Berakhirnya Kekhilafahan Islam

Berakhirnya Kekhilafahan Islam

Turki Utsmani

Turki Utsmani adalah sebuah negara adidaya pada masanya. Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar Eropa Timur, Timur Tengah dan Afrika Utara. Kekuasan Turki Utsmani juga diakui oleh negara-negara Islam yang letaknya jauh dari Istanbul. Gelar Khalifah yang digunakan oleh penguasa Turki Utsmani dimulai sejak masa kekuasaan Sultan Salim I.

Dalam Sejarah Islam, Turki Utsmani  merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar Islam di masa itu. Dua kerajaan besar Islam lainnya adalah Kerajaan Safawi di Persia dan Kerajaan Mughal di India. Ketiga kerajaan inilah yang menjadi simbol kekuatan Islam yang dominan pada abad pertengahan.

Kekuasaan Turki Utsmani berlangsung selama Tujuh Abad. Terhitung dari mulai didirikannya Turki Utsmani  oleh bangsa Turki dari Kabilah Qayigh Oghuz yang dipimpin oleh Sulaiman Syah, sampai dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1928. Dinasti/ Kesultanan Utsmaniyah terbentuk saat kepemimpinan Utsman I (Osman I), yang merupakan anak dari Erthogrol (Ertugrul Bey / Amir Gazi) dan cucu dari Sulaiman Syah.Sedangkan perkembangannya, dimulai sejak dipimpin oleh Sultan Mehmed II (al-Fatih). Selama tujuh abad yang berlangsung, kekuasaan Turki Utsmani telah dipimpin oleh 38 orang sultan atau Khalifah.

Pada puncak kejayaannya, Kesultanan Turki Utsmani berkuasa mulai dari Hongaria hingga ke bagian utara Somalia di sebelah selatan, dan dari Aljazair di sebelah barat hingga Irak di sebelah timur. Ibukotanya mula-mula adalah Sogut (1299 -1335), kemudian berpindah ke Bursa di Anatolia pada tahun 1335 -1413, kemudian dipindahkan ke Edirne (Adrianopel) pada tahun 1413-1453 dan ke Konstantinopel pada tahun 1453- 1922, setelah jatuhnya KonstantinopelKekaisaran Bizantium.

Peta wilayah kekuasaan turki Utsmani

wilayah kekuasaan turki utsmani sekolah umroh

Berdirinya Turki Utsmani

Turki Utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari Kabilah Qayigh Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan kawasan di Utara negeri China. Kabilah ini dipimpin oleh Sulaiman Syah. Setelah mendapat serangan bangsa Mongol yang berkuasa di Asia Tengah dan Asia Barat, Kabilah ini meninggalkan daerah asalnya menuju Turkistan. Dari turkistan mereka pindah lagi ke Persia dan Irak.

Setelah sekian lama mengembara, Kabilah Qayigh Oghuz akhirnya sampai di sungai Eufrat. Mereka kemudian menyebrang sungai. Dan saat menyebrangi sungai, Sulaiman Syah hanyut terbawa arus dan meninggal. Kejadian ini membuat suku ini terpecah menjadi dua. Sebagian kembali ke daerah asalnya dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan.

Kelompok yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dipimpin oleh Erthogrul, anak Sulaiman Syah. Dan akhirnya mereka pun sampai di Asia Kecil. Ketika berada di dekat Angora , mereka bertemu dengan dua pasukan yang sedang berperang. Mereka adalah bangsa Mongol dan Turki Seljuk. Rombongan yang dipimpin oleh Erthogrul memilih untuk membantu pasukan Turki Seljuk. Berkat bantuan itu, Turki Seljuk berhasil memenangkan peperangan.

Sebagai ucapan terima kasih, Sultan Alaudin, penguasa Turki Seljuk, memberikan sebuah daerah yang berbatasan dengan Bizantium kepada rombongan Erthogrol. Daerah itu adalah bagian dari Iskisyhar, di dekat Bursa. Dari sinilah Turki Utsmani mucul dan kemudian berkembang  menjadi kerajaan besar yang menguasai Eropa Timur, Timur Tengah dan Afrika Utara.

Perkembangan dan Perluasan Turki Ustmani

Setelah Erthogrul meninggal dunia pada tahun 1289, kepemimpinan atas daerah tersebut dilanjutkan oleh putranya, yaitu Utsman. Sebagaimana ayahnya, Utsman pun banyak berjasa kepada Sultan Alaudin. Ia berhasil menduduki benteng-benteng Bizantium yanggg berada di sekitar Bursa. Dan pada tahun 1300, ketika kesultanan Turki Seljuk diserang bangsa Mongol dan terbunuhnya Sultan Alaudin. Utsman menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Dengan demikian, berdirilah Kesultanan Turki Utsmani , dengan Sultan pertamanya, yaitu Utsman (1299- 1326).

Setapak demi setapak Utsman memperluas wilayahnya,  dan pada tahun 1317 berhasil menaklukan Bursa. Yang kemudian kota ini dijadikan sebagai ibukota Turki Utsmani pada tahun 1335. Setelah penaklukan Bursa, Utsman kemudian lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada usaha- usaha untuk memantapkan kekuasaan dan melindungi wilayahnya dari segala macam serangan. Khususnya serangan dari kekaisaran Bizantium yang senantiasa mengancam.  Adapun untuk perluasan wilayah selanjutnya diteruskan oleh putra Utsman yaitu Orkhan.

