Alhamdulillah, Bahagianya Bisa Menjadi Tamu Allah

Alhamdulillah, Bahagianya Bisa Menjadi Tamu Allah

Saya Septi Endrasmoro. Usia 31 tahun. Alhamdulillah bisa berangkat umroh trip dadakan 1 April 2018. Sebuah kesyukuran luar biasa bagi saya karena bisa umroh bersama istri dan Ibu. Awal mula bisa ikut umroh dadakan adalah diundang ustadz Agus melalui WA grup untuk bisa merancanag umroh sendiri di tahun 2018. Melalui grup WA diinfokan ada paket dadakan. Akhirnya bismillah niat bisa berangkat umroh untuk tahun 2018. Walau domisili saat itu masih di Pulau Bacan, Halmahera Selatan segala proses bisa dilakukan secara online.

Umroh bersama Rihaal memberikan pengalaman yang berharga mendalam bagi saya. Sejak awal keberangkatan dari Jogja, karena tim handling tidak bisa masuk counter check-in akhirnya beberapa jamaah muda, termasuk saya diminta untuk saling membantu jamaah lain. Trip 1 April ini memang luar biasa, kombinasi jamaah anak-anak, muda, dewasa dan manula. Sehingga memang perlu semangat untuk saling menjaga satu sama lain.

Hal yang paling saya rasakan umroh bersama Rihaal adalah rasa kekeluargaan. Baik sesama jamaah maupun secara pribadi dengan tim manajemen Rihaal. Sebuah kebanggan untuk saya, walau belum banyak berinterkasi dengan tim Rihaal. Di hari pertama keberangkatan diamanahi untuk dapat membantu Tim Leader dan jamaah lain. Sangat nikmat dan merasakan kepuasaan tersendiri bisa ikut membantu jalannya ibadah umroh trip 1 April sehingga ibadah umroh bisa berjalan lancar.

Pengalaman seru.

Pengalaman paling berharga adalah mendampingi Mbah Amad. Jamaah asal Kebumen. Karena factor usia yang sudah sepuh dan berangkat sendiri, beliau memang perlu mendapat perhatian khusus. Trip 1 April ini mengambil miqot di Ya’lamlam sehingga kami harus mengambil miqot di atas pesawat.  Disini dengan keterbatasan dan pengalaman saya, saya memandu mbah Amad memakai ihrom, melafalkan niat dan memberikan arahan apa apa saja yang tidak boleh dilakukan.

Kemudian Soal Mbah Amad ini adalah hilangnya beliau saat tawaf wada. Sejak awal kami sepakat 4 orang (saya, Mas Fian, mas Pur, dan tunjung) saling support untuk menjaga mbah Amad agar tetap aman berada dalam barisan tawaf. Namun di putaran terakhir, Mbah Amad terlepas dan hilang. Kami sempat panik. Namun Allah memberikan pertolongan, telpon ustadz kris bordering. Ada jamaah asal Indonesia menemukan Mbah Amad sudah berda di bukit Safa. Inilah salah satu pentingnya jamaah menggunakan ID card. Sehingga saat terjadi sesuatu, no kontak petugas bisa dihubungi sewaktu-waktu.

Terima kasih Rihaal,

Kami sekeluarga juga sempat merasakan ujian. Ibu saya, sakit saat transit di Malaysia. Sempat dirawat di Klinik dekat hotel namun tidak kunjung membaik. Maagh dan sakit perut yang dirasakan membuat Ibu saya lemas tak berdaya, hingga akhirnya harus kami bawa ke Rumah Sakit. Sempat mersakan khawatir juga, jika harus harus inap karena otomatis nanti kepulangan kami jadi tertunda. Namun Alhamdulillah atas bantuan seluruh tim Rihaal dan RS Kami bisa pulang sesuai jadwal.

 

 

penulis : Septi Endrasmoro

5 total views, 2 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini