Aku Tidak Mau, Hingga Aku Menemanimu Di Surga.

Aku Tidak Mau, Hingga Aku Menemanimu Di Surga.

Ingatkah kita, saat kita memohon, meminta dan bermunajad kepada Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla. Saat di mana pinta kita dipenuhi oleh permintaan duniawi.? Bukankah yang demikian itu mudah bagi-Nya? Padahal, untuk lebih banyak meminta hal yang bersifat ukhrawi pun mudah bagi-Nya.
Namun, tidakkah kita merasa merugi, saat kita hanya mengharap, memohon dan berdoa kepada hal yang hanya bersifat sementara? Tidak kah kita mau untuk berharap, memohon dan berdoa atas sesuatu yang kekal selamanya?
Tidakkah kita lupa? Bahwa dunia hanyalah permainan dan senda gurau semata?. Dan tidakkah kita mengetahui? Bahwa akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya?
Sebagaimana Allah berfirman dalam ayat-ayat-Nya.

وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۖ وَلَلدَّارُ ٱلۡأٓخِرَةُ خَيۡرٞ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٣٢

Artinya: “dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Q.S. Al-An’am: 32)
Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.

وَمَا هَٰذِهِ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا لَهۡوٞ وَلَعِبٞۚ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَ لَهِيَ ٱلۡحَيَوَانُۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ ٦٤

Artinya: “dan Tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (Q.S. Al-Ankabut: 64)

إِنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞۚ وَإِن تُؤۡمِنُواْ وَتَتَّقُواْ يُؤۡتِكُمۡ أُجُورَكُمۡ وَلَا يَسۡ‍َٔلۡكُمۡ أَمۡوَٰلَكُمۡ ٣٦

Artinya: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.” (Q.S. Muhammad: 36)
Demikianlah Allah membimbing kita kepada kehidupan yang lebih kekal. Berkaitan dengan hal akhirat, Ada sebuah kisah yang pernah Rasulullah Saw. kisahkan kepada para sahabatnya. Kisah apa itu?
Diceritakan dalam sebuah riwayat, yang diriwayatkan oleh imam hakim dalam kitabnya al-Mustadrak Imam Hakim.
Dari Abu Musa, bahwa Rasulullah Saw singgah kepada seorang Badui. Oleh Badui Beliau dimuliakan, maka beliau bertanya kepada Badui tersebut, “Wahai badui, katakanlah apa keperluanmu. “Dia (seorang Badui menjawab), Ya Rasulullah Saw, aku butuh seekor unta betina dengan pelananya dan domba betina yang dapat diperah oleh keluargaku.” Hal ini ia ucapkan dua kali.
Lalu, Rasulullah Saw berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak seperti nenek tua Bani Israil?. Para sahabat (yang mendengarnya ) bertanya, “ Ya Rasulullah, Siapa nenek tua Bani Israil itu?”
Rasulullah Menjawab, “Sesungguhnya Musa hendak berjalan membawa Bani Israil, tetapi dia tersesat di jalan. Maka para ulama Bani Israil berkata kepadanya, kami katakan kepadamu bahwa Yusuf mengambil janji-janji Allah atas kami, agar kami tidak pergi dari Mesir sehingga kami memindahkan tulang-tulangnya bersama kami. “ Musa bertanya, “Siapa di antara kalian yang mengetahui kuburan Nabi Yusuf?”
Mereka menjawab, “Yang tahu di mana kuburan Yusuf hanya seorang wanita tua Bani Israil.” Dan Nabi Musa meminta mereka agar didatangkan wanita tua Bani Israil tersebut. Ketika wanita tua itu datang kepada Musa, Musa berkata kepadanya, “Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburan Yusuf.” Wanita itu menjawab, “ Aku tidak mau, kecuali sampai dapat dipastikan aku menemanimu di Surga.” Nabi Musa menyukai permintaannya, maka dikatakan kepada wanita tua Bani Israil tersebut “ Ku kabulkan permintaanmu”.
Kemudian wanita tua itu mengajak Nabi Musa untuk mendatangi sebuah danau dan berkata, “Kuraslah airnya.” Segera dikuraslah air danau tersebut hingga surut. Kemudian wanita itu berkata, “Galilah di sini.” Ketika mereka menggali, mereka mendapatkan tulang-tulang Nabi Yusuf. Dan ketika di angkat ke atas tanah, jalanan langsung terlihat nyata seperti pada siang hari.”
Maksud tujuan Rasulullah menceritakan kisah wanita tua Bani Israil , secara implisit tersampaikan pada hadits di atas. Apalagi saat Rasulullah menanyakan permintaan dari seorang Badui (yang telah memuliakan Rasulullah) yang hanya meminta perkara duniawi bukan ukhrawi. Padahal perkara ukhrawilah yang lebih utama dan kekal.
Pada kisah inilah Rasulullah bermaksud untuk memicu kepada para sahabatnya dan umatnya agar selalu mencari dan mencapai derajat-derajat yang tinggi. Sebagaimana dilakukan oleh wanita tua Bani Israil ketika ia meminta kepada Nabi Musa.
Semoga dengan kisah ini, kita semua dapat mengambil pelajaran untuk tidak lupa akan perkara ukhrawi, dan lebih banyak lagi meminta dan memohon kepada Allah SWT atas perkara yang bersifat ukhrawi. Amiiin

Rihaal Umroh

www.sekolahumroh.com

174 total views, 1 views today

Komentar

Tutup Menu

Assalamualaikum, Silahkan bertanya informasi yang ada perlukan kepada kami.

Dapatkan Info Seputar Umroh Disini