Pada tahun 1327, Turki Utsmani berhasil menaklukkan  Azumia, Uskandar di tahun 1328, Tasasyani tahun 1330, Ankara tahun 1354, dan Gallipoli tahun 1356. Wilayah ini ditaklukkan dengan terbentukknya pasukan yang tangguh yang disebut Inkisyariah atau Janissari. Perluasan selanjutnya semakin gencar dilakukan pada masa Sultan Murad I (1362- 1389). Perluasan ini telah mencapai wilayah Eropa, Balkan, Adrianopel yang kini bernama Edirne, Makedonia, Sofia (Bulgaria), Salonia, dan seluruh bagian utara Yunani telah berhasil ditaklukkan. Dari keberhasilan inilah kemudian membuat kerajaan-kerajaan Kristen Balkan dan Eropa khawatir. Sehingga mereka bersatu untuk mengumpulkan kekuatan dan menjatuhkan kekuasaan Turki Utsmani.

Meski saat terjadinya penyerangan, kerajaan kristen berhasil membunuh Sultan Murad I, akan tetapi kemenangan berada di pihak Turki Utsmani.  Sepeninggal Sultan Murad I, perluasan wilayah terus dilakukan oleh putranya, yaitu Sultan Bayazid I (1389 -1402). Pada masa ini, Turki Utsmani berhasil merebut benteng Philadelphia dan Gramania atau Kirman (Persia). Dari keberhasilan ini pula, kerajaan Kristen Eropa kembali khawatir. Oleh karena itu Paus menyeru kepada Umat Kristen Eropa untuk mengangkat senjata melawan Turki Utsmani.  Maka terjadilah pertempuran hebat di Nicopolis pada tanggal 25 September 1396. Pada pertempuran ini, Turki Utsmani kembali meraih kemenangan dengan menghancurkan sekutu Kristen Eropa.

Pada tahun 1402, Turki Utsmani kembali diserang oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Timur Lenk. Sultan Bayazid I tewas dalam pertempuran ini. Dan hampir seluruh wilayah Turki Utsmani jatuh ke tangan Timur Lenk. Peristiwa ini membawa dampak buruk dikalangan kekaisaran Turki Utsmani, yaitu dengan terpecahnya putra-putra Sultan. Namun Pada masa pemerintahan Sultan Murad II (1421- 1451), kesultanan Turki Utsmani kembali bangkit. Dan perluasan wilayah kembali dilakukan. Dan diantara wilayah yang dapat ditaklukkan adalah Venesia, Salonika dan Hungaria.

Pada Sultan Berikutnya, yaitu Muhammad II (Mehmed II) yang diberikan gelar al-Fatih, meneruskan penaklukan –penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Murad II. Al-Fatih melakukan ekspansi besar-besaran. Dan kota terpenting yang berhasil ditaklukkan adalah Konstantinopel, yaitu pusat wilayah keagaaman dan peradaban Kristen.  Dengan terbukanya Konstinopel sebagai benteng pertahanan terkuat Kekaisaran Bizantium, langkah Turki Utsmani melakukan Ekspansi ke wilayah Eropa semakin mudah. Bahkan perluasan ini telah mencapai pintu gerbang Wina, Austria.

Perluasan terus dilakukan. Namun, ketika Sultan Salim I (1512 – 1520) naik tahta, ia mengalihkan perhatiannya ke arah timur dengan menaklukkan Persia, Suriah, dan Dinasti Mamluk di Mesir. Dan usaha ini terus dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sultan Sulaiman al-Qonuni (1520-1566). Di tangan kekuasaannya, ia berhasil menaklukkan beberapa wilayah, seperti Irak, Balgrade, Pulau Rhodes, Tunisia, Budapest dan Yaman. Dengan demikian, luas wilayah Turki Utsmani pada masa Sulaiman meliputi Asia kecil, Armenia, Irak, Suriah, Hijaz, dan Yaman di Asia; Mesir, Lybia, Tunisia, dan aljazair di Afrika;serta Bulgaria, Yunani, Yugoslavia, Albania, Hungaria, Dan Rumania di Eropa.

Runtuhnya Turki Utsmani

Namun sepeninggal Sultan Salim I, Turki Utsmani mengalami kemunduran, akibat dari para penerus kekaisaran Turki Utsmani, yang pada umumnya lemah, dan tidak berwibawa. Kondisi Turki Utsmani semakin parah setelah Napoleon I, Jendral dan Kaisar Perancis, berhasil menguasai Mesir pada tahun 1798. Sejak saat itu, Turki dijuluki The Sick Man of Europe (Orang Sakit dari Eropa), karena dari hari ke hari pemerintahannya semakin melemah. Sampai pada akhirnya, kekaisaran Turki Utmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk. Dan memproklamasikan berdirinya Republik Turki Sekuler dan mengakhiri era kekhalifahan dalam Sejarah Islam.

Demikian perjalanan kekhalifahan Islam terakhir di Bumi Istanbul. Buat saudara-saudara yang masih penasaran dengan sejarah-sejarahnya. yuk bareng-bareng kita napak tilas peradaban Turki di Istanbul.  Insyallah kami buka trip Turki dan Umroh plus Turki.

CP:  Ust. Agus Muhammad 0812 2700 8844

193 total views, 3 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini