba milikKu”. Tidak terbatas pada orang-orang Islam, orang-orang beriman,dan orang-orang bertakwa saja. Melainkan pengakuan kasih sayang yang begitu luas kepada seluruh umat manusia ciptaanNya (hambaNya).

Selanjutnya pada kata “fa inni qoriib” yang artinya maka sesungguhnya Aku selalu dekat. Ini merupakan bukti bahwa Allah yang akan menjawab langsung doa kita, karena Allah Dekat. Kita yang selalu menjauh dariNya, menjauh dari rahmatNya, berpaling dari nikmatNya, dan bahkan melupakanNya. Astaghfirullah al-adhzim.

Kenapa Allah menggunakan kata “qoriib”, padahal Allah mempunyai 99 nama yang baik (asmaul husna), seperti maha mendengar / maha mengetahui?. Karena logikanya. Orang yang dekat mudah diajak ngobrol dan curhat. Dan rasanya pasti beda ketika kita dekat. Sebagaimana perbedaan antara meminta maaf atau meminta tolong secara langsung empat mata (dekat) dengan via telpon atau message. Demikianlah Allah memposisikan diriNya kepada hambaNya. Tak lain, untuk menciptakan kenyamanan kepada hamba-hambaNya.

Setelah itu Allah lanjutkan dengan kata “Ujiibu” asal katanya adalah ajaaba yang artinya “segera Aku jawab”. Allah bilang sendiri “segera” dan Allah menggunakan kata “Aku” (penuh cinta). Kemudian kata “dakwata da’i” yaitu kata tunggal yang berarti “seruan orang yang berdoa”. Kenapa tidak menggunakan kata jamak? Yaitu “seruan/permohonan orang-orang yang berdoa”?. Karena Allah tidak menunggu seseorang buat banyak doa dulu baru dijawab. Bahkan Cuma sekali doa saja dalam setahun ataupun sekali doa seumur hidup Allah tetap akan mengabulkan doa hambaNya. Dan Allah merindukan doa dari hambaNya. Coba kita analogikan di kehidupan kita sehari-hari. Jika  kita ikut mendaftar pada suatu organisasi atau pengajian rutin, tapi kita hanya hadir satu kali atau dua kali dalam setahun, apakah teman yang lain bisa memaklumi? Atau memaafkan?. Saya rasa kita sepakat mengatakan tidak. Bahkan cenderung menganggap kita tidak pernah mendaftar. Ya kan?! Bener kan?!. Tapi Allah tidak. Dia lah Maha Pengasih, dan Maha Pemaaf. Yang penting doa dan ketuk pintuNya. Insyallah dijawab. Kalau belum, sabar!!!. Berbaik sangka kepada Allah, Allah sedang mengajarkan Kesabaran. Dan Allah lebih tahu yang terbaik buat HambaNya. Disini Allahjuga menspesifikasikan hanya orang yang berdoa (seluruh hamba yang berdoa, mau itu muslim atau non, mau itu mukmin atau non, pokoknya seluruh hamba ciptaanNya yang berdoa).

Selanjutnya, kata “idza da’ani” yang artinya “ketika memanggilku/ berdoa”. Pada kata “ketika” mengindikasikan bahwa Allahlah yang mengikuti kemauan kita. padahal kita adalah hambaNya. Coba kita liat di keseharian kita, bos (owner) atau kah karyawan yang nurut?. Misal. Dalam penentuan waktu janjian. Siapa yang biasanya menentukan?. Dan Allah mengikuti kemauan kita kapanpun kita mau berdoa. Bahkan diwaktu yang bukan waktu mustajab. Allah sudah sangat baik kepada kita pada setengah ayat di awal. Fa inni qariib (sungguh Aku dekat), ujiibu dakwah (segera Aku jawab), ad da’i (siapun yang doa(pokoknya hamba Allah)), idza da’ani (kapanpun).

Tapi, Allah hanya minta: “fal yastajiibuu (tidak segera) lii” yang artinya “maka cobalah/usahakan jawab Aku. Yastajiibuu di sini bukan berarti menjawab dengan segera, akan tetapi ada waktu untuk menjawab panggilan. Dan jawabannya pun bisa iya, bisa juga tidak. Di sini juga mengindikasikan bahwa Allah pasti mengabulkan doa orang-orang yang berdoa. Tanpa melihat orang itu bakal nurut sama Allah atau tidak. Mau mengusahakan untuk nurut atau tidak. Intinya, semua dikabulkan selama dia berdoa. Doa itu bisa bentuk permintaan maaf, minta tolong, minta sesuatu, atau curhat.

Dari semua itu, Allah hanya minta dengan kata “wal yu’minuu bii la ‘allahum yarsyuduun” yang artinya berimanlah kepadaKu supaya jadi orang yang lurus/ orang yang benar.

Coba lihat. Bahkan di akhir ayat pun Allah meminta kita untuk nurut dengan “beriman” dan itupun untuk kebaikan kita. Subhanallah.

Jadi…. masih enggak mau berdoa (minta maaf, minta pertolongan, curhat dll) sama Allah nih?????. Dan yakin masih mau berburuk sangka sama Allah?. Astagfirullah.

156 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini